Pavel Durov Tuduh Perusahaan Mukesh Ambani Reliance Sabotase Akses Telegram
Pavel Durov menuduh Reliance sabotase akses Telegram via Jio, mengklaim manipulasi BGP untuk memblokir pengguna di luar India. Jio membantah tuduhan ini.
(Bisnis.Com) 20/06/26 15:43 255228
Bisnis.com, JAKARTA — Pendiri Telegram, Pavel Durov, melontarkan spekulasi liar mengenai keterlibatan Meta Platforms Inc. dalam memanfaatkan investasinya di perusahaan telekomunikasi India, Jio, untuk menyabotase layanan pesan instan pesaingnya.
Adapun Jio merupakan bagian dari Reliance Industries Limited (RIL), konglomerat multinasional terbesar di India yang berbasis di Mumbai.
Keberadaan Reliance tidak bisa dilepaskan dari dinasti keluarga Ambani, yang merupakan salah satu keluarga terkaya dan paling berpengaruh di dunia.
Melalui akun media sosial miliknya, Durov mengklaim operator seluler di bawah naungan Reliance Industries tersebut sengaja memutus akses bagi jutaan pengguna di luar India lewat metode manipulasi jaringan global.
"Perusahaan telekomunikasi India melakukan sabotase akses jutaan penguna Telegram di luar India, termasuk di UAE dengan menggunakan metode yang disebtu BGP," tulis Durov dalam unggahannya, dikutip Sabtu (20/6/2026).
Metode pembajakan border gateway protocol (BGP) tersebut bekerja dengan menyebarkan informasi rute internet palsu yang mengaitkan suatu layanan ke alamat IP yang salah.
Karena router internet saling berbagi data secara otomatis, gangguan navigasi digital ini dapat menyebar cepat ke seluruh dunia hingga membuat netizen gagal mengakses Telegram.
Perumpamaan sederhananya seperti seseorang yang sengaja mengubah papan penunjuk arah resmi di jalan raya, sehingga semua kendaraan tersesat ke jalur buntu. Jio menjadi orang yang mengubah papan tersebut.
Durov menilai gangguan koneksi internet tersebut disengaja demi kepentingan perang kompetisi bisnis.
"Ini terlihat seperti upaya sabotase internasional karena Reliance telah menolak berbagai laporan. Ini mungkin bagian dari peperangan di tengah kompetisi dan Reliance sebagiannya dimiliki oleh Meta, perusahaan di belakang Whatsapp," tutur Durov menambahkan.
Meta tercatat menanamkan investasi senilai US$5,7 miliar di Reliance, bahkan baru saja mengumumkan kerja sama pusat data baru dengan raksasa India tersebut pekan lalu.
Meski demikian, pihak Jio langsung menolak keras tuduhan salah konfigurasi rute jaringan tersebut.
"Jio terus mengoperasikan jaringannya sesuai dengan praktik terbaik perutean internet global serta standar tertinggi dalam hal keandalan, keamanan, dan transparansi," tulis manajemen Jio dalam keterangan resminya.
Durov sejauh ini tidak memberikan bukti konkret atas klaim konspirasi tersebut. Dia justru terus mengaitkan masalah teknis ini dengan dinamika regulasi di India, termasuk langkah Kementerian TI India memblokir Telegram selama enam hari demi mencegah kebocoran ujian medis.
Menurut Durov, pembatasan akses internet menjelang ujian merupakan kebijakan yang keliru dan salah sasaran. "Ini justruk berdampak pada lebih dari 150 juta pengguna aktif Telegram di India," tulisnya, sembari mengingatkan aksi penipuan akan dengan mudah berpindah ke platform digital lain.
Klaim Durov mengenai diskriminasi regulasi dinilai sulit dipertahankan. Asosiasi telekomunikasi India sejak lama mendesak pengetatan aturan bagi platform komunikasi daring sejenis Telegram dan WhatsApp karena menyediakan layanan panggilan suara tanpa terikat izin operator konvensional. Telegram secara spesifik juga kerap disorot otoritas hukum lokal akibat minimnya kerja sama pemberantasan pembajakan konten serta fitur anonimitas pengguna yang tinggi.
#telegram #pavel-durov #reliance-industries #mukesh-ambani #sabotase-telegram #jio-india #meta-platforms #bgp-pembajakan #akses-telegram #perang-bisnis #koneksi-internet #regulasi-india #blokir-telegra