Harga Kopi Global Melemah, Negara Produsen seperti Indonesia Bakal Terdampak
Harga kopi global turun tajam, berdampak pada produsen seperti Indonesia. Penurunan harga ini bisa menekan ekspor dan pendapatan petani kopi lokal.
(Bisnis.Com) 12/03/26 13:41 163018
Bisnis.com, JAKARTA — Harga kopi dunia hari ini, Kamis (12/3/2026), tercatat mengalami penurunan tajam di tiga bursa internasional. Tren pelemahan ini berpotensi memberi tekanan pada pasar kopi global, termasuk negara produsen seperti Indonesia.
Melansir situs Vietnam.vn, pada penutupan perdagangan terakhir, harga kopi robusta di bursa London mencatat penurunan tajam. Kontrak Januari 2026 turun sebesar US$112 per ton (sekitar Rp1,89 juta) sehingga harganya menjadi US$3.639 per ton (sekitar Rp61,52 juta).
Sementara itu, kontrak November 2026 juga turun US$121 per ton (sekitar Rp2,05 juta) menjadi US$3.397 per ton (sekitar Rp57,43 juta).
Di bursa New York, harga kopi arabika juga mencatat penurunan tajam di seluruh periode pengiriman. Kontrak Maret 2026 turun sekitar US$0,19 per kg (sekitar Rp3.185) sehingga harganya menjadi sekitar US$6,44 per kg (sekitar Rp108.900).
Sementara itu, kontrak Desember 2026 juga turun sekitar US$0,17 per kg (sekitar Rp2.795) menjadi sekitar US$5,98 per kg (sekitar Rp101.100).
Demikian pula, pada penutupan perdagangan terakhir, harga kopi arabika di bursa Brasil juga mencatat penurunan tajam di seluruh periode pengiriman. Kontrak Maret 2026 turun sekitar US$0,25 per kg (sekitar Rp4.230) sehingga harganya menjadi sekitar US$8,29 per kg (sekitar Rp140.200).
Sementara itu, kontrak pengiriman Mei 2026 juga mengalami penurunan sekitar US$0,24 per kg (sekitar Rp4.060) menjadi sekitar US$7,50 per kg (sekitar Rp126.800).
Tren pelemahan harga kopi di pasar global ini berpotensi berdampak pada negara produsen, termasuk Indonesia, yang selama ini menjadi salah satu pemasok kopi utama di pasar internasional.
Berdasarkan data Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), Indonesia merupakan produsen kopi terbesar ketiga di dunia setelah Brasil dan Vietnam, dengan produksi mencapai 765 ribu ton pada 2023. Sebagian produksi tersebut diekspor ke berbagai negara.
Pada 2022, volume ekspor kopi Indonesia tercatat mencapai 437,56 ribu ton dengan nilai ekspor sebesar US$1,148 miliar (sekitar Rp19,41 triliun). Adapun negara tujuan utama ekspor kopi Indonesia adalah Amerika Serikat, diikuti India, Mesir, dan Jerman.
Dengan berkembangnya kopi sebagai komoditas global, fluktuasi harga di pasar internasional turut memengaruhi volume maupun nilai ekspor kopi Indonesia. Berdasarkan analisis LPEM FEB UI, volume ekspor kopi Indonesia telah meningkat sejak 2019, sementara nilai ekspornya mulai menunjukkan kenaikan sejak 2021.
Peningkatan tersebut juga mulai dirasakan oleh petani di berbagai daerah sentra produksi kopi. Sepanjang semester pertama 2024 misalnya, harga kopi di sejumlah wilayah seperti Merbabu, Bengkulu, dan Lawu tercatat mengalami kenaikan, sehingga memberikan tambahan pendapatan bagi petani.
Namun, jika melihat kondisi saat ini ketika harga kopi dunia terus mengalami penurunan, nilai ekspor kopi Indonesia berpotensi ikut menurun. Dampak ini juga bisa dirasakan langsung oleh para petani. Pasalnya, harga kopi di dalam negeri umumnya mengikuti tren harga pasar global. Ketika harga dunia turun, harga yang diterima petani di tingkat lokal juga cenderung ikut melemah.
Jika tren tersebut berlanjut, pendapatan petani berisiko menurun sehingga dapat memengaruhi kesejahteraan mereka. Dalam jangka panjang, kondisi ini bahkan dapat mendorong sebagian petani mengurangi perawatan kebun atau beralih ke komoditas lain yang dianggap lebih menguntungkan. Pada akhirnya, penurunan ini berpotensi memengaruhi keberlanjutan produksi kopi nasional di masa depan. (Putri Astrian Surahman)
#harga-kopi #kopi-global #kopi-robusta #kopi-arabika #bursa-kopi #harga-kopi-dunia #produsen-kopi #ekspor-kopi-indonesia #pasar-kopi-internasional #tren-harga-kopi #penurunan-harga-kopi #dampak-harga-k