Pengamat Sebut Subsidi ke Bus Listrik Lebih Bermanfaat Dibandingkan Motor dan Mobil
Pengamat transportasi menyarankan subsidi dialihkan ke bus listrik daripada mobil dan motor listrik untuk mengurangi polusi dan kemacetan pada 2026.
(Bisnis.Com) 08/01/26 18:20 97546
Bisnis.com, JAKARTA — Pengamat transportasi mendukung langkah pemerintah menyetop penyaluran subsidi transportasi umum, baik mobil maupun motor listrik pada 2026.
Pendiri Inisiatif Strategis Transportasi (Instran) Darmaningtyas menyampaikan, lebih bijak anggaran triliunan tersebut diperuntukkan bagi bus listrik yang jelas mengurangi polusi dan kepadatan lalu lintas.
“Menyubsidi bus listrik jauh lebih bermanfaat bagi publik daripada mobil dan motor listrik. Memang polusinya berkurang, tetapi kemacetannya bertambah,” ujarnya dalam Diskusi Publik Instran di Skyline Building, Kamis (8/1/2026).
Saat ini pun, jumlah bus listrik masih sangat minim. Mayoritas pun digunakan oleh Transjakarta.
Untuk itu, dirinya berharap pemerintah dapat memberikan subsidi dalam pengadaan bus listrik dan sejalan untuk mendorong penggunaan transportasi umum.
Insentif kendaraan listrik yang dicetuskan sejak awal 2023 tersebut pada akhirnya tak lagi berlanjut pada 2026.
Sebelumnya pemerintah memberikan insentif senilai Rp7 juta rupiah untuk motor listrik, serta pajak pertambahan nilai (PPN) ditanggung pemerintah (DTP) sebesar 10% untuk mobil.
Adapun, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan pemerintah tidak akan melanjutkan insentif kendaraan listrik pada 2026. Anggaran insentif tersebut direncanakan dialihkan untuk mendukung pengembangan program mobil nasional.
Insentif yang dihentikan mencakup fasilitas pembebasan bea masuk impor kendaraan listrik secara utuh atau CBU yang sebelumnya diturunkan dari tarif normal sebesar 50% menjadi 0%.
Sebaliknya, para pelaku bisnis otomotif justru meminta perpanjangan insentif mobil dan motor listrik pada 2026.
Misalnya, produsen mobil listrik asal China, BYD Indonesia meminta pemerintah untuk memperpanjang insentif untuk kendaraan listrik (electric vehicle/EV) pada 2026 mendatang.
Presiden Direktur PT BYD Motor Indonesia Eagle Zhao mengatakan, selama ini penjualan BYD terdongkrak berkat pengaruh dari insentif impor utuh (completely built up/CBU) yang telah diberikan pemerintah, sehingga harga mobil listrik BYD lebih kompetitif.
"Oleh karena itu, di awal tahun 2026 kami juga sangat membutuhkan dukungan dari pemerintah untuk bisa dapat memperpanjang insentif ini," ujar Eagle di Sentul, Bogor, Jawa Barat pada Kamis (11/12/2025).
Produsen motor listrik pun menodong adanya insentif untuk mengejar target ambisius pemerintah yaitu penurunan emisi hingga 31,89% dengan upaya sendiri dan 43,20% dengan bantuan internasional pada 2030.
Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (Aismoli) mengungkapkan, insentif berupa subsidi pembelian motor listrik masih sangat dibutuhkan, terutama untuk mendorong penggunaan kendaraan ramah lingkungan.
Public Relation Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (Aismoli) Riniwaty Sinaga tidak menampik, meskipun tahun ini subsidi motor listrik absen, tetapi penjualan tetap menunjukkan pertumbuhan. Namun, apabila pemerintah ingin mencapai targetnya, subsidi masih perlu dilakukan.
“Kalau ditanya, butuh subsidi enggak? Untuk akselerasi, butuh,” tuturnya dalam diskusi publik MOV-E: Moving Cities the Electric Way di Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta, Sabtu (1/11/2025).
#bus-listrik #subsidi-bus-listrik #transportasi-umum #subsidi-kendaraan-listrik #insentif-kendaraan-listrik #polusi-transportasi #kemacetan-lalu-lintas #pengadaan-bus-listrik #insentif-mobil-listrik #i