Gejolak Global Pengaruhi Perilaku Konsumsi Masyarakat RI? Begini Penjelasan Ekonom

Gejolak Global Pengaruhi Perilaku Konsumsi Masyarakat RI? Begini Penjelasan Ekonom

Gejolak global memicu masyarakat Indonesia lebih berhati-hati dalam konsumsi, menurunkan porsi belanja dan meningkatkan tabungan, meski pendapatan membaik.

(Bisnis.Com) 10/03/26 14:45 160514

Bisnis.com, JAKARTA — Rentetan kejadian geopolitik yang meningkatkan ketidakpastianekonomi global belakangan dinilai mulai memaksa masyarakat Indonesia mengubah perilaku konsumsinya, yang belakangan tampak lebih berhati-hati.

Berdasarkan data Survei Konsumen BI Februari 2026, rata-rata porsi pendapatan masyarakat yang digunakan untuk konsumsi turun ke level 71,6%. Angka ini merosot dibandingkan posisi bulan sebelumnya yang masih mencatatkan angka 72,3%.

Bahkan, jika ditarik data historis lebih jauh ke belakang maka level 71,6% itu merupakan rekor terendah baru sejak Desember 2020 atau enam tahun lalu, yang mana porsi konsumsi sempat menyentuh 69,0% akibat hantaman pandemi Covid-19.

Penurunan porsi belanja ini diikuti peningkatan alokasi pendapatan yang dialihkan untuk tabungan. Data BI menunjukkan, proporsi pendapatan yang disimpan (tabungan) pada Februari 2026 ada di level 17,7%, naik dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 16,5%.

Menariknya, sejalan dengan penurunan porsi uang belanja masyarakat, data historis pendapatan masyarakat untuk ditabung di level 17,7% itu menjadi yang tertinggi sejak Desember 2020. Saat itu, proporsi pendapatan untuk tabungan mencapai 20,8%.

Strategic Research Manager Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet membedah, tren menahan belanja ini bersumber dari melemahnya Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) yang anjlok cukup tajam dari level 138,8 menjadi 134,4.

Dia menjelaskan, IEK menunjukkan masyarakat masih optimistis, tetapi tingkat keyakinan mereka terhadap kondisi ekonomi ke depan mulai sedikit terkoreksi.

"Hal ini bisa mencerminkan meningkatnya kehati-hatian masyarakat di tengah ketidakpastian global yang masih berlangsung serta tekanan daya beli yang belum sepenuhnya mereda di sebagian kelompok," ungkap Yusuf kepada Bisnis, Selasa (10/3/2026).

Di tengah ekspektasi masa depan yang meredup, Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) justru menanjak dari 115,1 menjadi 115,9. Yusuf mencatat, seluruh komponen pembentuk IKE mengalami peningkatan, mulai dari persepsi terhadap penghasilan saat ini, ketersediaan lapangan kerja, hingga pembelian barang tahan lama.

Menurutnya kondisi tersebut mengindikasikan bahwa sebagian rumah tangga merasakan adanya perbaikan ekonomi dalam jangka pendek. Hanya saja, rasio konsumsi yang turun dan rasio tabungan yang naik justru membuktikan bahwa tambahan penghasilan tidak mengalir ke sektor riil melalui belanja.

"Fenomena ini menunjukkan bahwa meskipun penghasilan dirasakan membaik, sebagian masyarakat justru memilih menahan konsumsi dan memperbesar tabungan. Dari perspektif ekonomi, perilaku finansial yang lebih prudent ini sering kali mencerminkan adanya antisipasi terhadap ketidakpastian ke depan," jelasnya.

Pemulihan Belum Inklusif

Lebih lanjut, analisis Yusuf menyoroti jurang optimisme yang masih lebar antar-kelompok pendapatan. Kelompok masyarakat dengan pengeluaran di atas Rp5 juta per bulan mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) tertinggi sebesar 129,2.

Perkembangan tersebut, sambungnya, menunjukkan kelompok menengah atas relatif jauh lebih percaya diri dalam menatap kondisi ekonomi. Sebaliknya, kelompok berpendapatan lebih rendah cenderung sangat sensitif terhadap fluktuasi harga kebutuhan pokok dan ketidakpastian di pasar kerja.

"Ini mengindikasikan bahwa pemulihan kepercayaan konsumen belum sepenuhnya inklusif dan masih cukup bertumpu pada kelompok menengah atas," ujar Yusuf.

Ke depan, Yusuf memperingatkan bahwa tren penurunan IEK harus menjadi alarm peringatan bagi pemerintah. Pasalnya, ekspektasi konsumen adalah indikator awal bagi pergerakan konsumsi rumah tangga yang merupakan motor utama pertumbuhan ekonomi domestik.

Jika tren pelemahan ekspektasi ini berlanjut maka masyarakat berisiko menahan belanja lebih jauh dan memperlambat laju pertumbuhan konsumsi nasional. Meskipun secara keseluruhan IEK masih berada di zona optimistis (di atas 100), keyakinan tersebut tidak lagi sekuat awal tahun.

"Bagi pembuat kebijakan, ini menjadi pengingat bahwa menjaga daya beli masyarakat, khususnya kelompok menengah bawah, tetap menjadi faktor kunci agar optimisme tersebut tidak terus tergerus dalam beberapa bulan ke depan," tutupnya.

#konsumsi-masyarakat #ketidakpastian-ekonomi #perilaku-konsumsi #survei-konsumen-bi #porsi-pendapatan #alokasi-pendapatan #indeks-ekspektasi-konsumen #indeks-kondisi-ekonomi #daya-beli-masyarakat #pemu

https://ekonomi.bisnis.com/read/20260310/9/1959307/gejolak-global-pengaruhi-perilaku-konsumsi-masyarakat-ri-begini-penjelasan-ekonom