Baja RI Kalah Saing dengan Produk Impor, Ini Biang Keroknya
Industri baja nasional tertekan dengan gempuran produk baja impor murah. Teknologi usang jadi salah satu penyebab produk baja RI kalah saing.
(Bisnis.Com) 04/02/26 12:49 125245
Bisnis.com, JAKARTA— Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengungkap sederet tantangan yang menjadi biang kerok tekanan terhadap industri baja nasional, mulai dari membanjirnya produk impor murah hingga ketertinggalan teknologi pabrik dalam negeri.
Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza mengatakan, banjir produk baja impor murah menyebabkan produksi nasional tidak optimal terserap untuk konsumsi domestik.
Berdasarkan data World Steel Association, produksi baja kasar dunia pada 2025 mencapai 1,849 miliar ton. China masih menjadi produsen terbesar dengan porsi 51,9% atau sekitar 960,8 juta ton, disusul India sebesar 164,9 juta ton atau 8,9%.
“Kita di Indonesia menempati peringkat ke-13 di mana produksi pada tahun 2025 baja kasar sebesar 19 juta ton atau meningkat dibandingkan tahun 2024 sebesar 18,6 juta ton,” ujar Faisol dalam RDP Komisi VI DPR RI, Rabu (4/2/2026).
Di dalam negeri, struktur konsumsi baja masih didominasi sektor konstruksi yang menyerap 77,1% dari total konsumsi nasional. Sektor otomotif menyusul dengan kontribusi 11,6% dan peralatan rumah tangga 3,3%.
Kondisi ini membuat permintaan baja sangat bergantung pada laju pembangunan infrastruktur dan properti.
“Sebagian besar produsen baja nasional masih berfokus pada kebutuhan sektor konstruksi dan infrastruktur. Padahal sektor-sektor lain seperti otomotif, perkapalan, alat berat, dan rumah tangga juga makin lama makin berkembang dan membutuhkan baja nasional kita sebagai bahan baku,” ujarnya.
Tantangan lain datang dari sisi hulu produksi. Banyak fasilitas produksi baja nasional yang telah berumur, dengan teknologi yang relatif tertinggal dan belum sepenuhnya ramah lingkungan.
Hal tersebut berdampak pada kualitas produk serta tingginya biaya produksi sehingga semakin menyulitkan produsen dalam bersaing dengan baja impor dari sisi harga maupun mutu.
Industri baja juga menghadapi beban biaya energi dan logistik yang relatif tinggi di dalam negeri. Pada saat yang sama, harga baja impor yang murah di pasar domestik menambah tekanan terhadap produk baja nasional dan menekan margin pelaku industri.
Untuk menjawab berbagai tantangan tersebut, pemerintah menyiapkan langkah penyelamatan industri baja nasional. Upaya tersebut antara lain melalui perlindungan dari praktik perdagangan tidak adil, percepatan adopsi teknologi ramah lingkungan, penerapan SNI wajib untuk baja hilir, serta penguatan investasi di sektor hulu baja kasar.