Pefindo dan S&P Wanti-Wanti Efek Perang Iran-AS ke Industri dan Perbankan RI
Perang Iran-AS meningkatkan risiko inflasi di Indonesia akibat kenaikan harga energi, meskipun prospek ekonomi Indonesia tetap solid menurut S&P Global Ratings.
(Bisnis.Com) 24/05/26 14:15 230551
Bisnis.com, JAKARTA – Perang Iran—AS dan Israel, telah memanaskan harga energi dunia dan membawa risiko inflasi yang lebih tinggi ke Tanah Air. Meskipun begitu, organisasi pemeringkat kredit menilai posisi Indonesia cenderung memiliki prospek yang solid.
Chief Economist Asia Pacific S&P Global Ratings Louis Kuijs, dalam seminar Annual Indonesia Credit Spotlight yang digelar di Jakarta, membeberkan fakta bahwa konflik yang berkecamuk antara Iran—AS telah mengakibatkan tekanan pada harga energi dan pada gilirannya, menggeser sikap bank sentral terhadap arah suku bunga.
Louis menilai, gangguan pasar energi yang berkepanjangan merupakan risiko utama bagi negara Asia Selatan dan Asia Tenggara. Pasalnya, memanasnya harga energi dapat menaikkan biaya hidup, mengikis daya beli, hingga menyebabkan keterbatasan secara sektoral.
"Kami memperkirakan pertumbuhan Indonesia akan tetap solid pada tahun 2026 di tengah langkah-langkah kebijakan untuk mendukung pertumbuhan dan menekan dampak kenaikan harga minyak terhadap harga bahan bakar domestik serta perubahan kebijakan tarif AS baru- baru ini. Permintaan yang lebih rendah dari mitra dagang besar seperti Tiongkok, AS, dan India merupakan risiko utama,” kata Louis, dikutip Minggu (24/5/2026).
Di satu sisi, S&P Global Ratings menilai risiko perang Iran—AS terhadap sektor keuangan RI cenderung minim. Hal itu lantaran eksposur langsung perbankan RI terhadap negara-negara Timur Tengah cenderung terbatas.
Hanya saja, dalam skenario terburuk yang berisiko membuat harga energi memanas secara berkepanjangan, kerugian kredit diprediksi bakal meningkat.
Director of Financial Institutions Ratings S&P Global Ratings Ivan Tan, memprediksi total biaya kredit dapat mencapai sekitar 100 bps, dengan prediksi kerugian tambahan sebesar 35 bps pada 2026—2027 akibat gangguan energi.
“Terlepas dari risiko-risiko ini, fundamental sektor tetap kuat. Bank-bank Indonesia diuntungkan oleh profitabilitas yang solid dan rasio kecukupan modal mendekati 25%, yang memberikan penyangga yang berarti terhadap tekanan eksternal,” kata Ivan dalam kesempatan yang sama.
Meskipun begitu, dampak perang Iran—AS justru dinilai akan lebih terasa pada rumah tangga berpenghasilan rendah dan UKM yang lebih rentan terhadap memburuknya kondisi ekonomi karena cenderung sensitif terhadap volatilitas.
Senada, Kepala Divisi Pemeringkatan Jasa Keuangan Pefindo Danan Dito, menilai perang Iran—AS berisiko memberikan tekanan pada perekonomian RI lantaran perbankan dan perusahaan keuangan bersiap menghadapi pertumbuhan bisnis yang lebih lesu pada tahun ini.
“Terlepas dari kondisi keuangan mereka yang solid, yang ditunjukkan oleh penyangga modal yang kuat dan indikator kualitas aset yang terkendali, harga minyak yang tinggi dalam jangka panjang akan mengikis kepercayaan konsumen, daya beli, dan kemampuan pembayaran kembali,” katanya.
Peluang RI
Associate Director, Corporate Ratings, S&P Global Ratings Ker Liang Chan, menilai Indonesia justru memiliki sederet peluang yang dapat dimanfaatkan, seperti melalui kenaikan harga hidrokarbon dan logam.
Hanya saja, risiko justru datang dari kebijakan dan regulasi di sektor-sektor CPO, logam, hingga pertambangan. Liang menilai, pemotongan kuota produksi untuk komoditas seperti nikel dan batubara termal dapat merugikan beberapa unit ekonomi, terutama untuk operator yang lebih kecil.
“Secara keseluruhan, kondisi pendanaan domestik seharusnya tetap mendukung pada tahun 2026. Meskipun rupiah telah melemah, sebagian besar perusahaan tampaknya mampu menyerap depresiasi moderat, dengan dampak terbatas pada margin dan pembayaran utang,” katanya.
Senada, Kepala Divisi Pemeringkatan Non-Jasa Keuangan-1 Pefindo Martin Pandiangan, turut menilai sektor komoditas seperti CPO, hulu migas, hingga pertambangan emas akan diuntungkan dari gejolak geopolitik yang memanas belakangan.
Sebaliknya, Martin menilai sektor hilir seperti logam dan petrokimia bakal menghadapi tantangan struktural terkait ketersediaan bahan baku, biaya energi yang lebih tinggi, hingga volatilitas permintaan industri.
Sementara sektor pertambangan batu bara dan nikel, telekomunikasi, hingga barang konsumsi pokok, diprediksi mengalami dampak yang cenderung netral.
”Kami memproyeksikan sektor komoditas seperti minyak kelapa sawit (CPO), hulu minyak dan gas, serta pertambangan emas akan diuntungkan dari dinamika geopolitik yang sedang berlangsung dan depresiasi rupiah, terutama karena keseimbangan permintaan-penawaran dan arus kas dalam denominasi dolar AS,” katanya.
Martin menilai, peningkatan fokus pada integrasi hilir dan efisiensi operasional di antara BUMN seharusnya mampu mendukung posisi strategis yang lebih kuat melalui peningkatan ketahanan bisnis, peningkatan perolehan nilai, dan peningkatan stabilitas keuangan.
”Namun, kami juga mengantisipasi risiko keuangan dan struktural, khususnya terkait dengan peningkatan leverage dari belanja modal yang didanai utang dan kelayakan ekonomi proyek-proyek kompleks,” tutupnya.
_____
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
#perang-iran-as #harga-energi-dunia #risiko-inflasi-indonesia #prospek-ekonomi-indonesia #s-amp-p-global-ratings #gangguan-pasar-energi #pertumbuhan-ekonomi-indonesia #risiko-sektor-keuangan #kerugian