Jurus Garuda hingga Pelita Air Hadapi Lonjakan Harga Avtur

Jurus Garuda hingga Pelita Air Hadapi Lonjakan Harga Avtur

Maskapai seperti Garuda dan Pelita Air mengurangi frekuensi penerbangan untuk menghadapi lonjakan harga avtur. Pemerintah menyesuaikan fuel surcharge hingga 100% untuk membantu maskapai.

(Bisnis.Com) 18/05/26 10:15 223371

Bisnis.com, JAKARTA - Sejumlah maskapai penerbangan mengambil langkah efisiensi dengan mengalihkan rute hingga memangkas frekuensi penerbangan untuk menekan beban operasional imbas lonjakan harga avtur.

Harga avtur dalam 2 bulan terakhir telah mengalami lonjakan signifikan. Pada April 2026, harga avtur meroket lebih dari 70% dan kembali naik 16% pada periode Mei 2026. Kondisi ini makin menekan kinerja maskapai di tengah ruang gerak maskapai yang sempit akibat regulasi tarif.

Pelita Air, maskapai penerbangan di bawah naungan PT Pertamina (Persero), masih mencermati dampak lonjakan harga bahan bakar avtur terhadap kinerja operasional perseroan.

Meski demikian, Presiden Direktur Pelita Air Dendy Kurniawan mengakui bahwa kenaikan harga avtur menjadi salah satu faktor utama yang memicu perubahan jadwal penerbangan, pengalihan rute, hingga pengurangan frekuensi penerbangan oleh maskapai.

"Tingginya harga avtur menyebabkan biaya operasional membengkak sehingga banyak maskapai tidak berani mengambil risiko menerbangi rute-rute, di jam dan hari-hari yang potensial demand penumpangnya sedikit," ujar Dendy kepada Bisnis, Minggu (17/5/2026).

Apalagi, imbuh Dendy, pada periode April dan Mei merupakan periode low season sehingga permintaan penumpang angkutan udara cenderung lebih rendah dibandingkan periode lainnya.

"Akan tetapi, kami tetap optimistis karena Juni dan Juli adalah musim liburan anak sekolah sehingga diharapkan animo masyarakat untuk bepergian dengan transportasi udara kembali meningkat," tuturnya.

Dia juga berharap harga avtur dapat kembali menurun pada kuartal III dan kuartal IV/2026 seiring membaiknya kondisi geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Indonesia AirAsia juga mulai melakukan efisiensi dengan menutup rute-rute penerbangan yang kurang prospektif. AirAsia memutuskan untuk menghentikan dua rute penerbangan internasional yang menghubungkan Bali dan Australia mulai 19 Juni 2026.

Plt. Direktur Utama Indonesia AirAsia Achmad Sadikin mengatakan, kedua rute tersebut, yakni Melbourne (MEL) – Denpasar (DPS) dan Adelaide (ADL) – Denpasar (DPS).

Dia beralasan kenaikan harga avtur global yang terus berlanjut akibat ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah telah memberikan tekanan signifikan terhadap operasional maskapai.

“Keputusan ini diambil setelah melalui berbagai pertimbangan menyeluruh terkait kondisi operasional saat ini serta dinamika industri penerbangan global,” ujarnya, Jumat (15/5/2026).

Dia menjelaskan kondisi tersebut mendorong maskapai untuk memfokuskan jaringan penerbangan pada rute-rute yang saat ini masih tetap layak secara operasional.

Penerbangan terakhir untuk rute Melbourne–Denpasar dan Adelaide–Denpasar dijadwalkan beroperasi pada 18 Juni 2026. Seluruh layanan pada kedua rute tersebut dioperasikan oleh Indonesia AirAsia.

Sementara itu, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA) menyiapkan sejumlah strategi untuk menjaga kinerja perseroan di tengah lonjakan harga bahan bakar avtur yang berpotensi meningkatkan biaya operasional maskapai.

Direktur Utama Garuda Indonesia, Glenny Kairupan mengatakan, fokus utama perseroan saat ini masih diarahkan pada penguatan fundamental bisnis melalui peningkatan operational excellence, disiplin pengelolaan biaya, penguatan keandalan layanan, optimalisasi jaringan penerbangan, hingga transformasi layanan dan digitalisasi operasional secara berkelanjutan.

