Bukan Fabrikasi Cip Canggih, Ini Sektor Semikonduktor yang Realistis Digarap RI
Indonesia memiliki peluang besar dalam industri semikonduktor dengan fokus pada sektor back-end, mature node, dan pemanfaatan bahan baku mineral.
(Bisnis.Com) 19/05/26 19:07 225294
Bisnis.com, JAKARTA — Ancaman gangguan rantai pasok cip global akibat mogok kerja di Samsung Electronics dinilai menjadi momentum bagi Indonesia untuk mulai membangun industri semikonduktor nasional. Namun, skala yang ideal bukanlah pada fabrikasi cip.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Komoditi Elektronik (Apkonik) Deny Irawan mengatakan mengejar pengembangan teknologi fabrikasi cip paling mutakhir seperti 3 nanometer atau 5 nanometer tidak realistis di Indonesia. Pengembangan industri di level ini membutuhkan investasi puluhan miliar dolar AS serta ekosistem teknologi yang sangat matang.
Namun demikian, dia berpandangan Indonesia tetap memiliki peluang besar untuk masuk ke rantai pasok semikonduktor global, dengan beberapa segmen yang potensial disasar.
Pertama, sektor back-end semiconductor seperti assembly, packaging, dan testing. “Ini paling realistis karena kebutuhan SDM lebih bisa dikejar, investasi lebih rendah, dan dekat dengan industri elektronik nasional,” ujarnya kepada Bisnis, Selasa (19/5/2026).
Kedua, Indonesia juga dinilai memiliki peluang pada pengembangan mature node semiconductor yang banyak digunakan untuk industri otomotif, Internet of Things (IoT), power electronics, dan industrial chip. Menurut Deny, pasar untuk segmen tersebut masih sangat besar dan tidak seluruhnya membutuhkan teknologi cip paling canggih.
Ketiga, Indonesia memiliki kekuatan dari sisi ketersediaan bahan baku mineral strategis seperti nikel, tembaga, timah, dan rare earth tertentu yang dapat dimanfaatkan untuk masuk ke rantai pasok global material semikonduktor dan baterai. Keempat, ada juga peluang menjadi basis manufaktur elektronik alternatif di tengah strategi diversifikasi rantai pasok global.
Kendati demikian, tidak dipungkiri bahwa Indonesia masih tertinggal dibanding Malaysia, Vietnam, dan Singapura dalam membangun industri semikonduktor.
Tantangan utama berada pada ekosistem industri yang belum terintegrasi. Industri semikonduktor membutuhkan rantai pasok yang sangat kompleks dengan tingkat presisi tinggi.
"Tantangannya masih besar karena semikonduktor memerlukan supply chain yang sangat kompleks dan presisi tinggi,” jelasnya.
Selain itu, Indonesia juga dinilai masih kekurangan sumber daya manusia teknik yang menjadi tulang punggung industri cip, mulai dari semiconductor engineer, wafer process engineer, chip designer, hingga material specialist.
Dari sisi investasi, Deny menilai investor global juga membutuhkan kepastian regulasi yang lebih kuat, termasuk stabilitas kebijakan, kemudahan perizinan, perlindungan investasi, dan kepastian insentif jangka panjang.
Tantangan lain berada pada infrastruktur utilitas. Pasalnya, industri semikonduktor membutuhkan pasokan listrik yang sangat stabil, air ultra murni, logistik cepat, hingga kawasan industri berteknologi tinggi.
Dia menambahkan Indonesia juga masih kalah agresif dibanding negara pesaing dalam memberikan insentif investasi. Menurutnya, sejumlah negara menawarkan tax holiday jangka panjang, subsidi energi, subsidi pelatihan tenaga kerja, hingga dukungan capital expenditure untuk menarik investasi industri cip.
Oleh karena itu, Deny menilai pemerintah perlu menyiapkan insentif khusus apabila ingin serius membangun industri semikonduktor nasional. “Kalau Indonesia ingin serius masuk industri semikonduktor global, maka pendekatannya tidak bisa business as usual,” katanya.
Dia mendorong pemerintah menyiapkan skema super tax deduction untuk kegiatan riset dan pengembangan, pelatihan engineer, serta investasi teknologi tinggi.
Selain itu, pemerintah juga perlu membangun kawasan industri khusus semikonduktor dengan dukungan listrik premium, air industri ultra clean, dan layanan satu pintu guna meningkatkan daya tarik investasi.
Deny juga meminta adanya deregulasi impor mesin dan bahan baku karena industri semikonduktor sangat sensitif terhadap keterlambatan rantai pasok global.
Di sisi sumber daya manusia, dia berpendapat bahwa kemitraan antara kampus dan industri perlu diperkuat untuk membangun pipeline talenta semikonduktor nasional.
Kemudian, pemerintah juga perlu menyiapkan strategi nasional semikonduktor dengan roadmap jangka panjang selama 15 hingga 20 tahun karena industri tersebut tidak dapat dibangun hanya dalam satu periode pemerintahan.
Deny menambahkan gangguan rantai pasok global akibat mogok kerja di Samsung Electronics harus menjadi pengingat bagi Indonesia untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor komponen elektronik.
“Indonesia harus mulai memandang semikonduktor bukan sekadar komoditas industri, tetapi sebagai sektor strategis nasional, sama pentingnya dengan energi dan pangan di era ekonomi digital saat ini,” ujarnya.
#industri-semikonduktor #rantai-pasok-cip #back-end-semiconductor #mature-node-semiconductor #bahan-baku-mineral #manufaktur-elektronik #ekosistem-industri #supply-chain-kompleks #sumber-daya-manusia-t