Kisah Jenderal Kopassus Moeng Parhadimulyo, Spartan Perintis Seragam Loreng Darah Mengalir Khas Baret Merah
Mayjen TNI (Purn) Moeng Parhadimulyo merupakan sosok yang berjasa besar memunculkan seragam kebanggaan Korps Baret Merah Komando Pasukan Khusus (Kopassus). KOMANDO... | Halaman Lengkap
(SINDOnews Ekbis) 07/11/25 07:32 30574
KOMANDO Pasukan Khusus (Kopassus) memiliki ciri khas memakai Baret Merah dan pakaian dinas lapangan (PDL) motif loreng darah mengalir. Seragam itu mencerminkan keberanian dan juga identitas pasukan elite TNI yang menggetarkan dunia.Sosok yang berjasa besar memunculkan seragam kebanggaan tersebut tak lain adalah Mayjen TNI (Purn) Moeng Parhadimulyo. Seragam baru Kopassus dengan corak darah mengalir diperkenalkan secara resmi pada Hari ABRI (kini TNI) 5 Oktober 1964.
Awalnya, Kopassus cikal bakalnya dimulai pada 16 April 1952 saat Kolonel AE Kawilarang mendirikan Kesatuan Komando Tentara Territorium (Kesko TT) III/Siliwangi. Kesatuan ini lahir di zaman yang masih serba susah.
Meski disiapkan sebagai kesatuan elite, namun faktanya mereka hanya menempati kantor di salah satu bagian markas depot batalyon.
Prajurit yang tergabung dalam Kesko TT-III/Siliwangi menempuh pendidikan untuk mendapatkan badge tanda lulus pendidikan komando. Selanjutnya diberikanlah seragam loreng dengan corak khusus yang kemudian dikenal dengan sebutan \'loreng macan tutul\'.
"Aslinya pakaiaan loreng itu buatan Amerika yang diproduksi pada masa Perang Dunia I dalam jumlah besar untuk US Marines," tulis buku \'Kopassus untuk Indonesia: Profesionalisme Prajurit Kopassus\' karya Iwan Santosa dan EA Natanegara dikutip Jumat (7/11/2025).
Selanjutnua ketika berakhirnya perang dunia II, pakaian seragam itu diberikan sebagai bantuan kepada tentara Kerajaan Belanda, yang akhirnya diserahkan juga kepada angkatan perang Indonesia sesuai perjanjian Konferensi Meja Bundar. Pakaian inilah yang lantas digunakan sebagai seragam khusus prajurit satuan komando (Kopassus).
Loreng Macan Tutul ini dikenal sebagai ciri khas prajurit Baret Merah, terutama di Jawa Barat karena dikenakan dalam berbagai operasi tempur, termasuk menumpas gerombolan DI/TII. Namun beberapa tahun kemudian muncul persoalan, yakni menipisnya stok.
Seiring semakin berkurangnya persediaan seragam loreng macan tutul, sementara di negara aslinya (AS) tidak diproduksi lagi, muncul gagasan untuk membuat sendiri pakaian seragam khusus bagi prajurit Baret Merah.
Komandan RPKAD (1958-1964) Kolonel Inf Moeng Parhadimulyo menyetujui penggunaan seragam dengan corak baru yang lantas disebut dengan motif \'loreng darah mengalir\'. Seragam ini dikenalkan resmi pada HUT ABRI, 5 Oktober 1964.
Moeng Parhadimulyo Jenderal Spartan
Diketahui Moeng merupakan salah satu prajurit legendaris Pasukan Baret Merah. Selain kenyang pengalaman di medan tempur, serdadu kelahiran Yogyakarta ini ternyata sosok yang sangat luar biasa sederhana dan lurus hidupnya.
Keteladanan Jenderal Moeng dikisahkan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto. Moeng, kata dia, tidak memiliki pembantu rumah tangga sehingga pukul 04.30 dia telah bangun untuk menyapu dan mengepel rumah sebelum berangkat ke kantor.
Tapi tidak hanya itu, yang membuat terkesan banyak orang yakni Moeng juga melarang istri dan anak menggunakan kendaraan dinas. Suatu tindakan yang tak banyak dimiliki orang lain.
"(Karena dilarang naik mobil dinas) sehingga anaknya harus jalan kaki ke sekolah, sementara istrinya naik becak kalau hendak belanja,” tutur Prabowo dalam buku biografinya berjudul \'Kepemimpinan Militer: Catatan dari Pengalaman Letnan Jenderal TNI (Purn) Prabowo Subianto\'.
Prabowo mengaku sesungguhnya dia tidak terlalu dekat mengenal Moeng. Namun siapa pun prajurit Baret Merah akan tahu sosoknya karena memang sangat terkenal pada kurun tahun 60-an hingga 80-an.
Mantan Danjen Kopassus ini menambahkan, Moeng selalu memulai lebih dahulu dalam setiap pelatihan, entah itu panjat dan turun tebing, terjun, menembak, lari maupun lempar pisau. Dia pernah memimpin lari seluruh pasukan yang terdiri atas 1 resimen dan 2 batalyon dari Cijantung ke Cililitan pulang-pergi.
Menurut Prabowo, saat berlari Moeng selalu membawa senjata dan membuka baju seperti anak buahnya. "Beliau sangat terkenal sebagai perwira spartan. Perwira yang tangguh dan kuat fisiknya," sebut Prabowo.
Profil Moeng Parhadimulyo
Lahir : Yogyakarta, 11 Januari 1925Meninggal : Jakarta, 28 Desember 2012
Karier:
- Komandan Kompi IV Batalyon Nasuhi, Brigade Samsu, Divisi Siliwangi (1949)
- Danyonif Linud 305/Tengkorak (1949-1953)
- Komandan RPKAD (1958-1964)
- Pangdam IX/Mulawarman (1964-1970)
(shf)