Pasar Ritel Mulai Bergeliat: Okupansi Mal di Bali Tembus 85% Kalahkan Jakarta

Pasar Ritel Mulai Bergeliat: Okupansi Mal di Bali Tembus 85% Kalahkan Jakarta

Pasar ritel Bali pulih dengan okupansi mal 85% pada 2025, didorong wisatawan. Jakarta dan Bodetabek tertinggal, masing-masing 75% dan 70%.

(Bisnis.Com) 07/01/26 17:10 96336

Bisnis.com, JAKARTA — Sektor properti ritel di Indonesia menunjukkan sinyal pemulihan yang kian solid sepanjang 2025. Menariknya, kinerja pusat perbelanjaan di Bali justru mengungguli Jakarta dengan tingkat keterhunian (okupansi) yang hampir menyentuh level 85%.

Head of Research Colliers Indonesia Ferry Salanto mengungkapkan bahwa pasar ritel saat ini tengah berada dalam fase evolusi. Meskipun pertumbuhan pasokan baru cenderung terbatas, daya serap pasar tetap terjaga, terutama pada mal kelas atas yang kini bertransformasi menjadi destinasi gaya hidup (lifestyle).

"Kalau kita lihat gambarannya sudah mulai jelas ya, ini [ritel] sektor yang pelan-pelan pulih. Sedangkan yang paling terasa rebound justru di mal kelas atas karena mereka terus menarik brand baru, banyak buka toko besar, konsep selalu di upgrade jadi destinasi lifestyle. " ujar Ferry dalam Media Briefing, Rabu (7/1/2026).

Ferry juga menambahkan bahwa terdapat perubahan perilaku konsumen yang cenderung lebih berfokus pada kebutuhan harian serta makanan dan minuman (F&B) dibandingkan belanja impulsif saat di mal.

Sejalan dengan hal itu, sektor F&B kini menjadi jangkar utama (anchor tenant) untuk mempertahankan trafik pengunjung.

Apabila dibandingkan berdasarkan okupansi, Colliers mencatat tingkat hunian mal di Bali menjadi yang tertinggi dibandingkan kota besar lainnya. Tingkat keterhunian di Bali menyentuh 85%, melampaui Jakarta yang berada di kisaran 75% serta Bodetabek yang tertahan di level 70%.

Kuatnya kinerja di Bali didorong oleh pulihnya arus wisatawan serta terbatasnya pasokan baru sepanjang 2025. Di sisi lain, Jakarta justru menunjukkan koreksi tingkat hunian seiring dengan masuknya tambahan pasokan dari K-Mall di Kemayoran pada kuartal IV/2025.

"Surprisingly tingkat hunian di Bali itu lebih sehat dibandingkan yang lain. Trennya terus naik didorong oleh arus wisatawan yang sudah pulih," imbuhnya.

Sementara itu, di Surabaya, pasar ritel bergerak stabil tanpa adanya tambahan pasokan baru sejak 2025 hingga beberapa tahun ke depan. Pemilik mal di Kota Pahlawan kini lebih fokus pada rotasi penyewa dan memecah ruang besar menjadi lebih fleksibel untuk menarik brand baru, terutama merk asal China dan ekspansi brand dari Jakarta.

Ferry memproyeksikan hingga 2028, tingkat hunian mal di lokasi strategis Surabaya dapat tumbuh sekitar 4% per tahun, sementara Bali akan terus tumbuh seiring kenaikan jumlah wisatawan yang mendorong ekspansi peritel internasional.

Berikut Rincian Kinerja Pasar Retail Berdasarkan Data Colliers:

1.Pasar Retail Bali

Okupansi: 85%
Proyeksi Pasokan Baru 2026-2028: 31.000 meter persegi
Tren Utama: Lifestyle & Tourism, konsep semi-outdoor


2.Pasar Retail Surabaya

Okupansi: 75%
Proyeksi Pasokan Baru 2026-2028: 0 meter persegi
Tren Utama: Fokus pada kebutuhan harian dan konsep healthy lifestyle

3.Pasar Retail Jakarta

Okupansi: 75%
Proyeksi Pasokan Baru 2026-2028: 44.000 meter persegi
Tren Utama: Didorong peritel F&B, Fashion, dan konsep experience-based

4.Pasar Retail Bodetabek

Okupansi: 70%
Proyeksi Pasokan Baru 2026-2028: 133.744 meter persegi
Tren Utama: Fokus pada kebutuhan harian dan konsep healthy lifestyle

#pasar-ritel-bali #okupansi-mal-bali #pusat-perbelanjaan-bali #mal-kelas-atas #destinasi-gaya-hidup #perubahan-perilaku-konsumen #sektor-f-amp-b #tingkat-hunian-mal #arus-wisatawan-bali #pasar-ritel-su

https://ekonomi.bisnis.com/read/20260107/47/1942421/pasar-ritel-mulai-bergeliat-okupansi-mal-di-bali-tembus-85-kalahkan-jakarta