Pakar Pariwisata Sebut Indonesia Punya Potensi Kembangkan Wellness Tourism
Indonesia berpotensi kembangkan wellness tourism berkat kekayaan rempah dan tradisi spa. Namun, perlu perencanaan matang dan dukungan pemangku kepentingan.
(Bisnis.Com) 16/12/25 11:30 74343
Bisnis.com, JAKARTA - Tren health tourism kian mengemuka sebagai salah satu kekuatan baru pariwisata dunia. Indonesia punya fondasi penting untuk menjadi salah satu pemain utama.
Ketua Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI) Azril Azhari mengatakan health tourism kini menjadi salah satu bentuk pariwisata yang semakin diminati secara global. Azil menyebut tren wisata ini termasuk dalam kategori special interest tourism, yang belakangan memang tumbuh pesat dan menarik minat banyak wisatawan.
Secara sederhana, health tourism merujuk pada perjalanan ke suatu destinasi yang tujuan utamanya tidak hanya melihat pemandangan semata, tetapi juga meningkatkan kondisi fisik, mental, dan spiritual. Dengan demikian, ketika para wisatawan ini pulang ke wilayah asalnya, mereka dapat pulang dalam keadaan tubuh dan pikiran yang lebih segar.
Konsep ini terdiri atas empat pilar utama. Pertama, medical tourism, yaitu perjalanan untuk mendapatkan layanan medis—yang di Indonesia mulai dikembangkan melalui pembangunan fasilitas di Sanur, Bali. Kedua, recovery tourism atau wisata pemulihan. Ketiga, wellness tourism yang fokus pada kebugaran. Terakhir, gerontotourism, yakni layanan wisata yang dirancang khusus untuk kelompok lanjut usia.
"Yang paling memungkinkan berkembang di Indonesia salah satunya adalah wellness tourism. Kenapa? karena Indonesia kaya akan rempah, tradisi spa, jamu, herbal, dan kuliner sehat," ungkap Azril.
Dari sisi geografis, peluang pengembangan wellness tourism di Indonesia sebenarnya sangat luas. Banyak daerah memiliki kekayaan tradisi rempah yang beragam, mulai dari Bali, Maluku, hingga di wilayah lainnya. Setiap daerah, kata Azril, bahkan memiliki praktik dan kearifan lokal yang berbeda, sehingga semuanya berpotensi dikembangkan menjadi daya tarik wisata tersendiri.
Berangkat dari modal budaya yang sudah kuat tersebut, Azril menilai pengembangan wisata kesehatan tidak memerlukan investasi besar dibandingkan jika harus mengembangkan pilar lain. Infrastruktur dasar dan nilai tradisinya telah tersedia, sehingga yang dibutuhkan adalah perencanaan yang matang dan pengembangan konsep yang tepat.
Selain itu, Indonesia memiliki peluang besar di sektor gerontotourism. Banyak wisatawan lanjut usia, terutama dari Jepang dan Belanda, yang tertarik untuk tinggal lebih lama atau bahkan menghabiskan masa tua mereka di Indonesia karena iklim dan lingkungan yang mendukung.
Sayangnya, upaya untuk membangun ekosistem wellness tourism yang lebih serius belum terlihat kuat. Kondisi ini terjadi karena kurangnya langkah antisipatif dan perhatian dari para pemangku kepentingan terkait
"Di ASEAN, bisa dibilang Thailand bergerak cepat mengemas spa, rempah, dan wellness sebagai produk unggulan. Padahal Indonesia adalah pusat jalur rempah dunia dan memiliki kekayaan budaya kuliner sehat yang diakui secara global," imbuhnya.
Azril mengusulkan perlunya penyusunan konsep yang lebih jelas dan terarah mengenai health tourism. Ia juga menekankan pentingnya segera mengesahkan RUU pariwisata baru yang berorientasi pada pembangunan ekosistem.
Selain itu, pengembangan destinasi sebaiknya mengedepankan pendekatan community based tourism agar masyarakat setempat turut menjadi bagian utama dalam proses tersebut.
#wellness-tourism #health-tourism #pariwisata-indonesia #medical-tourism #recovery-tourism #gerontotourism #wisata-kesehatan #spa-tradisional #kuliner-sehat #rempah-indonesia #wisata-pemulihan #pariwis