Core Soroti Proyek Peternakan Ayam Rp20 Triliun Danantara untuk Kebutuhan MBG

Core Soroti Proyek Peternakan Ayam Rp20 Triliun Danantara untuk Kebutuhan MBG

Core mengkritik rencana pemerintah membangun 12 pabrik peternakan ayam senilai Rp20 triliun yang pendanaannya berasal dari Danantara.

(Bisnis.Com) 27/01/26 21:05 116266

Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah berencana membangun 12 unit pabrik peternakan ayam pedaging dan petelur dengan total nilai investasi mencapai Rp20 triliun.

Pendanaan proyek tersebut akan berasal dari BPI Danantara dan ditujukan untuk mendukung pemenuhan kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Adapun, groundbreaking proyek dijadwalkan berlangsung pada 28 Januari 2026.

Center of Reform on Economics (Core) Indonesia menilai proyek tersebut perlu dirancang dengan skema yang tepat agar tidak menimbulkan distorsi baru di sektor peternakan, mengingat kondisi pasokan ayam dan telur di dalam negeri saat ini berada dalam posisi surplus.

Pengamat Pertanian dari Core Indonesia Eliza Mardian mengatakan bahwa Indonesia sejatinya tidak mengalami kekurangan suplai ayam maupun telur jika dilihat dari neraca pangan nasional.

Pada 2025, kebutuhan ayam diproyeksikan mencapai 3,86 juta ton, sedangkan potensi produksinya sekitar 4,1 juta ton sehingga berada dalam kondisi surplus.

Kondisi serupa juga terjadi pada komoditas telur, dengan kebutuhan sepanjang 2025 diperkirakan sebesar 6,2 juta ton dan potensi produksi mencapai 6,5 juta ton.

Menurut Eliza, persoalan utama di sektor ayam dan telur bukan terletak pada kapasitas produksi, melainkan pada distribusi yang belum merata.

“Yang menjadi soal adalah terkait distribusi yang menyebabkan fluktuasi harga serta disparitas harga antar daerah. Ada daerah yang jadinya harga telur dan ayam naik, karena mayoritas produksinya di Pulau Jawa,” kata Eliza kepada Bisnis, dikutip pada Selasa (27/1/2026).

Eliza menjelaskan, ketika pasokan ayam dan telur didistribusikan ke daerah lain, terutama di luar Pulau Jawa, tingginya biaya logistik membuat harga menjadi lebih mahal di tingkat konsumen.

Selain persoalan distribusi, Eliza juga menyoroti struktur pasar ayam dan telur yang masih bersifat oligopolistik. Dia menuturkan, hanya 2–3 perusahaan besar menguasai hampir 80% dari total volume perdagangan, sehingga memiliki peran dominan dalam menentukan harga di tingkat konsumen.

“Kerap kali harga di level peternak ini relatif stagnan, karena harga ditentukan oleh off-taker yang merupakan perusahaan itu. Pola kemitraan selama ini cenderung membuat petani berada pada posisi daya tawar yang lemah,” ujarnya.

Lebih lanjut, Eliza menilai, meski tanpa pembangunan 12 unit peternakan ayam, Indonesia secara perhitungan masih berada dalam kondisi surplus.

Namun, investasi ini bisa menjadi angin segar bagi peternak kecil karena pemerintah ingin menambah penerima MBG, mengimbangi peran swasta dalam penyediaan pangan, serta meningkatkan kapasitas peternak kecil.

Menurutnya, investasi senilai Rp20 triliun tersebut akan efektif jika mekanisme penyalurannya benar-benar berpihak pada peternak mandiri.

“Investasi Rp20 triliun untuk peternakan ini akan baik jika betul-betul mekanismenya untuk memperkuat para peternak mandiri, bukan semakin memperkuat perusahaan yang menguasai rantai pasok ayam dan telur,” terangnya.

Dia menilai pemerintah ingin mengimbangi dominasi perusahaan swasta agar harga ayam dan telur di pasaran lebih stabil sekaligus mendorong pemerataan produksi.

Di samping itu, sambung dia, kesejahteraan peternak dapat meningkat apabila skema investasi dirancang secara tepat, salah satunya melalui koperasi peternak. Salah satunya melalui koperasi.

Dalam hal ini, peternak dikumpulkan dalam kelompok, diberikan modal, transfer teknologi dan informasi, serta dibangun rantai pasok yang efisien dari pakan hingga penjualan ayam dan telur.

Selain itu, sambung dia, peternak juga mendapat pelatihan manajemen sesuai standar nasional, pendampingan, dan kepastian off-taker.

Dia menambahkan, jika skema tersebut dijalankan dengan baik, investasi akan berdampak positif bagi peternak lokal.

Namun, Eliza mengingatkan risiko apabila mekanisme penyaluran investasi justru memperkuat dominasi perusahaan besar.

“Kalau mekanisme penyaluran investasinya keliru dan justru memperkuat dominansi perusahaan-perusahaan yang menguasai rantai pasok ayam dan telur, investasi Rp20 triliun ini tidak akan begitu banyak mengubah dan memperbaiki nasib peternak lokal kita,” tutupnya.

#peternakan-ayam #peternakan-ayam-danantara #danantara-peternakan-ayam #investasi-peternakan #proyek-peternakan #surplus-ayam #surplus-telur #distribusi-ayam #distribusi-telur #harga-ayam #harga-telur #n-a

https://ekonomi.bisnis.com/read/20260127/12/1947567/core-soroti-proyek-peternakan-ayam-rp20-triliun-danantara-untuk-kebutuhan-mbg