Pengelola Rumah Sakit Mata JEC Mau IPO, Bidik Dana Rp 683,17 Miliar

Pengelola Rumah Sakit Mata JEC Mau IPO, Bidik Dana Rp 683,17 Miliar

Pengelola jaringan rumah sakit dan klinik mata Jakarta Eye Center (JEC), PT Nitrasanata Dharma Tbk, bersiap melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).

(Kompas.com) 22/06/26 18:29 256568

JAKARTA, KOMPAS.com – Pengelola jaringan rumah sakit dan klinik mata Jakarta Eye Center (JEC), PT Nitrasanata Dharma Tbk, bersiap melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui penawaran umum perdana saham (IPO).

Perseroan akan melantai di bursa dengan kode emiten JECX.

Perseroan menawarkan sebanyak-banyaknya 487,98 juta saham atau setara 15 persen dari modal ditempatkan dan disetor setelah IPO.

PEXELS/AI25.STUDIO Ilustrasi pemeriksaan mata, klinik mata, dokter mata.

Jumlah tersebut terdiri dari 325,32 juta saham baru atau 10 persen dari modal setelah IPO serta 162,66 juta saham divestasi milik salah satu pemegang saham, Dr. dr. Waldensius Girsang, SpM(K), yang setara 5 persen modal setelah IPO.

Harga penawaran saham dipatok pada kisaran Rp 1.200 hingga Rp 1.400 per saham. Dengan demikian, nilai penawaran umum perdana saham perseroan diperkirakan mencapai maksimal Rp 683,17 miliar.

Nilai tersebut terdiri dari Rp 455,45 miliar yang berasal dari penerbitan saham baru dan Rp 227,73 miliar dari saham divestasi.

Berdasarkan prospektus awal, masa penawaran awal berlangsung pada 22 sampai 24 Juni 2026. Perseroan menargetkan memperoleh pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 29 Juni 2026, dilanjutkan masa penawaran umum pada 1 sampai 3 Juli 2026 dan pencatatan saham di BEI pada 7 Juli 2026.

"Kegiatan usaha utama Perseroan bergerak dalam bidang aktivitas rumah sakit swasta dan aktivitas klinik swasta," kata perseroan dalam prospektus awal, Senin (22/6/2026).

Dana IPO untuk kurangi utang

canva.com Ilustrasi investor saham.

Sebagian besar dana yang diperoleh dari penerbitan saham baru akan digunakan untuk memperbaiki struktur permodalan melalui pembayaran utang.

Perseroan mengalokasikan Rp 40 miliar untuk pembayaran lebih awal sebagian pokok pinjaman kepada PT Bank Central Asia Tbk (BCA). Selain itu, sebesar Rp 100 miliar akan digunakan untuk pembayaran lebih awal sebagian pokok pinjaman kepada PT Bank HSBC Indonesia.

Tidak hanya itu, sekitar Rp 185 miliar akan disalurkan kepada perusahaan anak.

Dana tersebut terdiri dari Rp 50 miliar dalam bentuk setoran modal kepada PT Nitra Sanata Bali (NSB) yang akan digunakan sebagai modal kerja, termasuk pembayaran sewa lahan dan gaji karyawan.

Kemudian, Rp 100 miliar akan diberikan dalam bentuk pinjaman kepada Orbita untuk membayar sebagian pokok utangnya kepada BCA, serta Rp 35 miliar kepada JEC Candi Sejahtera (JCS) yang juga akan digunakan untuk melunasi sebagian pinjaman kepada BCA.

Adapun sisa dana IPO akan digunakan untuk modal kerja perseroan, antara lain untuk membiayai operasional sehari-hari seperti gaji dan tunjangan karyawan hingga paling lambat 31 Desember 2027.

Perseroan menjelaskan, dana hasil penjualan saham divestasi tidak akan masuk ke kas perusahaan.

"Sedangkan dana yang diperoleh dari hasil penjualan saham Pemegang Saham Penjual akan menjadi milik Pemegang Saham Penjual. Perseroan tidak akan memperoleh bagian dari hasil penjualan saham oleh Pemegang Saham Penjual dan Pemegang Saham Penjual akan menanggung seluruh biaya emisi yang berkaitan dengan penjualan saham Pemegang Saham Penjual," demikian tertulis dalam prospektus perseroan.

