Fitch Ratings Ungkap Potensi Risiko Bank Himbara, Soroti Dukungan Pemerintah

Fitch Ratings Ungkap Potensi Risiko Bank Himbara, Soroti Dukungan Pemerintah

Lembaga pemeringkat global Fitch Ratings menyoroti tekanan terhadap profil kredit bank-bank besar pelat merah Indonesia setelah outlook utang negara Indonesia direvisi menjadi negatif.

(Katadata) 21/05/26 15:59 227789

Lembaga pemeringkat global Fitch Ratings menyoroti tekanan terhadap profil kredit bank-bank besar pelat merah Indonesia setelah outlook utang negara Indonesia direvisi menjadi negatif. Meski demikian, Fitch menilai fundamental sebagian besar bank masih stabil.

Dalam laporan terbaru bertajuk Sovereign Outlook Weighs on Indonesian Banks IDRs, but Most VRs Stable, Fitch menyebut peringkat jangka panjang atau Long-Term Issuer Default Ratings (IDRs) bank-bank BUMN besar seperti Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia, dan Bank Negara Indonesia masih sangat dipengaruhi oleh dukungan pemerintah.

“Peringkat IDR jangka panjang bank-bank BUMN besar Indonesia didorong oleh Government Support Ratings (GSR) yang berada pada level sama dengan sovereign rating Indonesia di BBB/Negative,” tulis Fitch dalam laporannya yang dirilis Rabu (21/5).

Fitch menjelaskan outlook negatif pada bank-bank tersebut mencerminkan potensi berkurangnya kemampuan pemerintah dalam memberikan dukungan luar biasa kepada perbankan jika tekanan fiskal meningkat. Hal itu mengingat peringkat default emiten jangka panjang (IDR) bank-bank tersebut sangat dipengaruhi oleh Government Support Rating (GSR). Meski begitu lembaga pemeringkat itu menilai kemauan pemerintah untuk menopang bank-bank tersebut masih tetap kuat.

“Fitch percaya kemauan negara untuk mendukung bank-bank ini tetap terjaga mengingat pentingnya mereka secara sistemik, kepemilikan mayoritas negara, dan dalam kasus BRI, peran kebijakan yang strategis,” demikian tertulis dalam laporan tersebut

Fitch Ratings menegaskan prospek negatif terhadap bank-bank BUMN besar Indonesia, yaitu PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) sejalan dengan prospek sovereign Indonesia yang juga berada pada level BBB atau negatif.

Sementara itu, peringkat PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga berada pada level BBB/Negatif. Fitch menjelaskan bahwa peringkat tersebut terutama ditopang oleh Viability Rating (VR) di level ‘bbb’, namun tetap dibatasi oleh prospek negatif sovereign, karena VR tidak dapat melebihi peringkat negara.

Fitch menilai profil bisnis BCA yang sangat bergantung pada pasar domestik membuat peringkat bank tetap sensitif terhadap risiko sovereign Indonesia. Fitch juga menyoroti bahwa meningkatnya ketidakpastian kebijakan dan ketegangan geopolitik berpotensi menambah risiko penurunan terhadap lingkungan operasional perbankan Indonesia secara keseluruhan.

“Namun kami tidak memperkirakan hal ini akan merusak profil kredit bank-bank besar dalam jangka pendek,” tulis Fitch Ratings, Kamis (21/5).

Pengaruhi Persepsi Investor

Fitch juga mencatat bahwa pertumbuhan PDB sekitar 5% masih dapat mendukung ekspansi kredit yang sehat di kisaran 8%–9% pada 2026. Namun, profitabilitas perbankan berpotensi tertekan akibat kenaikan pencadangan kerugian kredit, meskipun tekanan pada margin bunga bersih (net interest margin) diperkirakan mulai mereda.

Di sisi lain, cakupan pencadangan yang memadai membuat Fitch tidak memperkirakan terjadinya lonjakan kerugian kredit secara signifikan. Fitch menjelaskan bahwa peringkat Viability Rating (VR) bank-bank besar tetap ditopang oleh dominasi bisnis domestik dan kekuatan profitabilitas dan permodalan. Namun, VR tersebut dapat turun apabila penilaian terhadap lingkungan operasional perbankan Indonesia ikut memburuk.

Kondisi ini dapat terjadi apabila ketegangan geopolitik berlangsung berkepanjangan. Apalagi secara bertahap melemahkan kemampuan debitur dalam membayar utang akibat kenaikan biaya input serta pelemahan permintaan. Lalu juga jika terjadi ekspansi kredit berbasis kebijakan yang meningkatkan risiko kredit tanpa mitigasi yang memadai.

Sebelumnya, Fitch merevisi outlook utang Indonesia dari stabil menjadi negatif namun tetap mempertahankan sovereign rating Indonesia di level BBB atau masih masuk kategori investment grade. Revisi tersebut dilakukan di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap risiko fiskal, pelemahan rupiah, serta ketidakpastian arah kebijakan ekonomi domestik.

Tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia juga meningkat setelah nilai tukar rupiah melemah tajam dan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25%. Langkah tersebut menjadi kenaikan pertama dalam dua tahun terakhir untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah gejolak global dan konflik Timur Tengah.

Fitch menilai kondisi ini berpotensi memengaruhi persepsi investor terhadap sektor perbankan nasional, terutama bank-bank yang memiliki keterkaitan kuat dengan sovereign risk Indonesia. Meski demikian, lembaga pemeringkat tersebut menyebut sebagian besar Viability Ratings (VRs) bank-bank Indonesia masih stabil karena ditopang profil bisnis yang kuat, likuiditas memadai, serta profitabilitas yang tetap resilien di tengah tekanan pasar.

Fitch memperingatkan penurunan VR dapat terjadi apabila tekanan geopolitik dan kebijakan kredit berbasis intervensi negara memicu pelemahan kualitas aset secara luas.

“Dalam kedua kasus tersebut menyebabkan kemerosotan keuangan yang luas dan berkelanjutan,” tulis Fitch.

#fitch-ratings #update-me

https://katadata.co.id/finansial/korporasi/6a0eca3de11fd/fitch-ratings-ungkap-potensi-risiko-bank-himbara-soroti-dukungan-pemerintah