Pertamina Ungkap Tantangan Ketahanan Energi di Tengah Gejolak Global

Pertamina Ungkap Tantangan Ketahanan Energi di Tengah Gejolak Global

Pertamina menghadapi tantangan menjaga ketahanan energi dan penerimaan negara di tengah transisi energi dan gejolak global, dengan fokus pada gas alam.

(Bisnis.Com) 22/05/26 16:04 229115

Bisnis.com, JAKARTA — Perusahaan minyak nasional atau National Oil Company (NOC) menghadapi beban ganda menjaga penerimaan negara sekaligus ketahanan energi di tengah transisi energi dan gejolak geopolitik global.

Kondisi tersebut memaksa investasi migas, khususnya gas bumi, tetap dipacu demi menjaga pasokan domestik.

Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Oki Muraza, mengatakan pemerintah menempatkan perusahaan energi nasional sebagai pilar utama ekonomi sekaligus penjaga keamanan pasokan energi. Dengan adanya peran ganda NOC, maka strategi investasi sektor migas harus tetap dijalankan seiring transisi energi yang sedang berlangsung.

“Selain menjadi mesin pendapatan, tugas kedua kami adalah menjaga ketahanan energi, dan tugas ketiga yang tak kalah penting adalah menciptakan multiplier effect atau efek pengganda ekonomi,” kata Oki dalam sesi diskusi pada acara Indonesian Petroleum Association (IPA) Convention and Exhibition atau IPA Convex 2026 di ICE BSD City, dikutip Jumat (22/5/2026).

Oki menilai gas alam akan memainkan peran penting sebagai energi transisi karena mampu menyediakan energi yang lebih rendah emisi tetapi tetap kompetitif secara ekonomi. Pertamina pun aktif mengembangkan proyek-proyek gas strategis, termasuk proyek Masela bersama Petronas dan Inpex dengan nilai investasi sekitar US$20 miliar.

Dia juga menyoroti tantangan besar Indonesia dalam menjaga keseimbangan pasokan energi domestik. Kapasitas kilang nasional saat ini mencapai sekitar 1 juta barel per hari, sementara produksi minyak domestik baru sekitar 600.000 barel per hari.

“Artinya terdapat kesenjangan sekitar 400.000 barel per hari. Karena itu kami menjalankan berbagai inisiatif untuk meningkatkan produksi,” ujarnya.

Meskipun gas menjadi pilihan utama dalam transisi energi, kenyataan di lapangan memperlihatkan bahwa bisnis gas jauh lebih kompleks. Dalam proyek gas, keputusan investasi akhir membutuhkan kepastian pasar, termasuk adanya sales purchase agreement (SPA).

Secara ekonomi, pasar internasional tentu lebih menarik, terutama di tengah ketegangan geopolitik yang dapat mendorong harga gas tinggi. "Namun tantangan Indonesia adalah aspek keterjangkauan energi bagi masyarakat," ungkap Oki.

Karena itu, Pertamina harus mencari keseimbangan antara mengamankan pasar ekspor demi keekonomian proyek dan tetap memenuhi kebutuhan domestik demi ketahanan energi nasional. Hal tersebut berkaitan dengan pupuk, ketahanan pangan, dan transisi menuju listrik yang lebih hijau.

"Peralihan dari batu bara ke gas alam juga sangat bergantung pada ketersediaan dan keterjangkauan harga gas," tegas Oki.

Sementara itu, VP International Assets Petronas, Mohd Redhani Abdul Rahman, mengatakan NOC saat ini menghadapi tantangan yang makin kompleks akibat kondisi global. Menurut dia, NOC harus mampu menyeimbangkan nilai bisnis, keamanan pasokan energi, keterjangkauan harga, dan keberlanjutan lingkungan secara bersamaan.

“Sebagai NOC, tentu kami ingin menciptakan nilai dari sumber daya yang dimiliki. Namun yang lebih penting, kami harus memastikan keamanan pasokan energi bagi negara, memastikan energi tetap terjangkau, dan juga berkelanjutan,” ujarnya.

Dia menambahkan stabilitas regulasi dan fleksibilitas kebijakan fiskal akan menjadi faktor utama dalam menarik investasi energi yang kini dipandang sebagai salah satu pusat pertumbuhan permintaan energi dunia.

#pertamina #ketahanan-energi #transisi-energi #investasi-migas #gas-bumi #pasokan-energi #energi-nasional #proyek-gas #produksi-minyak #pasar-internasional #harga-gas #energi-terjangkau #keberlanjutan

https://ekonomi.bisnis.com/read/20260522/44/1975766/pertamina-ungkap-tantangan-ketahanan-energi-di-tengah-gejolak-global