Puluhan Kapal di Teluk Persia Diam-diam Koordinasi dengan Militer AS

Puluhan Kapal di Teluk Persia Diam-diam Koordinasi dengan Militer AS

Hampir 40 kapal berhasil keluar dari Teluk Persia setelah berkoordinasi dengan Angkatan Laut AS

(Kompas.com) 05/06/26 11:33 240908

KOMPAS.com - Puluhan kapal yang sebelumnya tertahan di Teluk Persia mulai meninggalkan kawasan tersebut melalui Selat Hormuz dalam beberapa pekan terakhir.

Dikutip dari CNBC, Jumat (5/6/2026), pergerakan ini terjadi setelah operator kapal menjalin koordinasi dengan Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) di tengah situasi keamanan yang masih belum sepenuhnya stabil.

Data Lloyd\'s List Intelligence menunjukkan hampir 40 kapal berhasil keluar dari Teluk Persia dalam tiga minggu terakhir.

Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur pelayaran dan distribusi energi terpenting di dunia yang sempat mengalami gangguan akibat meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran.

Richard Meade, Pemimpin Redaksi Lloyd\'s List, mengatakan sejumlah pemilik kapal telah menyerahkan rencana pelayaran mereka kepada Naval Cooperation and Guidance for Shipping (NCAGS) yang berbasis di Bahrain sebelum melintasi Selat Hormuz.

Menurut dia, koordinasi tersebut diduga bertujuan memperoleh jaminan terbatas dari Angkatan Laut AS untuk menghadapi kemungkinan ancaman terhadap kapal-kapal komersial.

Meski demikian, Meade menegaskan keputusan untuk melintasi Selat Hormuz tetap berada di tangan masing-masing operator kapal.

"Keputusan transit sepenuhnya berada di tangan operator kapal. Pelaku industri mengatakan tidak ada koordinasi terpusat dalam proses ini," ujar Meade dalam paparannya, Kamis.

Seorang pejabat pertahanan AS juga menegaskan bahwa pasukan AS tidak melakukan pengawalan langsung terhadap kapal-kapal komersial.

Menurut pejabat tersebut, militer AS hanya melakukan komunikasi dan koordinasi dengan kapal yang ingin melintas secara aman melalui jalur pelayaran tersebut.

Lalu lintas pelayaran masih rendah

Meski puluhan kapal mulai bergerak meninggalkan Teluk Persia, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz masih jauh di bawah tingkat normal sebelum konflik pecah.

Lloyd\'s List mencatat volume pelayaran melalui jalur tersebut sempat menyentuh titik terendah selama konflik Iran pada Mei lalu.

Kondisi itu menunjukkan pelaku industri pelayaran masih berhati-hati terhadap risiko keamanan yang dapat mengganggu perjalanan kapal.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump pada awal Mei menghentikan secara mendadak misi Angkatan Laut AS yang dikenal sebagai Project Freedom.

Program tersebut sempat dibentuk untuk mengawal kapal-kapal yang terjebak di Teluk Persia agar dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman.

Penghentian program itu membuat operator kapal kembali harus menentukan strategi pelayaran mereka sendiri di tengah situasi yang belum sepenuhnya kondusif.

Operator kapal menghadapi dilema

Operator kapal yang masih berada di kawasan Teluk Persia menghadapi risiko dari berbagai arah.

Di satu sisi, kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz berpotensi menjadi sasaran serangan Iran apabila tidak memperoleh persetujuan Teheran untuk menggunakan rute tertentu di kawasan tersebut.

Di sisi lain, kerja sama dengan Iran juga dapat menimbulkan risiko sanksi dari AS. Situasi ini membuat banyak perusahaan pelayaran memilih pendekatan yang lebih hati-hati sebelum memutuskan melintasi jalur tersebut.

Bentrokan AS-Iran kembali memanas

Ketegangan di sekitar Selat Hormuz kembali meningkat pada awal pekan ini setelah terjadi bentrokan antara pasukan AS dan Iran.

Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan Iran meluncurkan tiga drone serang yang mengarah ke kapal-kapal sipil yang sedang melintas di perairan kawasan tersebut.

Pasukan AS kemudian menembak jatuh ketiga drone tersebut dan melancarkan serangan balasan ke posisi militer Iran di Pulau Qeshm.

Menurut CENTCOM, setelah insiden itu Iran juga meluncurkan rudal balistik ke arah Kuwait dan Bahrain. Sebagian rudal disebut gagal mencapai sasaran atau berhasil dicegat.

Situasi tersebut sempat memicu kekhawatiran pasar bahwa gencatan senjata yang berlaku dapat runtuh dan konflik berskala penuh kembali terjadi. Kekhawatiran itu turut mendorong kenaikan harga minyak dunia dalam waktu singkat.

AS tegaskan akan lindungi kapal komersial

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan Washington akan terus merespons setiap serangan Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintas di kawasan tersebut.

Menurut Rubio, penggunaan drone terhadap kapal sipil berisiko menimbulkan dampak besar karena serangan semacam itu dapat mengenai bagian mana pun dari kapal dan memicu bencana lingkungan.

"Jika mereka tidak menembaki kapal-kapal itu, kami tidak akan menembak. Namun kami harus merespons ketika serangan terjadi," kata Rubio saat memberikan keterangan di Komite Hubungan Luar Negeri DPR AS.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa AS masih akan terlibat dalam upaya menjaga keamanan jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz, meski tidak lagi mengawal kapal komersial secara langsung.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#kapal-tanker #selat-hormuz #teluk-persia #perang-iran #konflik-timur-tengah

https://money.kompas.com/read/2026/06/05/113347026/puluhan-kapal-di-teluk-persia-diam-diam-koordinasi-dengan-militer-as