Kisah 30 Kopassus Nyamar Jadi Hantu Putih saat Taklukkan 3.000 Pemberontak di Kongo

Kisah 30 Kopassus Nyamar Jadi Hantu Putih saat Taklukkan 3.000 Pemberontak di Kongo

Sebanyak 30 prajurit Kopassus yang tergabung di Kontingen Garuda (KONGA) III menyamar menjadi hantu putih saat menaklukkan 3.000 pemberontak di Kongo, Afrika. KISAH heroik... | Halaman Lengkap

(SINDOnews Ekbis) 08/12/25 05:41 64198

KISAHheroik dialami 30 prajurit TNI dari kesatuan Kopassus (dulu bernama RPKAD) yang tergabung di Kontingen Garuda (KONGA) III, yang merupakan Pasukan Perdamaian Indonesia di Kongo. Meski jumlahnya sedikit, namun mereka yang menyamar menjadi hantu putih berhasil menaklukkan 3.000 pemberontak Kongo.

Awalnya dimulai saat Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) pada tahun 1962 memerintahkan Indonesia untuk mengirimkan pasukan perdamaian ke Negara Republik Demokratik Kongo, Afrika. Maka dikirimkan pasukan perdamaian Indonesia diberi nama Kontingen Garuda III (KONGA III).

Anggota KONGA III diambil dari Batalyon 531 Raiders, satuan-satuan Kodam II Bukit Barisan, Batalyon Kavaleri 7, dan unsur tempur lainnya, termasuk Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI AD yang waktu itu masih bernama Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD).

Pasukan KONGA III yang dipimpin oleh Brigjen TNI Kemal Idris berangkat dari Tanah Air pada Desember 1962. Mereka ditugaskan di Albertville, Kongo selama 8 bulan di bawah naungan United Nations Operation in the Congo (UNOC).

Dikisahkan oleh Letjen (Purn) Kemal Idris (alm), Komandan Pasukan Perdamaian Indonesia di Kongo saat itu, dalam buku biografinya berjudul “Kemal Idris, Bertarung dalam Revolusi”, daerah yang menjadi medan operasi pasukan KONGA III terkenal sangat berbahaya.

Di wilayah itu terdapat milisi pemberontak dengan pimpinan Moises Tsombee. Pasukan Moises selalu membuat kekacauan di daerah ini. Para pemberontak berusaha untuk merebut daerah tersebut karena kaya akan sumber daya mineral. Kala itu Pemerintahan Kongo di bawah pimpinan Presiden Kazavubu.

Satu ketika markas KONGA III diserbu 2.000 personel pasukan pemberontak Moises Tsombe. Mereka mengepung markas KONGA III.

Pasukan KONGA III mati-matian mempertahankan markasnya. Baku tembak sengit terjadi. Mulai dari jam 24.00 malam hingga dini hari. Jelang Subuh, para pemberontak berhasil dipukul mundur ke wilayah gurun pasir yang gersang.

Beruntung tidak ada pasukan KONGA III yang meninggal pada kejadian itu. Hanya beberapa tentara luka ringan. Akhirnya, pasukan perdamaian dari semua negara peserta yang bertugas langsung melakukan rapat koordinasi untuk melakukan pengejaran terhadap gerombolan pemberontak tadi.

Merespons serangan ini, maka dikirimkanlah pasukan KONGA III untuk mengejar gerombolan pemberontak. Sebanyak 30 personel Pasukan Kontingen Garuda (Konga) III berintikan pasukan Kopassus (dulu bernama RPKAD) menyamar dengan cara kulitnya dilumuri arang agar menyerupai warna kulit suku asli.

Akhirnya ditemukan markas gerombolan pemberontak tersebut ada di dekat Danau Tanganyika. Daerah itu dikenal sebagai wilayah "No Man Land” alias daerah tak bertuan yang merupakan daerah kekuasaan pemberontak.

Selama ini tidak pernah ada yang dapat memasuki daerah ini, termasuk Tentara Nasional Pemerintahan Kongo. Bahkan pernah ada kejadian sebanyak 2 kompi pasukan India diserang pemberontak saat berusaha masuk wilayah tersebut.

Setelah menemukan markas pemberontak tadi, pasukan Pasukan Konga III yang berjumlah 30 personel Kopassus beristirahat sambil menyusun rencana penyerangan. Di markas pemberontak itu terdapat 3.000 personel pasukan pemberontak dengan beberapa tank panzer dan RPG/bazzoka.

