MSCI Soroti Transparansi Pasar Saham Indonesia, Risiko Dana Keluar Rp 231 Triliun Masih Mengintai
MSCI kembali menyoroti transparansi pasar saham Indonesia. Investor masih menilai status emerging market RI bisa bertahan.
(Kompas.com) 20/06/26 06:00 254991
KOMPAS.com-Penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) kembali menyoroti kelayakan investasi pasar saham Indonesia.
Sorotan itu muncul menjelang tinjauan penting MSCI pada pekan depan.
MSCI menyebut pasar modal Indonesia masih menghadapi keterbatasan visibilitas atas kepemilikan saham.
Penyedia indeks global itu juga menyoroti indikasi perilaku perdagangan terkoordinasi di pasar modal Indonesia.
Meski begitu, sejumlah investor masih memperkirakan Indonesia bisa mempertahankan status emerging market atau pasar negara berkembang.
Pasar saham Indonesia sudah tertekan sejak Januari 2026.
Saat itu, MSCI menyoroti persoalan transparansi. MSCI juga memperingatkan potensi penurunan klasifikasi Indonesia dari pasar negara berkembang menjadi frontier market atau pasar perbatasan.
Penurunan status itu dinilai kecil kemungkinannya terjadi dalam waktu dekat.
Namun, dampaknya bisa besar jika penurunan status benar terjadi. Arus dana keluar berpotensi mencapai 13 miliar dollar AS atau sekitar Rp 231,43 triliun.
Pada perdagangan Jumat, Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG bergerak naik turun tipis pada awal perdagangan.
Investor masih menimbang dampak tinjauan aksesibilitas pasar MSCI yang dirilis pada Kamis malam.
IHSG telah turun sekitar 29 persen sepanjang 2026.
Kinerja tersebut menjadikan pasar saham Indonesia sebagai salah satu bursa utama dengan performa terburuk di dunia.
Investor asing juga telah menjual saham Indonesia senilai sekitar 3,65 miliar dollar AS sepanjang tahun ini. Nilai tersebut setara sekitar Rp 64,98 triliun.
MSCI turunkan penilaian arus informasi
MSCI menurunkan penilaian terhadap kriteria arus informasi Indonesia dalam tinjauan terbarunya. Penilaian tersebut turun menjadi negatif.
Penurunan itu mencerminkan kurangnya transparansi dalam data kepemilikan saham dan aktivitas pasar. Menurut MSCI, kondisi tersebut mengganggu pembentukan harga yang wajar.
Investor global juga menjadi lebih sulit menilai jumlah saham beredar bebas atau free float perusahaan secara akurat.
Free float merupakan saham yang tersedia untuk diperdagangkan publik.
Saham tersebut tidak dimiliki pemegang saham pengendali atau pemegang saham strategis.
Manajer dana SGMC Capital di Singapura, Mohit Mirpuri, menilai tinjauan MSCI masih lebih seimbang dibandingkan kekhawatiran utama pasar.
Ia mencatat hanya satu ukuran aksesibilitas yang memburuk.
Pada saat yang sama, Indonesia masih mencatat skor baik dalam sejumlah kriteria utama dibandingkan beberapa negara lain.
Negara tersebut antara lain Korea Selatan, China, dan India.
"Poin kuncinya adalah bahwa ini bukanlah penurunan yang luas dalam kerangka aksesibilitas Indonesia," katanya. "Skenario dasar kami tetap bahwa Indonesia mempertahankan status pasar negara berkembangnya."
OJK sebut reformasi terus berjalan
Peringatan MSCI pada Januari 2026 sebelumnya mendorong sejumlah langkah reformasi dari otoritas pasar modal.
Salah satunya, regulator menaikkan batas minimum free float bagi emiten menjadi 15 persen.
Langkah itu muncul setelah sejumlah petinggi bursa dan regulator mengundurkan diri dalam satu sore pada Januari 2026.
Otoritas Jasa Keuangan atau OJK pada Jumat menyatakan, tinjauan MSCI menegaskan kembali arah reformasi pasar Indonesia.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hasan Fawzi mengatakan, penguatan transparansi pasar, integritas, dan kualitas informasi merupakan proses berkelanjutan.
Menurut Hasan, masukan dari MSCI menjadi bagian dari proses evaluasi yang konstruktif. Penurunan klasifikasi oleh MSCI bisa memberi tekanan besar bagi pasar saham Indonesia.
MSCI merupakan salah satu penyedia indeks pasar terbesar di dunia. Indeks MSCI menjadi acuan bagi investasi pasif bernilai miliaran dollar AS.
Jika status Indonesia diturunkan, dana pelacak indeks akan terdorong menjual saham Indonesia.
Manajer investasi aktif yang memakai indeks MSCI sebagai acuan juga berpotensi mengurangi eksposur ke pasar Indonesia.
Manajer portofolio Allspring Global Investments di Singapura, Gary Tan, menilai tinjauan MSCI memperkuat pandangan mengenai tantangan struktural Indonesia.
Tan juga memperkirakan Indonesia masih bisa mempertahankan status pasar negara berkembang.
Menurut dia, tekanan saat ini lebih mungkin menjadi pendorong reformasi pasar lanjutan.
Tekanan tersebut belum tentu langsung berujung pada penurunan status dalam jangka pendek.
Masalah kepercayaan dan tata kelola
MSCI memperpanjang proses tinjauan terhadap pasar Indonesia pada April 2026.
Pada Mei 2026, MSCI menghapus enam perusahaan dari indeksnya. Sebagian besar perusahaan tersebut terkait dengan taipan.
Keputusan itu kembali memicu tekanan pada harga saham. Sorotan MSCI juga membuka kekhawatiran lebih luas terhadap Indonesia pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Kebijakan populis dan kekhawatiran terhadap kesehatan fiskal menekan kepercayaan investor. Rupiah sempat melemah ke level terendah sepanjang masa.
Kondisi itu mendorong bank sentral menaikkan suku bunga dalam beberapa pekan terakhir untuk menopang nilai tukar.
MSCI juga mencatat Indonesia belum memiliki pasar mata uang luar negeri yang efisien. Pasar domestik pada saat yang sama masih menghadapi sejumlah kendala.
Lembaga pemeringkat Moody\'s dan Fitch menurunkan prospek peringkat utang Indonesia menjadi negatif pada awal tahun ini.
Keduanya menyoroti penurunan kredibilitas kebijakan.
Sorotan itu muncul ketika ekonomi Indonesia senilai 1,4 triliun dollar AS, atau sekitar Rp 24.922,8 triliun, menghadapi pelemahan kepercayaan investor.
Kepala Riset Maybank Indonesia Jeffrosenberg Chen Lim mengatakan, komentar MSCI menunjukkan fokus investor mulai bergeser.
Menurut dia, perhatian investor tidak lagi hanya tertuju pada isu teknis akses pasar.
Investor juga mulai menyoroti masalah kepercayaan dan tata kelola.
Masalah seperti ini biasanya lebih sulit diperbaiki dan membutuhkan waktu lebih panjang.
"Indonesia mungkin menghindari penurunan peringkat tahun ini tetapi dapat tetap berada di bawah pengawasan sampai regulator menunjukkan peningkatan yang berarti dalam transparansi, standar pengungkapan, dan pengawasan pasar."
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang#bei #bursa-efek-indonesia #indeks-msci #msci #morgan-stanley-capital-international