Arah Wall Street Pekan Ini: Investor Menanti Santa Claus Rally
Investor Wall Street menanti Santa Claus rally di tengah kekhawatiran belanja AI dan kebijakan suku bunga The Fed. Data ekonomi dan inflasi jadi fokus utama.
(Bisnis.Com) 22/12/25 07:17 80787
Bisnis.com, JAKARTA - Harapan reli akhir tahun atau Santa Claus rally di bursa saham Amerika Serikat dibayangi kekhawatiran atas belanja besar kecerdasan buatan (AI) dan ketidakpastian arah pemangkasan suku bunga Federal Reserve.
Melansir Reuters pada Senin (22/12/2025), meski indeks saham AS masih berada di jalur kinerja solid sepanjang 2025, indeks acuan S&P 500 tercatat melemah sepanjang Desember ini. Pergerakan tersebut berlawanan dengan tren historis yang umumnya menunjukkan Desember sebagai bulan yang kuat bagi pasar saham.
Dua isu utama memicu fluktuasi pasar ekuitas AS dalam beberapa pekan terakhir, yakni meningkatnya sorotan terhadap belanja korporasi besar-besaran untuk pengembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) serta perubahan ekspektasi pasar terkait peluang pemangkasan suku bunga lanjutan oleh Federal Reserve (The Fed) pada 2026.
Pada pekan ini, kekhawatiran atas proyek pusat data Oracle membebani saham teknologi dan emiten terkait AI. Sebaliknya, data inflasi yang lebih jinak pada Kamis (waktu setempat) sempat mendorong penguatan pasar.
“Data ekonomi pekan ini memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan tetap memiliki kecenderungan untuk memangkas suku bunga,” ujar Senior Global Investment Strategist Edward Jones, Angelo Kourkafas.
Kourkafas mengatakan, meski sebagian investor berpotensi merealisasikan keuntungan setelah kinerja pasar yang solid sepanjang tahun, data terbaru tersebut kemungkinan memberi lampu hijau bagi terjadinya Santa Claus rally tahun ini,
Berdasarkan Stock Trader’s Almanac, sejak 1950, Santa Claus rally rata-rata mendorong kenaikan S&P 500 sebesar 1,3% dalam lima hari perdagangan terakhir tahun berjalan dan dua hari pertama Januari. Tahun ini, periode tersebut dimulai pada Rabu dan berlangsung hingga 5 Januari.
Investor Cermati Data Ekonomi dan Sikap The Fed
Investor pekan ini juga mencermati rilis data ekonomi yang tertunda akibat penutupan sebagian pemerintahan federal AS selama 43 hari. Data ketenagakerjaan menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja kembali meningkat pada November, namun tingkat pengangguran mencapai 4,6%, tertinggi dalam lebih dari empat tahun.
Laporan lain yang juga tertunda menunjukkan indeks harga konsumen (CPI) AS naik lebih rendah dari perkiraan dalam setahun hingga November. Meski data inflasi yang melandai memicu optimisme, dampaknya dinilai masih berpotensi terdistorsi, antara lain akibat keterlambatan pengumpulan data hingga akhir November, saat peritel memberikan diskon musim liburan.
The Fed telah memangkas suku bunga dalam tiga pertemuan berturut-turut, sehingga investor kini menelaah data ekonomi untuk mencari sinyal kapan bank sentral AS berpeluang kembali melonggarkan kebijakan moneter pada 2026.
“Memasuki pekan depan, pertanyaan besar akan berkisar pada arah kebijakan The Fed, mengingat adanya distorsi data akibat penutupan pemerintah,” ujar Global Head of Asset Allocation and Multi-Asset Portfolio Solutions Barings, Trevor Slaven.
Dia menambahkan, terdapat ketidakpastian terkait arah kebijakan bank sentral utama di tengah tren inflasi yang melandai dan indikasi pelemahan di pasar tenaga kerja.
Pasar Cermati AI
Sejumlah data ekonomi penting yang akan dirilis pekan depan meliputi produk domestik bruto (PDB) kuartal III, pesanan barang tahan lama, serta indeks kepercayaan konsumen.
Pada pekan perdagangan yang dipersingkat oleh libur akhir tahun, perhatian pasar juga masih tertuju pada tema AI yang menjadi pendorong utama reli saham sepanjang 2025. Hingga saat ini, S&P 500 telah naik lebih dari 15% sepanjang tahun dan berada di jalur mencatatkan kenaikan tahunan setidaknya 10% untuk tahun ketiga berturut-turut.
Namun belakangan, kekhawatiran terkait sektor AI—termasuk soal kapan belanja infrastruktur masif akan menghasilkan imbal hasil—mulai menekan saham teknologi yang memiliki bobot terbesar dalam indeks utama seperti S&P 500.
“Mulai terlihat skeptisisme terhadap belanja AI yang kian menonjol,” ujar Chief Investment Strategist Janney Montgomery Scott, Mark Luschini.
Menurutnya, dominasi saham teknologi dalam indeks berbasis kapitalisasi pasar turut memberikan tekanan terhadap pergerakan indeks secara keseluruhan.
Sementara itu, sektor-sektor lain yang sebelumnya tertinggal mulai menopang pasar, seperti transportasi, keuangan, dan saham berkapitalisasi kecil, yang seluruhnya mencatatkan kenaikan sepanjang Desember.
“Kami melihat arus dana mulai keluar dari sektor teknologi. Sektor lain mengambil peran dan membantu menjaga pergerakan pasar tetap cenderung terbatas," kata Kourkafas.
#santa-claus-rally #wall-street-pekan-ini #investor-menanti #bursa-saham-amerika #kecerdasan-buatan-ai #pemangkasan-suku-bunga #federal-reserve #indeks-saham-as #s-amp-p-500 #data-inflasi #ekspektasi-p