Techno9 (NINE) Beberkan Rencana Akuisisi Aset Tambang Poh Group di Mongolia
Techno9 Indonesia (NINE) berencana mengakuisisi aset pertambangan Poh Group di Mongolia yang dapat berdampak signifikan pada investasi masa depan NINE.
(Bisnis.Com) 06/01/26 13:00 94902
Bisnis.com, JAKARTA — PT Techno9 Indonesia Tbk. (NINE) menyampaikan perkembangan terbaru terkait rencana akuisisi aset pertambangan Poh Group di Mongolia yang dimiliki melalui Poh Golden Ger Resources Pte Ltd (PGGR). Aset tersebut direncanakan untuk diinjeksi ke dalam perseroan dan berpotensi berdampak material terhadap rencana investasi NINE ke depan.
Direktur Utama PT Techno9 Indonesia Tbk, Nuzwan Gufron, menyampaikan bahwa PGGR merupakan entitas yang terafiliasi dengan Poh Group melalui pemegang saham pengendali yang sama, yakni Poh Kay Ping, serta memiliki 100% kepemilikan atas dua konsesi pertambangan di Mongolia.
“PT Techno9 Indonesia Tbk telah menandatangani suatu opsi untuk membeli aset-aset pertambangan di Mongolia yang dimiliki oleh PGGR,” ujar Nuzwan dalam keterangannya kepada pemegang saham, dikutip Selasa (6/1/2026).
Namun demikian, pelaksanaan opsi tersebut masih bergantung pada sejumlah persyaratan, antara lain persetujuan pemegang saham, persetujuan regulator termasuk Otoritas Jasa Keuangan dan Bursa Efek Indonesia, penilaian independen oleh dua penilai dari Indonesia dan Australia, kepatuhan terhadap seluruh ketentuan peraturan yang berlaku, serta penandatanganan dokumen transaksi definitif.
Dari sisi operasional, Nuzwan mengungkapkan bahwa PGGR telah menandatangani Framework Agreement for Mining Cooperation dengan kontraktor Engineering, Procurement and Construction + Finance (EPC+F) berskala besar di Mongolia. Kontraktor tersebut merupakan perusahaan privat yang berdomisili di Inner Mongolia, China, berdiri sejak 1998, memiliki lebih dari 1.000 karyawan, serta total aset di atas US$500 juta.
“Entitas EPC+F tersebut menyatakan kesediaannya untuk bekerja sama dengan PGGR (termasuk pihak-pihak terafiliasi seperti Poh Group/PT Techno9 Indonesia Tbk) dalam eksploitasi tambang yang dimiliki secara langsung maupun tidak langsung, atau untuk melaksanakan kerja sama operasi dengan pihak ketiga di Indonesia,” ujarnya.
Selain itu, kontraktor EPC+F tersebut juga memiliki niat dan kapasitas untuk melakukan investasi lebih dari US$100 juta guna mengimplementasikan operasi pertambangan dengan proyeksi kapasitas produksi tahunan di atas 20 juta ton. Realisasi investasi tersebut bergantung pada hasil uji tuntas serta persetujuan atau pencatatan investasi luar negeri dari otoritas Tiongkok yang berwenang.
Lebih lanjut, Nuzwan menyampaikan bahwa PGGR bersama pihak-pihak terafiliasinya, termasuk PT Techno9 Indonesia Tbk, saat ini tengah melakukan negosiasi lanjutan terkait kerja sama operasi dengan sejumlah perusahaan pertambangan di Indonesia yang memiliki izin usaha pertambangan sah, mencakup komoditas emas, batu bara, timah, dan bauksit.
Terkait implikasinya bagi investor, Nuzwan menegaskan bahwa perkembangan ini berpotensi memberikan dampak material bagi pemegang saham perseroan, khususnya apabila opsi pembelian aset PGGR di Mongolia direalisasikan.
“PT Techno9 Indonesia Tbk akan terus melakukan penjajakan dan pengembangan berbagai peluang usaha di Indonesia maupun di kawasan regional guna memberikan nilai tambah yang berkelanjutan bagi para pemegang saham,” ujar Nuzwan.
Jejak Akuisisi NINE oleh Poh Group
Sebagai informasi, PT Techno9 Indonesia Tbk. (NINE) telah resmi mengalami perubahan pengendali setelah Poh Holdings Pte. Ltd. (POH) menyelesaikan rangkaian akuisisi saham dengan total kepemilikan 35,85%.
Manajemen NINE menyampaikan bahwa aksi korporasi tersebut merupakan tindak lanjut dari penandatanganan Conditional Sale and Purchase Agreement (CSPA) antara Poh Holdings dan pemegang saham pengendali lama, Heddy Kandou, pada 23 Januari 2025, yang kemudian diamandemen pada 12 Maret dan 22 Juli 2025.
Dalam pelaksanaannya, Poh Holdings secara bertahap menambah kepemilikan saham di NINE sepanjang 2025, dengan total akumulasi pembelian mencapai 773,35 juta lembar saham. Tahap terakhir akuisisi dilakukan pada 17 September 2025 setelah dilakukan penyesuaian harga terkait utang dan kewajiban perseroan.
“Dengan demikian, kepemilikan POH sebagai Pengendali Baru Perseroan menjadi sebesar 35,85%,” kata Manajemen NINE dalam keterbukaan informasi, dikutip Kamis (18/9/2025).
Dengan akumulasi tersebut, POH resmi menggantikan Heddy Kandou sebagai pengendali lama perseroan. Sebelumnya, Poh Group juga menyampaikan rencana pengambilalihan hingga 70% saham NINE sebagai bagian dari strategi pengembangan dan ekspansi bisnis grup.
_______
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
#techno9-indonesia #akuisisi-aset-tambang #poh-group-mongolia #investasi-nine #saham-techno9 #pggr-pertambangan #framework-agreement-mining #kontraktor-epc-f #investasi-pertambangan-mongolia #kerja-sam