Berdasarkan informasi intelijen yang didapat Pasukan Konga III diketahui bahwa suku setempat, termasuk pemberontak sangat takut dengan mitos mistis cerita hantu putih. Sosok hantu putih itu konon memiliki bau bawang putih yang menyengat.

Mendengar informasi intelijen itu, ide cemerlang terbersit di kepala Pasukan Kopassus Konga III. Yakni menerapkan straegi unik dan tak lazim, yakni menyamar jadi hantu putih.

Mereka kemudian memakai jubah putih longgar yang diberi kayu di atas kepala agar bila terkena angin maka jubah putih tersebut melambai-lambai. Tak lupa setiap personel juga memakai rantai bawang putih yang dikalungkan di leher.

Dengan naik kapal yang dihitamkan, sesampai di pinggir danau, pasukan hantu putih Kopassus meloncat berhamburan keluar dari kapal. Mereka menyerbu pos terdepan musuh. Setelah menaklukan pos tersebut, pasukan menyerbu ke dalam markas pemberontak.

Mendapat serangan hantu putih yang begitu mendadak, pemberontak kaget dan tertegun. Jiwa tempur mereka hilang. Mereka mengira benar-benar telah diserang hantu yang kesetanan.

Kesempatan itu dimanfaatkan Pasukan Kopassus Konga III dengan terus menembaki pemberontak yang masih tertegun kaget. Dengan ciri khas serbuan komando, di mana personel Kopassus juga dibekali teknik bunuh senyap (silent kill). Tanpa babibu, Korps Baret Merah TNI ini merangsek tak kenal takut ke pusat konsentrasi pasukan pemberontak.

Seluruh isi markas pemberontak yang berjumlah 3.000 tentara kaget dan memercayai jika yang dihadapi mereka adalah hantu putih. Mereka langsung ketakutan dan lari kocar-kacir tak tentu arah.

Bahkan ada seorang pemberontak yang sedang membakar ayam, karena kaget digerebek satuan komando pasukan khusus Indonesia itu langsung melempar ayam bakarnya dan mengenai salah satu anggota Kopassus yang menyerbu.

Serangan berlangsung singkat namun efektif. Hanya dalam tempo 30 menit, markas pemberontak berhasil dilumpuhkan. Sebanyak 3.000 personel pemberontak berhasil ditawan beserta keluarganya. Dalam penyerangan itu tercatat puluhan pemberontak tewas. Sedangkan dari pihak pasukan Konga III, satu tentara terluka terkena proyektil granat namun tak membahayakan nyawanya.

Setelah markas pemberontakan ditaklukkan, beberapa jam kemudian pasukan PBB lainnya datang. Mereka pun takjub dengan kesuksesan pasukan Kopassus yang hanya terdiri dari 30 personel ternyata mampu melumpuhkan markas pemberontak dan menawan 3.000 tentara pemberontak.

"Kami melakukan penyerangan di malam hari dengan kapal yang digelapkan di atas Danau Tanganyika, tidak berapa jauh dari daerah Albertville. Pasukan kami yang berkekuatan 30 orang menyamar sebagai hantu," kata Komandan Pasukan KONGA III Kemal Idris.

Kemal mengaku dirinya tahu 3.000 pemberontak itu sangat percaya takhayul. Mereka takut pada hantu spritesses yang digambarkan berwarna putih dan melayang-layang pada waktu malam.

Atas peristiwa itu, Pasukan KONGA III dijuluki Les Spiritesses, yakni pasukan yang bertempur dengan cara tidak normal menyamar jadi hantu putih.

Keesokan harinya, Komandan Konga III dan Komandan Kopassus dipanggil Komandan Pasukan PBB di Kongo, Jenderal Kadebe Ngeso yang berasal dari Ethiopia. Jenderal Kadebe Ngeso memuji kecerdikan dan kesuksesan Pasukan KONGA III tersebut.
(shf)

#tni-ad #cerita-pagi #kopassus #prajurit-tni #korps-baret-merah

https://daerah.sindonews.com/read/1652949/29/kisah-30-kopassus-nyamar-jadi-hantu-putih-saat-taklukkan-3000-pemberontak-di-kongo-1765145569