Bidik pertumbuhan lewat ekspansi

Di balik aksi IPO tersebut, Nitrasanata Dharma menyiapkan strategi ekspansi untuk menangkap peluang pertumbuhan industri layanan kesehatan mata di Indonesia.

Niken Monica Dr. Nina Asrini Noor, SpM, Dokter Spesialis Mata dan Ketua Dry Eye Service JEC Eye Hospitals and Clinics sedang menjalankan terapi E-eye® Intense Pulse Light (IPL)

Perseroan menyebut industri kesehatan mata masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar seiring meningkatnya jumlah penduduk, pertumbuhan ekonomi yang stabil, serta meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap layanan kesehatan berkualitas.

Dalam prospektus disebutkan, jumlah penduduk Indonesia mencapai sekitar 284,4 juta jiwa pada pertengahan 2025.

Sementara itu, jumlah penderita diabetes yang menjadi salah satu faktor risiko gangguan penglihatan diperkirakan mencapai 20,4 juta orang pada 2024 dan diproyeksikan meningkat menjadi 28,6 juta orang pada 2050.

Perseroan juga melihat peluang dari berkembangnya sektor medical tourism atau wisata kesehatan.

Riset IMARC Group yang dikutip dalam prospektus memperkirakan nilai pasar wisata kesehatan Indonesia mencapai sekitar 1,7 miliar dollar AS pada 2024 dan berpotensi meningkat menjadi 9,6 miliar dollar AS pada 2033.

Pemerintah juga telah meresmikan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kesehatan Sanur di Bali untuk memperkuat posisi Indonesia dalam industri health and wellness tourism di kawasan.

Di sisi lain, perseroan mencatat masih terdapat sekitar satu juta warga Indonesia yang berobat ke luar negeri setiap tahun dengan estimasi devisa keluar mendekati Rp 200 triliun.

JEC Bali@Sanur jadi andalan

Salah satu proyek yang menjadi fokus pengembangan perseroan adalah JEC Bali@Sanur.

Dalam prospektus disebutkan, fasilitas yang berada di KEK Sanur tersebut dirancang sebagai pusat layanan kesehatan mata berstandar internasional yang mengintegrasikan teknologi medis dengan pengalaman layanan yang berorientasi pada pasien.

Fasilitas itu ditargetkan mulai beroperasi pada 2027 dan diproyeksikan melayani sekitar 30.000 kunjungan pasien pada tahun pertama operasionalnya.

Pemeriksaan mata di layanan kesehatan di JEC Eye Hospitals and Clinics

"Dengan demikian, JEC Bali@Sanur merupakan salah satu inisiatif strategis utama Perseroan dalam menangkap peluang pertumbuhan, khususnya di segmen medical tourism," tulis perseroan dalam prospektus.

Perseroan menilai kehadiran fasilitas tersebut akan memperkuat posisinya di industri layanan kesehatan mata sekaligus membuka peluang untuk menarik pasien dari pasar regional.

Selain mengembangkan rumah sakit baru, perseroan juga menerapkan strategi pengembangan usaha berbasis continuum of care, mulai dari layanan primer, sekunder, hingga tersier.

Strategi itu dilakukan melalui perluasan program skrining kesehatan mata, penguatan jaringan klinik, pengembangan layanan premium, hingga penguatan layanan subspesialisasi di rumah sakit.

Upaya tersebut turut didukung transformasi digital yang mencakup pengembangan digital patient journey, sistem Customer Relationship Management (CRM), peningkatan aplikasi mobile, serta pemanfaatan data analytics untuk mendukung pengambilan keputusan berbasis data.

Perseroan menyatakan, kombinasi antara potensi pasar yang besar, kebutuhan layanan kesehatan mata yang terus meningkat, serta strategi ekspansi dan inovasi layanan diharapkan dapat mendukung pertumbuhan usaha grup secara berkelanjutan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#ipo #jakarta-eye-center #jec #klinik-mata #pt-nitrasanata-dharma-tbk

https://money.kompas.com/read/2026/06/22/182906326/pengelola-rumah-sakit-mata-jec-mau-ipo-bidik-dana-rp-68317-miliar