Sinyal Kuat January Effect, IHSG Hampir Tembus 9.000 Usai Menghijau 3 Hari Beruntun
IHSG mencapai rekor tertinggi di awal 2026, mengindikasikan January Effect. Kenaikan 3,32% dalam 3 hari mematahkan tren negatif sebelumnya. Investor disarankan memanfaatkan peluang ini dengan strategi
(Bisnis.Com) 06/01/26 17:52 95313
Bisnis.com, JAKARTA – Kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG) yang kembali mencetak level all time high (ATH) penutupan menjadi sinyal kuat terjadinya January Effect pada 2026.
Pada Selasa (6/1/2026), IHSG kembali menyentuh rekor tertinggi baru setelah ditutup menguat 0,84% atau 74,42 poin ke 8.933,61. Melansir IDX Moblie, pada perdagangan hari ini sebanyak 451 saham ditutup menguat, 269 saham ditutup melemah dan 238 saham tidak berubah. IHSG hari ini bergerak di rentang 8.839,01 sampai 8.940,11.
Sepanjang perdagangan hari ini pasar mencatat transaksi 65,72 miliar saham dengan nilai Rp33,86 triliun. Kapitalisasi pasar saat ini mencapai Rp16.306 triliun.
Tiga hari berturut-turut perdagangan saham awal 2026 ini, IHSG konsisten ditutup di zona hijau. Akumulasi kenaikan IHSG sepanjang 2-6 Januari 2026 sebesar 3,32%.
Performa tersebut menjadi sinyal terjadinya January Effect pada tahun ini, sekaligus mematahkan tren kinerja negatif IHSG pada Januari dalam 2 tahun sebelumnya.
Berdasarkan data Bloomberg, IHSG melemah tipis 0,16% pada Januari 2023 dan minus 0,89% pada Januari 2024. IHSG hanya naik tipis 0,75% pada Januari 2022 setelah terkoreksi 1,95% pada Januari 2021 dan jeblok 5,7% pada Januari 2020.
Sebelumnya, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta Utama menilai momen January Effect sebaiknya dipandang sebagai peluang tambahan, bukan jaminan reli pasar. Menurutnya, pola musiman ini tidak selalu muncul setiap tahun dan sangat bergantung pada kondisi makro serta sentimen global.
“Kendati fenomena January Effect tidak dapat dijamin kepastiannya, investor perlu memandang tren ini sebagai peluang potensial pada awal 2026, alih-alih menjadikannya sebagai satu-satunya strategi andalan dalam portofolio,” ujar Nafan saat dihubungi Bisnis pada Jumat (2/1/2025).
Nafan menjelaskan bahwa secara historis, fenomena January Effect kerap ditopang oleh aksi beli ulang investor setelah tax-loss selling pada Desember, bonus akhir tahun, serta rebalancing portofolio awal tahun. Kondisi ini umum akan memberikan dorongan pada saham berkapitalisasi kecil dan menengah.
Namun, peluang tersebut lebih relevan dibaca dalam konteks fundamental. Inflasi domestik yang masih dalam kisaran target Bank Indonesia (BI) disebut memberikan ruang bagi kebijakan moneter yang lebih akomodatif.
Selain itu, stimulus fiskal pemerintah dan momentum konsumsi awal tahun, termasuk Imlek dan Ramadan, berpotensi menjadi penopang aktivitas ekonomi kuartal I/2026. Faktor ini dapat memperbaiki sentimen pasar secara bertahap.
“Akumulasi saham-saham pilihan dengan prospek yang solid dan gunakan strategi buy on dip. Selain itu, lakukan aksi ambil untung jika diperlukan dan terapkan manejemen risiko secara efektif,” pungkas Nafan.
Terpisah, Customer Engagement & Market Analyst Department Head BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) Chory Agung Ramdhan menyoroti risiko global dan domestik yang mengintai potensi January Effect di lantai bursa.
Dari global, risiko resesi AS, serangan AS ke Venezuela, dan potensi kebijakan tarif perdagangan internasional yang agresif berpeluang menjadi salah satu penghambat reli ini. Sementara dari dalam negeri, likuiditas perbankan yang masih ketat menjadi salah satu tantangannya.
Di tengah kondisi ini, Chory memberikan rekomendasi alokasi aset investasi berupa 60% saham lapis pertama, 30% saham lapis kedua, dan 10% cash. Menurunya, saham lapis pertama yang layak diperhatikan adalah BBCA, BMRI, BBNI, ICBP, hingga CTRA.
Dia juga menyarankan agar investor fokus pada emiten dengan yield dividen tinggi dan pertumbuhan laba yang stabil.
Sementara terhadap saham lapis kedua, sektor teknologi, energi, dan ritel dinilai layak diperhatikan. Beberapa saham seperti PT Petrosea Tbk. (PTRO) dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN).
Saham lapis kedua penting untuk diperhatikan dalam strategi memanfaatkan rotasi sektoral. Terakhir, kas tetap dibutuhkan investor untuk backup terhadap potensi volatilitas awal tahun.
Kinerja Bulanan IHSG pada Januari
| Periode | Level IHSG | Kinerja bulanan |
| Januari 2024 | 7.207,94 | -0,89% |
| Januari 2023 | 6.839,34 | -0,16% |
| Januari 2022 | 6.631,15 | 0,75% |
| Januari 2021 | 5.862,35 | -1,95% |
| Januari 2020 | 5.940,04 | -5,7% |
| Januari 2019 | 6.532,96 | 5,46% |
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
#january-effect #ihsg-2026 #ihsg-all-time-high #ihsg-rekor-tertinggi #ihsg-menguat #ihsg-zona-hijau #ihsg-januari #ihsg-3-hari-berturut #ihsg-8-933 #ihsg-9-000 #ihsg-kapitalisasi-pasar #ihsg-transaksi