Negosiasi AS-Kanada Buntu, Perundingan Dagang Terancam Mundur ke 2026

Negosiasi AS-Kanada Buntu, Perundingan Dagang Terancam Mundur ke 2026

Negosiasi dagang AS-Kanada terhenti akibat intervensi Trump, memicu spekulasi penundaan hingga 2026.

(Bisnis.Com) 26/11/25 13:05 50867

Bisnis.com, JAKARTA - Mandeknya negosiasi dagang Amerika SerikatKanada setelah intervensi Presiden Donald Trump memantik spekulasi bahwa perselisihan tarif akan dibawa ke peninjauan besar perjanjian Amerika Utara tahun depan.

Menurut sumber yang dikutip dari Bloomberg pada Selasa (25/11/2025), tidak ada negosiasi yang berlangsung sejak Presiden AS Donald Trump menghentikan perundingan melalui unggahan media sosial pada 23 Oktober 2025.

Hingga saat itu, kedua negara tengah membahas kesepakatan terbatas yang berpotensi melonggarkan sebagian tarif baja dan aluminium sebesar 50% yang dikenakan AS kepada Kanada dan sejumlah mitra dagang lainnya.

Trump disebut marah atas kampanye iklan yang didanai Pemerintah Ontario dengan menggunakan cuplikan pidato Ronald Reagan tahun 1987 untuk mengkritik tarif AS. Pada 25 Oktober, Trump bahkan mengancam akan menambah tarif 10% bagi Kanada sebagai hukuman atas iklan tersebut.

Namun, seorang pejabat AS menyebut belum ada rencana penerapan dalam waktu dekat. Tidak jelas apakah Trump akan benar-benar memberlakukan tarif tambahan itu.

Trump dan Perdana Menteri Kanada Mark Carney dijadwalkan berada di lokasi yang sama pada 5 Desember 2025, ketika Carney berencana menghadiri undian Piala Dunia 2026 di Washington, AS. Meski demikian, belum ada kepastian apakah keduanya akan mengadakan pembicaraan dagang.

Juru bicara Carney dan Trump menolak memberikan komentar terkait rencana kehadiran sang perdana menteri dalam acara yang digelar di John F. Kennedy Center for the Performing Arts. Gedung Putih dan Kantor Perwakilan Dagang AS juga tidak merespons permintaan konfirmasi terkait status perundingan dagang tersebut.

Dengan pembicaraan bilateral yang terhenti, Carney mulai mengalihkan fokus pada upaya diversifikasi perdagangan dan investasi. Uni Emirat Arab berkomitmen menanamkan investasi C$70 miliar (US$50 miliar) setelah kunjungan Carney pekan lalu, sementara Kanada dan India kembali membuka pembicaraan perdagangan yang sempat lama terhenti.

Di sela KTT G20 Johannesburg, Carney tampak kesal saat ditanya kapan terakhir berbicara dengan Trump. “Siapa peduli? Itu hanya detail. Saya sudah berbicara dengannya, dan akan bicara lagi saat diperlukan,” ujarnya.

Dia menegaskan bahwa Kanada siap kembali ke meja perundingan ketika AS membuka kembali diskusi. “Tidak ada isu mendesak yang perlu saya sampaikan saat ini. Ketika Amerika siap kembali membahas perdagangan, kami akan ikut.”

Para analis menilai Kanada kini harus realistis bahwa pendekatan historis dan argumen soal aliansi tidak efektif bagi Trump. Menurut Eric Miller dari Rideau Potomac Strategy Group, Trump memandang Kanada sebagai pihak negosiasi biasa dalam transaksi komersial.

Namun, Kanada tetap perlu mencoba mencapai gencatan dagang dengan AS. “Anda tidak bisa emosional. Anda tidak bisa menyerah,” katanya.

Kanada menghadapi tantangan besar dalam diversifikasi perdagangan karena sekitar 75% ekspor barangnya tahun lalu menuju AS, terutama minyak mentah dan produk energi.

Meski tarif AS menekan sebagian bisnis tersebut, ekspor tetap bertahan berkat pengecualian tarif dalam perjanjian US-Mexico-Canada Agreement (USMCA).

Data Departemen Perdagangan AS menunjukkan impor barang AS dari Kanada mencapai US$260 miliar dalam delapan bulan pertama tahun ini, turun 5% dibandingkan periode sama tahun lalu. Defisit perdagangan barang AS dengan Kanada menyempit sekitar US$5 miliar.

Di luar minyak, AS sebenarnya mencatat surplus perdagangan dengan Kanada. Namun, ketidakpastian masih memukul sektor-sektor Kanada yang sangat bergantung pada ekspor ke AS, termasuk baja dan kayu, yang sulit mencari pasar pengganti di luar negeri.

Situasi diperberat oleh fakta bahwa beberapa mitra dagang AS lain telah menerima kesepakatan yang cenderung timpang. Uni Eropa, misalnya, sepakat mengenakan tarif 15% atas sebagian besar ekspornya ke AS. Miller menilai menerima kesepakatan semacam itu akan merugikan Kanada dalam menarik investasi baru karena kedekatannya dengan pasar AS.

Sejak menjabat, Carney telah beberapa kali membuat konsesi unilateral. Setelah kemenangan pemilu pada April, ia langsung berkunjung ke Gedung Putih untuk memperbaiki hubungan yang memburuk pada masa akhir pemerintahan Justin Trudeau.

Namun, Trump menghentikan pembicaraan pada 27 Juni dengan alasan pajak layanan digital era Trudeau. Kanada kemudian mencabut pajak tersebut

Sekitar sebulan kemudian, Trump menaikkan tarif dasar untuk produk Kanada yang tidak memenuhi syarat USMCA, dari 25% menjadi 35%, disusul keputusan Carney yang membatalkan sebagian bea balasan Kanada, kecuali untuk mobil serta baja dan aluminium buatan AS.

Langkah tersebut sempat mengembalikan momentum negosiasi hingga kontroversi iklan Ontario kembali menghentikan pembicaraan.

Dalam beberapa pekan terakhir, Trump menunjukkan sinyal pelonggaran kebijakan tarif. Bulan ini AS menurunkan tarif sejumlah produk pangan, termasuk daging sapi, dan memberi kelonggaran bagi Departemen Perdagangan untuk menurunkan tarif baja dan aluminium Kanada dan Meksiko apabila logam tersebut digunakan dalam industri otomotif AS.

Mahkamah Agung AS saat ini juga meninjau legalitas penggunaan Undang-Undang International Emergency Economic Powers Act sebagai dasar penerapan tarif, termasuk tarif 35% atas produk Kanada yang tidak memenuhi USMCA. Namun, pemerintahan Trump menyiapkan opsi cadangan jika tarif tersebut diputuskan tidak sah.

#as-kanada #negosiasi-dagang #tarif-baja #tarif-aluminium #trump-kanada #perjanjian-dagang #perdagangan-amerika-utara #tarif-tambahan #diversifikasi-perdagangan #ekspor-kanada #impor-as #defisit-perdag

https://ekonomi.bisnis.com/read/20251126/620/1931832/negosiasi-as-kanada-buntu-perundingan-dagang-terancam-mundur-ke-2026