Duh! Banyak Pabrik Baja Terancam Kolaps Susul Krakatau Osaka Steel
Pabrik baja Indonesia terancam kolaps hingga menutup bisnisnya seperti yang dilakukan Osaka Steel akibat penurunan permintaan dan masuknya baja impor murah.
(Bisnis.Com) 30/01/26 14:48 119847
Bisnis.com, JAKARTA — The Indonesian Iron and Steel Association (IISIA) menyebut gelombang penutupan operasional pabrik baja telah terlihat sejak tahun lalu. Awal tahun ini, usaha patungan Osaka Steel Ltd. dengan PT Krakatau Steel (Persero), PT Krakatau Osaka Steel juga tak bisa bertahan.
Direktur Eksekutif IISIA Harry Warganegara mengatakan fenomena yang dialami KOS bukan kasus yang berdiri sendiri. Pasalnya, beberapa perusahaan baja nasional juga menghadapi tekanan yang relatif serupa.
“Salah satu contohnya adalah PT Ispat Indo, yang memiliki kapasitas produksi sekitar 700.000 ton per tahun dan menyerap kurang lebih 700 tenaga kerja, yang secara resmi menghentikan operasional pabriknya pada 25 Agustus 2025,” kata Harry kepada Bisnis, Jumat (30/1/2026).
Dia menerangkan bahwa penyebab kondisi ini tak lain karena pelemahan pasar baja domestik, yang dipengaruhi oleh menurunnya permintaan serta masuknya produk baja impor dengan harga murah.
Alhasil, sederet tantangan tersebut menyebabkan tingkat utilisasi pabrik berada pada level rendah dalam jangka waktu yang cukup panjang.
“Kondisi ini berdampak pada melemahnya daya saing industri baja nasional, terganggunya
keberlanjutan investasi, stabilitas operasional perusahaan, serta meningkatnya risiko PHK,” tuturnya.
Dalam hal ini, pihaknya menilai diperlukan dukungan kebijakan yang lebih terukur untuk menjaga keseimbangan antara perlindungan industri dalam negeri dan kelancaran pasokan bagi industri hilir.
Utamanya, upaya untuk menutup celah impor yang berpotensi menggerus pasar domestik, sekaligus memastikan kebutuhan bahan baku dan produk baja tetap terpenuhi.
Harry juga menyebutkan beberapa hal yang dapat menjadi langkah perbaikan industri, yaitu penerapan perizinan impor berbasis pada ketersediaan dan kapasitas produksi dalam negeri.
“Sehingga impor hanya dibuka untuk produk yang belum atau belum mencukupi diproduksi di Indonesia,” tuturnya.
Sementara itu, untuk produk yang telah tersedia secara memadai di dalam negeri, izin impor disebut perlu dibatasi melalui pengaturan kuota atau spesifikasi tertentu, disertai kewajiban pemenuhan SNI serta pengawasan yang lebih ketat melalui verifikasi teknis dan sistem ketertelusuran (traceability).
“Pendekatan ini diharapkan dapat menciptakan iklim usaha yang lebih sehat, menjaga keberlanjutan industri baja nasional, serta tetap mendukung kebutuhan sektor pengguna baja,” jelasnya.
Untuk diketahui, Osaka Steel mengumumkan penghentian operasi Krakatau Osaka Steel (KOS) lantaran terus mengalami kerugian sejak 2022, meski sempat mencatatkan laba pada 2021.
Kondisi tersebut diperparah dengan kebijakan pemerintah Indonesia yang secara signifikan mengurangi anggaran infrastruktur pada awal 2025. Efisiensi anggaran pemerintah menyebabkan permintaan baja turun tajam.
"Akibatnya, volume penjualan mengalami penurunan signifikan dan di tengah meningkatnya persaingan, margin keuntungan pun menyusut. Kondisi ini menyebabkan FCF [free cash flow] struktural terus berada pada posisi negatif sehingga kami melakukan peninjauan menyeluruh terhadap kelangsungan usaha KOS," ujar Direktur Utama dan Presiden Osaka Steel Junichi Tani dalam pengumuman resmi.
Tani mengatakan, sulit bagi perusahaan untuk memperoleh pendapatan yang stabil melalui kelanjutan usaha KOS. Oleh karena itu, Osaka Steel telah memutuskan untuk menarik diri dari bisnis di Indonesia dan menghentikan kegiatan usaha KOS.
Sementara itu, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. (KRAS) memastikan mundurnya Osaka Steel Co., Ltd dari operasional anak perusahaan tekonsolidasinya di Indonesia, PT Krakatau Osaka Steel, tidak memberikan dampak signifikan terhadap kinerja usaha perusahaan keseluruhan.
Corporate Secretary (Corsec) Fedaus mengatakan KRAS hanya memegang saham minoritas atau sebesar 14% dari perusahaan patungan tersebut, sedangkan 86% saham dimiliki oleh Osaka Steel sendiri.
"Jadi kami tidak merasa sedemikian terdampak yang signifikan terhadap kinerjanya KRAS karena kita kan hanya sebagian kecil," kata Fedaus saat dihubungi Bisnis, Kamis (29/1/2026).
Krakatau Osaka Steel (KOS) merupakan perusahaan patungan Osaka Steel dengan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. (KRAS) yang beroperasi komersial sejak 2017. Adapun, perusahaan tersebut KOS memasok baja profil kecil hingga menengah serta baja tulangan, terutama ke pasar domestik.
#pabrik-baja #osaka-steel #krakatau-steel #krakatau-osaka-steel #industri-baja #pasar-baja-domestik #produk-baja-impor #daya-saing-industri #investasi-industri-baja #kebijakan-impor-baja #permintaan-ba