Wall Street Jatuh dari Rekor Tertinggi, Konflik AS-Iran dan Harga Minyak Jadi Pemicu
Wall Street melemah dari rekor akibat ketegangan geopolitik Timur Tengah dan lonjakan harga minyak, memicu kekhawatiran inflasi. The Fed terancam naikkan suku bunga.
(Kompas.com) 04/06/26 06:27 239339
NEW YORK, KOMPAS.com - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street ditutup melemah dari level rekor tertinggi pada perdagangan Rabu (4/6/2026) waktu setempat.
Meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta lonjakan harga minyak mentah memicu kekhawatiran inflasi dan mendorong investor merealisasikan sebagian keuntungan.
Mengutip Reuters Kamis (4/6/2026), indeks Dow Jones Industrial Average ditutup turun 620,72 poin atau 1,21 persen ke level 50.687,07.
Sementara itu, indeks S&P 500 terkoreksi 56,06 poin atau 0,74 persen menjadi 7.553,72, sedangkan indeks Nasdaq Composite melemah 239,92 poin atau 0,89 persen ke posisi 26.853,98.
Dari 11 sektor utama dalam indeks S&P 500, sektor teknologi dan keuangan menjadi kontributor terbesar penurunan indeks.
Sebaliknya, sektor energi mencatat kinerja terbaik seiring kenaikan harga minyak dunia yang mendukung saham-saham di sektor tersebut.
Ketiga indeks utama Wall Street berakhir di zona merah dengan tekanan terbesar berasal dari saham-saham teknologi dan keuangan.
Sementara itu, indeks saham berkapitalisasi kecil Russell 2000 mencatat kinerja yang lebih buruk dibandingkan indeks saham berkapitalisasi besar.
Di tengah pelemahan pasar secara umum, saham-saham produsen chip justru mampu menguat.
Indeks saham chip naik 1,4 persen yang menunjukkan antusiasme investor terhadap tema kecerdasan artificial intelligence (AI) masih tetap kuat.
Meski demikian, enam dari tujuh saham raksasa yang selama ini menjadi motor penggerak tren AI ditutup melemah.
Hanya saham Meta Platforms yang mampu mencatatkan kenaikan signifikan sebesar 4,2 persen.
“Saham-saham AI diperdagangkan di dunia mereka sendiri yang sepenuhnya terpisah, sebagian besar mengabaikan risiko makro dan geopolitik, setidaknya dalam batas wajar,” kata analis strategi investasi Baird di Louisville, Kentucky, Ross Mayfield.
“Oleh karena itu, akan selalu ada permintaan terhadap saham-saham tersebut, terutama pada hari-hari ketika saham lain terlihat kurang menarik,” lanjutnya.
Sementara itu, indeks S&P Software & Services yang dalam beberapa bulan terakhir tertekan akibat kekhawatiran terkait potensi disrupsi AI, merosot hingga 4 persen.
Sentimen negatif pasar juga dipicu meningkatnya konflik di Timur Tengah setelah serangan udara antara AS dan Iran kembali terjadi.
Peristiwa tersebut menjadi ujian terbaru bagi gencatan senjata yang selama ini dinilai rapuh.
Kenaikan harga minyak akibat konflik tersebut turut meningkatkan kekhawatiran bahwa lonjakan biaya energi dapat berkembang menjadi tekanan inflasi yang lebih luas.
“Pasar saat ini terus menunjukkan tarik-menarik antara fundamental ekonomi AS yang masih sangat positif dan kekhawatiran bahwa konflik berkepanjangan di Timur Tengah dapat memunculkan risiko penurunan yang lebih besar,” ujar Direktur Investasi Senior U.S. Bank Wealth Management di Billings, Montana, Bill Northey.
Menurut Northey, salah satu faktor utama yang kini menjadi perhatian investor adalah potensi penutupan Selat Hormuz, jalur strategis perdagangan energi dunia.
“Kerangka analisis kami berpusat pada berapa lama Selat Hormuz ditutup sebagai faktor utama dalam membentuk ekspektasi inflasi,” kata Northey.
“Semakin lama durasi penutupan tersebut, semakin kecil kemungkinan Federal Reserve dapat melonggarkan kebijakan moneternya pada tahun 2026,” tambahnya.
Sejalan dengan kondisi tersebut, pasar keuangan kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve pada akhir pertemuan Desember 2026 mencapai 41,1 persen.
Angka tersebut melonjak tajam dibandingkan 9,1 persen pada bulan sebelumnya, berdasarkan data FedWatch CME.
Presiden Federal Reserve New York, John Williams, kembali menegaskan bahwa bank sentral AS belum perlu mengubah kebijakan suku bunga meskipun risiko inflasi meningkat.
Menurut Williams, posisi kebijakan moneter saat ini masih berada pada tingkat yang tepat untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan pengendalian inflasi.
Dari sisi data ekonomi, pasar tenaga kerja AS masih menunjukkan kondisi yang relatif stabil, sementara sektor jasa terus mengalami ekspansi.
Namun demikian, biaya input usaha masih tinggi dan rencana belanja perusahaan terlihat melemah akibat kenaikan harga energi serta ketidakpastian geopolitik.
Laporan Beige Book yang dirilis Federal Reserve juga menunjukkan aktivitas ekonomi meningkat dalam beberapa pekan terakhir.
Meski demikian, kondisi pasar tenaga kerja relatif tidak banyak berubah dan dampak kenaikan harga energi akibat konflik geopolitik mulai dirasakan di berbagai wilayah.
Di sektor semikonduktor, saham Marvell Technology, Intel, Qualcomm, dan Sandisk menguat antara 3,7 persen hingga 6,7 persen.
Sebaliknya, saham Broadcom turun 4,5 persen dalam perdagangan setelah jam bursa usai perusahaan tersebut merilis laporan keuangan terbarunya.
Tekanan juga terjadi pada sektor manajemen aset setelah perusahaan investasi asal Swiss, Partners Group, membatasi penarikan dana dari dana ekuitas swasta senilai 8,6 miliar dollar AS.
Akibatnya, saham-saham perusahaan investasi besar seperti KKR, Blackstone, Blue Owl, dan Ares Management terkoreksi antara 3,9 persen hingga 4,2 persen.
Di sisi lain, saham GameStop melonjak 6 persen setelah perusahaan yang dikenal sebagai saham meme tersebut membukukan kenaikan pendapatan kuartalan dan mengumumkan program pembelian kembali saham (buyback) senilai 2 miliar dollar AS.
Sementara itu, perhatian investor juga tertuju pada perusahaan antariksa SpaceX milik Elon Musk.
Berdasarkan sumber yang mengetahui rencana tersebut, SpaceX dikabarkan akan menetapkan harga penawaran umum perdana saham (IPO) sebesar 135 dollar AS per saham, yang berpotensi mengangkat valuasi perusahaan hingga mencapai 75 miliar dollar AS.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang#ketegangan-geopolitik #wall-street-melemah #saham-ai #inflasi-minyak