Selat Hormuz, Jalur Energi yang Bikin Pasar Global Deg-degan
Ketegangan di Timur Tengah kembali menempatkan Selat Hormuz di pusat perhatian dunia.
(Kompas.com) 05/06/26 11:11 240862
JAKARTA, KOMPAS.com – Ketegangan di Timur Tengah kembali menempatkan Selat Hormuz di pusat perhatian dunia.
Jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab itu menjadi salah satu titik terpenting dalam perdagangan energi global.
Ketika lalu lintas kapal di kawasan tersebut terganggu, dampaknya langsung terasa pada harga minyak, biaya pengiriman, hingga prospek pertumbuhan ekonomi dunia.
ISNA/AMIRHOSSEIN KHORGOOEI via AFP Kapal penarik Basim berbendera Iran berlayar dekat kapal yang berlabuh di Selat Hormuz. Foto ini dipotret dari Bandar Abbas, Iran selatan, 4 Mei 2026 ketika perang Iran masih berkecamuk.Dalam beberapa bulan terakhir, konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat (AS), dan sekutunya telah mengganggu aktivitas pelayaran di Selat Hormuz.
Akibatnya, ratusan kapal tertahan di kawasan Teluk dan ribuan pelaut terjebak menunggu kepastian keamanan untuk melintas.
Situasi ini membuat Selat Hormuz kembali menjadi perhatian utama pelaku pasar energi global. Bukan tanpa alasan, kawasan tersebut selama puluhan tahun dikenal sebagai salah satu "chokepoint" atau titik sempit paling vital dalam rantai pasok energi dunia.
Mengapa Selat Hormuz sangat penting?
Selat Hormuz berada di antara Iran dan Oman. Meski secara geografis relatif sempit, perannya sangat besar dalam perdagangan internasional, terutama minyak dan gas alam cair (LNG).
Sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia melewati jalur tersebut. Negara-negara produsen utama di kawasan Teluk, seperti Arab Saudi, Irak, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Qatar, sangat bergantung pada akses melalui Selat Hormuz untuk mengirim energi ke pasar internasional.
Karena itu, setiap ancaman terhadap kelancaran pelayaran di kawasan tersebut hampir selalu memicu kekhawatiran pasar global.
TASNIM/MEYSAM MIRZADEH via AFP Kapal Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) saat diduga hendak menyiya kapal kontainer yang menerobos Selat Hormuz pada 21 April 2026. Foto ini diperoleh AFP dari kantor berita Iran, Tasnim. Media AS Sebut Dua Kapal Perang Melintasi Selat Hormuz di Bawah Serangan Iran. Apa Isi Proposal Terbaru Iran ke AS untuk Mengakhiri Perang?Gangguan kecil saja dapat menyebabkan lonjakan harga energi karena investor memperkirakan pasokan akan berkurang.
Dalam konflik terbaru, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz mengalami penurunan drastis. Lalu lintas kapal tanker sempat anjlok lebih dari 90 persen dibandingkan kondisi normal setelah Iran menyatakan pembatasan terhadap kapal-kapal yang melintas.
Konflik yang mengubah peta pelayaran
Ketegangan meningkat setelah perang yang melibatkan AS, Israel, dan Iran pecah pada akhir Februari 2026. Sebagai respons, Iran menyatakan pembatasan terhadap lalu lintas kapal di Selat Hormuz.
Sejumlah sumber industri pelayaran menyebut situasi tersebut membuat banyak operator kapal memilih menunda perjalanan atau membatalkan pelayaran karena alasan keselamatan.
Meskipun tidak ada blokade formal yang diakui secara internasional, perusahaan pelayaran dan asuransi menilai risiko keamanan terlalu tinggi. Akibatnya, banyak kapal memilih tetap berada di pelabuhan atau mencari alternatif lain.
Laporan Reuters menyebut ratusan kapal dan sekitar 20.000 pelaut masih tertahan di kawasan Teluk karena belum adanya jaminan keamanan yang memadai untuk berlayar melalui Selat Hormuz.
Perusahaan pengelola kapal V.Group, yang memiliki sejumlah kapal di wilayah tersebut, menegaskan bahwa pelayaran normal tidak dapat dipulihkan tanpa jaminan keamanan internasional yang kuat.
V.Group menyatakan aktivitas drone dan rudal yang masih berlangsung membuat risiko pelayaran tetap tinggi.
Kapal mulai bergerak, tetapi belum normal
Meski situasi masih jauh dari normal, beberapa tanda pemulihan mulai terlihat.
Reuters melaporkan, dalam sepekan terakhir terdapat sejumlah kapal tanker yang berhasil keluar dari Selat Hormuz.
AFP/FRED TANNEAU Komandan Perancis Thomas Scalabre saat menunjuk posisi kapal-kapal di Selat Hormuz, dalam layar di MICA (Maritime Information and Cooperation Awareness) di Brest, Perancis, 27 April 2026.Reuters mewartakan, kapal tanker Aframax Cy Victorious yang membawa bahan bakar minyak dari Irak menuju Malaysia menjadi salah satu kapal yang berhasil melintas.
Kapal tanker lain, Sti Elysees, juga berhasil keluar dari kawasan tersebut setelah memuat produk minyak dari Kuwait.
