AI Jadi Host Live Shopping E-Commerce: Transformasi atau Krisis Pekerjaan?
Fenomena host live e-commerce berbasis AI jadi perbincangan hangat. Apakah ini ancaman bagi tenaga kerja atau peluang baru?
(Kompas.com) 12/02/26 19:13 134989
JAKARTA, KOMPAS.com - Fenomena host live shopping e-commerce berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) ramai jadi perbincangan di jagat media sosial.
Fenomena live e-commerce yang dipandu AI ini disebut menjadi gebrakan di dalam dunia marketing, tetapi tak sedikit yang mengatakan ini dapat menjadi ancaman bagi tenaga kerja terlatih.
Pengamat Ekonomi Digital sekaligus Ketua Komisi Komunikasi dan Edukasi Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) Heru Sutadi mengatakan, fenomena host live shopping e-commerce berbasis AI menunjukkan transformasi produksi konten yang makin efisien.
FREEPIK/FREEPIK Ilustrasi live shopping, mempromosikan produk lewat live streaming.Teknologi ini memungkinkan avatar atau manipulasi suara sehingga tampil seolah berbicara langsung.
"Di Indonesia, sebagian pelaku sudah mulai bereksperimen, terutama untuk menekan biaya talent, produksi, dan memungkinkan siaran 24/7," kata dia kepada Kompas.com, Kamis (12/2/2026).
Ia menambahkan, dampak ekonomi secara nyata dari fenomena ini meliputi terjadinya efisiensi operasional, skalabilitas tinggi, dan potensi peningkatan margin.
Namun demikian, adopsi dari teknologi ini masih berada di tahap uji coba dan belum menggantikan host manusia sepenuhnya.
"Sebab AI sekarang masih terkendala interaktivitas, sehingga manusia dan cara manusiawi masih lebih disukai masyarakat," ucap dia.
Fenomena host live e-commerce berbasis AI dari sisi marketing
KOMPAS.com/Wayan Adhi Direktur Eksekutif ICT Institute, Heru SutadiHeru menjabarkan, dari perspektif ilmu marketing, efektivitas dari pelaksanaan host live e-commerce berbasis AI bergantung pada strategi.
Akal imitasi ini memang diakui unggul dalam hal konsistensi, personalisasi pesan, dan respons cepat berbasis data.
Menurut Heru, ini bisa meningkatkan tingkat interaksi (engagement) dan frekuensi tayang.
Namun demikian, keputusan beli penonton tetap dipengaruhi kepercayaan dan kedekatan emosional.
Pasalnya, ketika AI terasa kaku atau tidak otentik, efektivitasnya akan menurun.
"Jadi, AI lebih tepat dilihat sebagai penguat strategi, bukan pengganti total interaksi manusia," ucap dia.
Dampak AI pada strategi marketing perusahaan
Lebih lanjut, Heru bilang, fenomena host live e-commerce berbasis AI akan berdampak negatif dengan risiko turunnya kepercayaan jika audiens merasa tertipu atau tidak diberi tahu bahwa konten menggunakan AI.
Selain itu, ada juga isu etika, manipulasi visual, dan potensi pengurangan lapangan kerja.
Hal di atas dapat diminimalisir dengan cara transparansi penggunaan AI, pedoman etika industri, serta kombinasi AI dan host manusia.
"Regulasi dan literasi digital publik juga penting agar inovasi tetap menjaga integritas pasar," ucap dia.
Pengaruh AI terhadap pola marketing perusahaan
Heru mengungkapkan, saat ini perubahan utama yang terjadi di banyak perusahaan adalah perilaku konsumen yang semakin digital dan mengambil keputusan berdasarkan oleh data.
SHUTTERSTOCK/CHAY_TEE Ilustrasi berjualan di platform e-commerce melaui fitur Live Shopping.Akal imitasi memengaruhi keputusan, pengalaman, dan ekspektasi pelanggan.
Dengan demikian, brand bersaing bukan hanya pada produk, tetapi pada kepercayaan dan pengalaman berbasis teknologi.
AI mengubah cara brand untuk memahami pelanggan, berinteraksi, hingga mengambil keputusan.
"Brand leader hari ini adalah pemimpin dengan teknologi, empati, dan nilai," terang dia.
AI jadi host live e-commerce hanya tren sesaat
Pengamat Bisnis & Pemasaran Managing Partner Inventure Yuswohady berpandangan, fenomena host live e-commerce berbasis AI hanya akan berjalan dalam waktu yang tidak lama. "Jadi customer itu nanti atau marketer itu akan dihadapkan pada viralitas yang umurnya pendek gitu," ujar dia ketika dihubungi Kompas.com.
Yuswohady bilang, tren ini akan cepat berganti.
Bahkan ia memproyeksikan tren ini hanya akan bertahan dalam ukuran minggu hingga bulan. "Setelah itu sudah obsolete gitu," ungkap dia.
Setelah itu, Yuswohady bilang, para marketer akan mencari inovasi lain sebagai pembeda. "Yang pertama selalu viral, lalu (menyebabkan FOMO, nanti itu jadi biasa. Nanti muncul kreativitas baru lagi. Yang pertama pasti takjub," ungkap dia.
Ada risiko menyalahi hukum hak cipta
Yuswohady menuturkan, fenomena live e-commerce berbasis AI ini juga berpotensi untuk melanggar etika hingga hukum terkait hak cipta.
Misalnya sebuah brand dapat membuat video AI seolah-olah artis yang sedang mempromosikan produknya.
Dok. Shutterstock Ilustrasi live selling.Hal ini tentu saja menyalahi hak cipta.
"Itu akan ada kreativitas yang menabrak hukum. Secara legal tidak benar karena melanggar hak orang, tetapi ada yang di dalam koridor masih oke," ucap dia.
Di sisi lain, AI memang punya keunggulan untuk menekan pengeluaran sebuah perusahaan dalam promosi dan marketing.
Diferensiasi jadi kunci marketing
Yuswohady menyampaikan, pada dasarnya akal imitasi mampu menghasilkan sesuatu yang tidak terbatas.
Dalam dunia marketing, yang menjadi perhatian utama dari konsumen adalah adanya kreativitas.
AI memang mampu menyediakan peralatan yang membuat kreativitas menjadi lebih luas.
Sementara itu, dalam strategi marketing, diferensiasi akan membuat sebuah brand dilirik oleh konsumen.
Berdasarkan proyeksinya, fenomena live e-commerce berbasis AI ini dapat diikuti oleh seluruh orang di dunia ini dalam hitungan bulan.
Dengan demikian strategi marketing ini tidak memiliki diferensiasi lagi.
"Jadi strategi marketing itu intinya diferensiasi. Jadi kalau (misalnya) semuanya bisa nulis dengan bagus, tulisan bagus kan jadi biasa, jadi komoditas namanya," ucap dia.
Sebagai informasi, ramai di media sosial sebuah video yang menampakkan seorang host live e-commerce yang tengah melakukan live dengan memegang produk, tetap tidak berbicara.
Video yang sama kemudian menunjukkan bahwa tayangan tersebut memunculkan video orang yang sama tetapi menunjukkan gestur bicara lengkap dengan suara yang diduga diproses menggunakan AI.
Dari tulisan teks yang muncul di video tersebut, diperkirakan fenomena tersebut terjadi di China.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang#dampak-ekonomi #live-shopping #strategi-marketing #artificial-intelligence #live-e-commerce