Rebana Menarik Banyak Proyek, Mengapa Nilai Investasi Rendah?

Rebana Menarik Banyak Proyek, Mengapa Nilai Investasi Rendah?

Kawasan Rebana mengalami lonjakan proyek investasi, namun nilai investasinya masih rendah dibandingkan Bekasi dan Karawang. Proyek didominasi skala kecil-menengah.

(Bisnis.Com) 24/06/26 17:00 258709

Bisnis.com, CIREBON- Kawasan Rebana yang mencakup wilayah Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan (Ciayumajakuning) menunjukkan lonjakan aktivitas investasi dalam tiga tahun terakhir.

Namun, di balik pertumbuhan jumlah proyek pesat, nilai investasi yang masuk ke kawasan tersebut masih tertinggal dibandingkan pusat-pusat industri utama Jawa Barat seperti Bekasi dan Karawang.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, jumlah proyek penanaman modal dalam negeri (PMDN) di Ciayumajakuning meningkat signifikan sepanjang periode 2023-2025.

Pada 2025, Kabupaten Cirebon mencatat 8.141 proyek PMDN, Kota Cirebon 4.349 proyek, Indramayu 3.665 proyek, Majalengka 1.682 proyek, dan Kuningan 932 proyek. Secara total, jumlah proyek PMDN di wilayah tersebut mencapai lebih dari 18.700 proyek.

Meski demikian, akumulasi nilai PMDN di lima daerah itu hanya sekitar Rp8,5 triliun. Jika ditambah investasi penanaman modal asing (PMA), total investasi Ciayumajakuning berada di kisaran Rp16 triliun.

Sebagai pembanding, Kabupaten Bekasi sendiri mampu membukukan investasi sekitar Rp81,8 triliun pada 2025, sedangkan Karawang mencapai sekitar Rp70,8 triliun. Nilai tersebut jauh melampaui capaian gabungan investasi di kawasan Ciayumajakuning.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat Margaretha Ari Anggorowati mengatakan banyaknya proyek yang tercatat belum otomatis mencerminkan besarnya investasi yang masuk ke suatu wilayah.

Menurut dia, peningkatan jumlah proyek menunjukkan aktivitas ekonomi yang semakin dinamis dan semakin banyak pelaku usaha yang masuk. Namun, dari sisi nilai, investasi di kawasan Rebana masih didominasi oleh proyek berskala kecil hingga menengah.

“Jumlah proyek memang tumbuh sangat cepat, tetapi yang perlu dilihat juga adalah nilai investasinya. Banyak proyek tidak selalu berarti nilai investasi besar karena bisa saja didominasi oleh investasi skala UMKM atau usaha menengah,” ujar Margaretha, Rabu (24/6/2026).

Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan kawasan Rebana saat ini masih berada dalam fase awal pembentukan ekosistem investasi. Berbagai infrastruktur strategis yang dibangun pemerintah, seperti Bandara Internasional Kertajati, Pelabuhan Patimban, dan jaringan jalan tol, telah meningkatkan daya tarik kawasan.

Namun, dampaknya terhadap masuknya investasi besar masih memerlukan waktu.

Margaretha menjelaskan bahwa kawasan industri yang telah berkembang lebih dahulu seperti Bekasi dan Karawang memiliki keunggulan berupa rantai pasok matang, konsentrasi manufaktur besar, serta kedekatan dengan pasar dan pusat logistik nasional. Faktor-faktor tersebut membuat nilai investasi yang masuk ke kedua wilayah itu jauh lebih besar meskipun jumlah proyeknya tidak selalu tumbuh setinggi daerah berkembang.

Di sisi lain, peningkatan jumlah proyek di Ciayumajakuning dinilai tetap menjadi sinyal positif bagi perekonomian kawasan. Aktivitas investasi yang meluas menunjukkan semakin banyak pelaku usaha yang mulai memanfaatkan peluang ekonomi di wilayah timur Jawa Barat.

“Ini bisa menjadi fondasi awal. Ketika ekosistem industri semakin terbentuk dan infrastruktur pendukung beroperasi optimal, investasi dengan nilai yang lebih besar berpotensi mengikuti,” kata Margaretha.

#rebana-investasi #proyek-rebana #nilai-investasi-rendah #ciayumajakuning-investasi #cirebon-proyek #indramayu-investasi #majalengka-proyek #kuningan-investasi #pmdn-ciayumajakuning #pma-ciayumajakunin

https://bandung.bisnis.com/read/20260624/549/1983011/rebana-menarik-banyak-proyek-mengapa-nilai-investasi-rendah