RI Tertinggal dari Malaysia dalam Pengembangan Ekosistem Semikonduktor
Indonesia tertinggal dalam ekosistem semikonduktor dibanding Malaysia, Singapura, dan Vietnam. Faktor utama adalah kurangnya talenta, kebijakan, dan infrastruktur.
(Bisnis.Com) 09/06/26 09:45 244333
Bisnis.com, JAKARTA — Indonesia dinilai masih tertinggal cukup jauh dibandingkan Singapura, Malaysia, dan Vietnam, dalam membangun ekosistem manufaktur teknologi, khususnya industri semikonduktor.
Keterlambatan membangun rantai pasok, keterbatasan talenta, hingga belum jelasnya arah kebijakan menjadi faktor yang membuat Indonesia belum masuk dalam peta utama industri chip kawasan.
Kepala Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan (PRSIMB) BRIN Nugroho Adi Sasongko mengatakan, jika berkaca pada Malaysia, negara tetangga Indonesia ini berhasil memposisikan diri sebagai pusat manufaktur bernilai tambah tinggi dengan menguasai sekitar 12%-13% pasar global semiconductor packaging and testing.
Negari Jiran juga memiliki industri elektronik dan listrik senilai US$116 miliar atau sekitar 43% dari total ekspor manufakturnya. "Malaysia unggul dalam sofistikasi, inovasi, dan penguasaan rantai nilai semikonduktor high-end. Mereka adalah raja nilai tambah di ASEAN,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (8/6/2026).
Keunggulan Malaysia katanya ditopang oleh ekosistem outsourced semiconductor assembly and test (OSAT) yang telah berkembang sejak 1970an, fokus pada teknologi advanced packaging, serta dukungan sumber daya manusia teknik dan kebijakan investasi yang konsisten.
Dari sudut pandang ketahanan energi dan industri berkelanjutan, Malaysia juga lebih siap dalam efisiensi energi fabrikasi chip, meskipun masih perlu transisi ke energi hijau penuh.
Sementara itu, Vietnam muncul sebagai pusat manufaktur baru yang agresif. Negara tersebut mencatat total perdagangan barang mencapai US$405 miliar pada 2025, melampaui Malaysia.
Arus investasi asing langsung yang masuk juga mencapai US$38,2 miliar, dengan sekitar 71% mengalir ke sektor manufaktur. Vietnam saat ini telah menarik berbagai investasi semikonduktor mulai dari fasilitas assembly dan testing Samsung hingga pabrik substrat semikonduktor milik LG Innotek. Talenta teknik di negara tersebut juga melimpah dengan biaya kompetitif.
“Ini bukan lagi low-cost assembly. Ini adalah strategi sengaja membangun ekosistem dari hulu ke hilir, dengan memanfaatkan pergeseran rantai pasok global keluar dari China.
Adapun Singapura mempertahankan posisinya sebagai pusat riset, desain, dan teknologi tinggi di kawasan dengan dukungan sumber daya manusia berkualitas, perlindungan hak kekayaan intelektual, serta kepastian regulasi yang kuat.
Di tengah kemajuan negara-negara tersebut, Indonesia dinilai masih tertinggal karena belum memiliki fondasi utama yang dibutuhkan industri semikonduktor. Nugroho mengungkapkan, Indonesia belum memiliki satu pun pabrik wafer silikon meskipun memiliki cadangan pasir silika yang melimpah.
Selain itu, jumlah talenta dan insinyur semikonduktor di Tanah Air masih sangat terbatas. Kemudian, insentif yang diberikan kepada investor industri chip belum mampu bersaing dengan negara-negara tetangga, terutama Vietnam.
Padahal, lanjut Nugroho, Indonesia memiliki sejumlah modal awal berupa cadangan nikel, timah, dan silika yang dibutuhkan industri elektronik, pasar domestik yang besar, serta program hilirisasi yang sedang dijalankan pemerintah.
"Masalahnya, kita belum punya fokus nasional yang jelas untuk semikonduktor. Talenta masih terbatas dan belum ada kebijakan fiskal maupun infrastruktur khusus seperti kawasan ekonomi untuk industri chip packaging," jelasnya.
Menurut Nugroho, Indonesia juga tidak bisa lagi mengandalkan pendekatan konvensional apabila ingin masuk ke dalam rantai pasok global semikonduktor. Persaingan dengan negara yang sudah lebih maju membuat Indonesia perlu memilih segmen yang lebih realistis.
Dia menilai Indonesia tidak perlu langsung bersaing dengan Malaysia dalam teknologi semikonduktor berkelas tinggi. Sebaliknya, pemerintah perlu fokus pada ceruk industri tertentu. “Mulai dari niche dulu, seperti substrat dan bahan baku. Itu jalan paling realistis buat masuk ke rantai pasok global,” sambungnya.
Selain itu, Indonesia perlu memperkuat kerja sama dengan negara-negara yang telah lebih maju. Singapura dapat menjadi mitra dalam bidang riset dan pengembangan, sementara Malaysia berpotensi menjadi mitra pada sektor packaging dan assembly.
Nugroho juga mendorong pembangunan program vokasi semikonduktor yang terintegrasi dengan kebutuhan industri, termasuk melibatkan perusahaan global yang telah beroperasi di Indonesia seperti Infineon, NXP, dan onsemi.
“Tanpa langkah itu, bukan hanya Malaysia dan Vietnam yang akan meninggalkan kita, tapi juga Thailand dan Filipina,” tuturnya mengingatkan.
Dalam peta jalan yang diusulkannya, Indonesia perlu memulai pembangunan satu hingga dua pabrik wafer silikon berbasis bahan baku lokal pada periode 2026-2028, mencetak sedikitnya 5.000 teknisi semikonduktor per tahun, serta memperkuat ekosistem desain chip nasional.
Selanjutnya, pada periode 2029-2034, Indonesia dapat membangun fasilitas assembly, testing, and packaging (ATP) berstandar global di kawasan industri seperti Batam dan KEK Tanjung Sauh sebelum masuk ke tahap pengembangan wafer berteknologi lebih tinggi pada dekade berikutnya.
Meski mengakui Indonesia terlambat, Nugroho menilai peluang untuk masuk ke rantai pasok semikonduktor global masih terbuka. "Kalau konsisten, Indonesia bisa menjadi pemain di sektor assembly, testing, dan bahan baku dalam tiga sampai lima tahun ke depan. Namun untuk menjadi pusat manufaktur seperti Malaysia saat ini, dibutuhkan waktu setidaknya 10 hingga 15 tahun," katanya.
#indonesia-semikonduktor #malaysia-semikonduktor #ekosistem-semikonduktor #industri-semikonduktor #manufaktur-semikonduktor #rantai-pasok-semikonduktor #talenta-semikonduktor #kebijakan-semikonduktor #n-a