Selain itu, kapal LNG Marigold yang dikelola ADNOC berhasil memuat kargo di Uni Emirat Arab setelah melakukan perjalanan masuk melalui jalur yang sensitif secara keamanan.
Beberapa kapal LNG lain yang terkait dengan QatarEnergy juga dilaporkan bergerak menuju kawasan Selat Hormuz.
Pergerakan tersebut dianggap sebagai sinyal bahwa sebagian pelaku industri mulai mencoba menghidupkan kembali rantai pasok energi. Namun volume lalu lintas masih jauh di bawah kondisi normal.
Pasar kesulitan membaca situasi
Salah satu dampak paling signifikan dari krisis ini adalah berkurangnya transparansi perdagangan minyak.
Reuters melaporkan, sejumlah kapal tanker mulai menggunakan metode "dark mode" dengan mematikan sistem pelacakan otomatis atau Automatic Identification System (AIS). Cara ini membuat pergerakan menjadi lebih sulit dipantau oleh pasar.
Praktik tersebut menyebabkan pelaku pasar kesulitan menghitung volume minyak yang sebenarnya masih mengalir melalui Selat Hormuz.
Akibatnya, ketidakpastian meningkat dan harga energi menjadi lebih sensitif terhadap setiap perkembangan politik maupun militer di kawasan tersebut.
Reuters mencatat, meskipun secara resmi hanya sedikit kapal yang tercatat melintas setiap hari, data satelit menunjukkan aktivitas yang sebenarnya lebih tinggi karena sebagian kapal tidak menyalakan sistem pelacakan mereka.
NASA EARTH OBSERVATORY via AFP Selat Hormuz saat dilihat dari Satelit Terra milik NASA pada 5 Februari 2025.Dampaknya terhadap harga minyak
Ketika risiko di Selat Hormuz meningkat, harga minyak dunia cenderung naik karena pasar mengantisipasi potensi gangguan pasokan.
Namun pergerakan harga juga sangat dipengaruhi oleh perkembangan diplomatik.
Pada awal Juni 2026, harga minyak dunia justru turun sekitar 3 persen setelah muncul harapan bahwa ketegangan di kawasan dapat mereda melalui kesepakatan gencatan senjata dan negosiasi yang lebih luas antara AS dan Iran.
Harga minyak mentah Brent saat itu tercatat turun menjadi sekitar 94,99 dollar AS per barrel, sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun menjadi sekitar 92,83 dollar AS per barrel.
Penurunan tersebut mencerminkan optimisme pasar terhadap kemungkinan terbukanya kembali jalur perdagangan energi di Selat Hormuz.
Meski demikian, para pelaku pasar masih berhati-hati karena jalur tersebut belum sepenuhnya pulih dan ketegangan militer masih berlangsung.
OECD ingatkan risiko perlambatan ekonomi
Gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz tidak hanya memengaruhi pasar energi, tetapi juga pertumbuhan ekonomi global.
Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) memperingatkan, penutupan berkepanjangan Selat Hormuz berpotensi memicu perlambatan ekonomi dunia yang lebih dalam.
Dalam skenario yang dipaparkan OECD di laporan Economic Outlook teranyarnya, pertumbuhan ekonomi global dapat turun signifikan apabila jalur tersebut tidak kembali beroperasi secara normal dalam waktu dekat.
OECD menilai negara-negara Asia menjadi kelompok yang paling rentan karena banyak bergantung pada pasokan minyak dan gas dari kawasan Teluk.
THINKSTOCKS Ilustrasi pertumbuhan ekonomi.Gangguan berkepanjangan berpotensi meningkatkan biaya energi, mempercepat inflasi, dan menekan aktivitas ekonomi.
OECD juga menyebut, harga bahan bakar telah meningkat tajam sejak konflik pecah, sementara tekanan inflasi muncul di sejumlah negara.
Tantangan besar industri pelayaran
Selain pasar energi, industri pelayaran global juga menghadapi tekanan besar.
Operator kapal menghadapi lonjakan premi asuransi, meningkatnya biaya keamanan, serta risiko keselamatan awak kapal.
Dalam beberapa kasus, perusahaan pelayaran memilih tidak mengirim kapal ke kawasan Teluk sampai situasi benar-benar aman.
Kondisi ini menciptakan efek berantai terhadap perdagangan global. Semakin sedikit kapal yang berani melintas, semakin terbatas pula kapasitas pengiriman energi dari kawasan Teluk ke pasar internasional.
Reuters melaporkan, meskipun beberapa kapal mulai bergerak, lebih dari 11 juta barrel produksi minyak per hari masih terdampak oleh gangguan yang terjadi.
Selain itu, masih minimnya kapal kosong yang kembali ke kawasan Teluk membuat pemulihan aktivitas pengiriman berlangsung lambat.
Di tengah ketidakpastian tersebut, Selat Hormuz tetap menjadi salah satu titik paling strategis dalam perekonomian dunia.
Pergerakan kapal-kapal di jalur sempit itu terus dipantau oleh pemerintah, pelaku industri energi, perusahaan pelayaran, hingga investor global karena setiap perubahan kondisi dapat memengaruhi pasokan energi, harga minyak, dan prospek pertumbuhan ekonomi dunia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang#harga-minyak #timur-tengah #pertumbuhan-ekonomi-dunia #kapal-tanker #selat-hormuz