RI Dibayangi Gelombang PHK Industri Padat Karya, Ini Kata Bos Apindo

RI Dibayangi Gelombang PHK Industri Padat Karya, Ini Kata Bos Apindo

Apindo menegaskan belum ada gelombang PHK massal meski industri padat karya terdampak konflik global.

(Bisnis.Com) 10/04/26 16:12 187776

Bisnis.com, JAKARTA — Pelaku usaha, khususnya di industri padat karya, menyampaikan efisiensi operasional sebagai salah satu langkah dalam menghadapi kenaikan harga energi dan bahan baku imbas gejolak geopolitik global. Hal ini memunculkan kekhawatiran akan adanya gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK).

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyatakan bahwa efisiensi operasional memang menjadi garis pertama pertahanan dalam menghadapi lonjakan biaya produksi akibat tekanan global. Namun, Ketua Umum Apindo Shinta Kamdani menegaskan bahwa PHK merupakan opsi terakhir yang dapat ditempuh perusahaan.

“Hingga saat ini, belum terlihat adanya gelombang PHK yang bersifat masif dan sistemik, penyesuaian yang terjadi masih bersifat case by case dan sangat bergantung pada kondisi masing-masing sektor dan perusahaan,” kata Shinta kepada Bisnis, Kamis (9/4/2026).

Dia melanjutkan, dunia usaha tidak bisa mengabaikan adanya sinyal peringatan dini tekanan kinerja sektor padat karya dan industri lain yang sensitif terhadap aspek biaya dan permintaan.

Menurutnya, sejumlah indikator telah menunjukkan pertanda tersebut, misalnya tecermin dari penurunan PMI manufaktur ke level 50,1 pada Maret 2026, terendah dalam delapan bulan terakhir dan mendekati zona kontraksi. Selain itu, terdapat pula koreksi pada Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang turun 1,26 poin menjadi 51,86 pada Maret tahun ini.

“Jika tekanan ini berlanjut dalam jangka panjang, maka risiko terhadap tenaga kerja tentu akan meningkat. Namun demikian, penting untuk digarisbawahi bahwa bagi pelaku usaha, PHK adalah opsi terakhir atau menjadi last resort,” ujarnya.

Shinta kemudian memaparkan bahwa pelaku usaha memiliki komitmen kuat untuk menjaga keberlangsungan usaha sekaligus mempertahankan tenaga kerja sebagai aset produktif.

Hal ini diwujudkan melalui strategi penyesuaian internal seperti peningkatan efisiensi operasional, pengelolaan pipeline proyek secara lebih selektif, hingga penguatan praktik manajemen risiko seperti nilai lindung valuta asing, diversifikasi pemasok, serta pengelolaan struktur biaya dan arus kas secara disiplin.

Sembari berharap tensi konflik di Timur Tengah segera mereda, Apindo menilai langkah pencegahan ke depan akan menjadi sangat krusial.

Menurut Shinta, yang utama saat ini adalah memastikan stabilitas makroekonomi dan daya beli tetap terjaga, sehingga tekanan terhadap dunia usaha tidak semakin dalam. Selain itu, diperlukan ruang kebijakan yang adaptif untuk membantu dunia usaha menjaga likuiditas dan keberlanjutan operasional.

“Dengan demikian, shock absorption capacity dunia usaha dapat diperkuat, dan risiko efisiensi yang merembet ke tenaga kerja dapat ditekan seminimal mungkin,” tegasnya.

#industri-padat-karya #konflik-global #apindo #gelombang-phk #efisiensi-operasional #kenaikan-harga-energi #bahan-baku #gejolak-geopolitik #lonjakan-biaya-produksi #phk-massal #tekanan-global #pmi-manu

https://ekonomi.bisnis.com/read/20260410/12/1965681/ri-dibayangi-gelombang-phk-industri-padat-karya-ini-kata-bos-apindo