Kadin: Pemadaman Listrik Berulang Ganggu Iklim Investasi Manufaktur
Kadin menyebut pemadaman listrik berulang di Jawa berisiko mengganggu investasi manufaktur dan mempengaruhi daya saing industri.
(Bisnis.Com) 21/06/26 17:05 255515
Bisnis.com, JAKARTA — Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia megungkapkan bahwa pemadaman listrik yang terjadi berulang di wilayah Jawa berisiko mengikis minat investasi sektor manufaktur.
Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Organisasi, Komunikasi, dan Pemberdayaan Daerah Kadin Indonesia, Erwin Aksa, menyatakan keandalan pasokan energi merupakan pilar utama penentu daya saing industri nasional.
Menurutnya, gangguan listrik di Pulau Jawa selaku pusat kegiatan industri akan langsung memicu multiplier effect negatif terhadap produktivitas dan kepastian operasional pelaku usaha global.
“Jika gangguan pasokan listrik terjadi berulang dan tidak segera ditangani, tentu akan menjadi catatan bagi investor karena berpotensi meningkatkan biaya operasional dan risiko bisnis,” ujar Erwin kepada Bisnis, Minggu (21/6/2026).
Erwin menjelaskan bahwa dalam kalkulasi penanaman modal, penanam modal asing maupun domestik kini tidak hanya menyoroti variabel tarif energi kelistrikan semata.
Lebih dari itu, tingkat kepastian pasokan dan stabilitas infrastruktur jaringan listrik menjadi indikator paling krusial sebelum modal tersebut direalisasikan ke dalam ekosistem manufaktur.
Kadin memetakan sektor dengan proses produksi terus-menerus (continuous process) seperti industri baja, petrokimia, semen, tekstil, serta makanan dan minuman menjadi klaster yang paling terdampak dari fenomena pemadaman listrik belakangan ini.
Bagi industri padat modal tersebut, padamnya daya listrik dalam hitungan jam tidak hanya menghentikan lini produksi saja, melainkan berpotensi merusak bahan baku dan mesin-mesin pabrik.
“Kerugian tidak hanya berasal dari berhentinya produksi, tetapi juga dari biaya pemulihan operasional yang sering kali jauh lebih besar dibanding durasi pemadaman itu sendiri,” kata Erwin.
Kondisi ini kian diperparah oleh lonjakan beban biaya operasional akibat penggunaan pembangkit cadangan seperti genset yang menguras bahan bakar tambahan secara masif.
Selain membengkaknya beban energi, pelaku industri manufaktur juga terpaksa mengalokasikan anggaran lembur karyawan demi mengejar ketertinggalan target output produksi yang sempat terhenti.
Ketidakpastian ini pun dinilai merembet pada terhambatnya jadwal logistik pengiriman barang, yang berpotensi merusak reputasi pemanufaktur domestik di mata pembeli internasional.
Seiring hal tersebut, Kadin mememinta pemerintah dan PT PLN (Persero) untuk segera memprioritaskan penguatan ketahanan sistem kelistrikan nasional secara menyeluruh.
Hal tersebut diperlukan guna menjamin ketersediaan energi primer, meningkatkan kapasitas transmisi, serta membenahi sistem mitigasi dan komunikasi darurat kepada segenap pelanggan industri.
“Karena itu Kadin mendorong pemerintah dan PLN untuk terus memperkuat ketahanan sistem kelistrikan nasional, memastikan ketersediaan energi primer, meningkatkan keandalan pembangkit dan jaringan transmisi, serta memperbaiki sistem mitigasi dan komunikasi kepada pelanggan industri,” pungkas Erwin.
Sebelumnya, Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo menyampaikan permohonan maaf atas terjadinya pemadaman listrik bergilir di Pulau Jawa imbas gangguan teknis dan masalah pasokan batu bara ke pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).
"Kami atas nama PT PLN ingin memohon maaf yang sebesar-besarnya karena Pulau Jawa mengalami pemadaman bergilir," ujar Darmawan dalam video konferensi pers yang dirilis PLN.
#pemadaman-listrik #pemadaman-listrik-jawa #pemadaman-listrik-bergilir #kadin #investasi-manufaktur #iklim-investasi #sektor-manufaktur #pasokan-energi #daya-saing-industri #gangguan-listrik #biaya-ope