Sepanjang Januari-Maret 2026, Garuda Indonesia Group mengangkut sebanyak 5,42 juta penumpang, atau tumbuh 6,76% secara tahunan (year-on-year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 5,08 juta penumpang.

Peningkatan trafik tersebut turut didukung oleh kenaikan frekuensi penerbangan sebesar 5,87% menjadi 19.337 penerbangan, dibandingkan 18.265 penerbangan pada kuartal I/2025.

"Transformasi yang dijalankan saat ini merupakan proses membangun kembali fundamental yang dilakukan secara menyeluruh untuk memastikan Garuda Indonesia Group dapat tumbuh dengan fondasi bisnis yang lebih sehat, adaptif, dan berkelanjutan dalam jangka panjang," ujar Glenny dalam keterangan resmi, dikutip Minggu (17/5/2026).

Dari sisi keuangan, pendapatan usaha konsolidasian GIAA tercatat sebesar US$762,35 juta atau sekitar Rp12,9 triliun pada kuartal I/2026 (asumsi kurs Jisdor Rp16.999 per 31 Maret 2026). Angka itu tumbuh 5,36% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$723,56 juta.

Pendapatan penerbangan berjadwal menjadi kontributor utama dengan kenaikan 7,36% menjadi US$648,10 juta dibandingkan capaian kuartal I/2025 sebesar US$603,69 juta.

Selain itu, perseroan juga berhasil memangkas rugi bersih sekitar 45,2% menjadi US$41,62 juta dibandingkan rugi bersih periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$75,93 juta.

Bantalan Sementara

Merespons harga avtur yang kembali melonjak, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) telah melakukan penyesuaian besaran biaya tambahan bahan bakar atau fuel surcharge secara progresif, mulai dari 10% hingga 100% dari tarif batas atas dengan menyesuaikan fluktuasi harga avtur yang berlaku. Langkah ini merupakan penyesuaian kedua kalinya dalam 2 bulan terakhir, sebelumnya besaran fuel surcharge ditetapkan maksimal hingga 38%.

Dengan penyesuaian ini, maskapai niaga berjadwal dalam negeri dapat menerapkan fuel surcharge maksimal sebesar 50% dari tarif batas atas sesuai kelompok layanan. Adapun, fuel surcharge adalah biaya tambahan yang dikenakan oleh perusahaan transportasi atau logistik kepada pelanggan untuk menutupi kenaikan harga bahan bakar yang bersifat fluktuatif.

“Penyesuaian fuel surcharge dilakukan berdasarkan mekanisme dan formulasi yang telah ditetapkan dalam regulasi. Pemerintah tetap memastikan agar implementasi kebijakan ini dilakukan secara terukur dengan tetap memperhatikan perlindungan konsumen, keterjangkauan tarif, serta keberlangsungan operasional maskapai penerbangan,” ujar Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Lukman F. Laisa melalui siaran pers, Kamis (14/5/2026).

Lukman menambahkan bahwa maskapai penerbangan tetap diwajibkan menjaga kualitas pelayanan kepada masyarakat meskipun terdapat penyesuaian biaya tambahan akibat kenaikan harga avtur.

Indonesia National Air Carriers Association (INACA) menilai penyesuaian fuel surcharge secara progresif menjadi bantalan sementara bagi maskapai penerbangan nasional di tengah kenaikan harga avtur.

Wakil Ketua Umum INACA Bayu Sutanto mengatakan, fuel surcharge setidaknya dapat menahan tekanan lonjakan harga avtur yang hampir dua kali lipat di tengah ketidakpastian geopolitik global saat ini.

“Untuk sementara ini bisa jadi buffer untuk biaya avtur yang hampir dua kali naiknya di tengah ketidakpastian harga minyak dunia,” ujarnya kepada Bisnis.

Meski demikian, menurut Bayu, formula tarif batas atas atau TBA tiket pesawat masih perlu dievaluasi. Maskapai dalam negeri pun disebut terus berkomunikasi dengan Kementerian Perhubungan untuk membahas revisi TBA yang dinilai sudah tidak sesuai dengan perkembangan harga avtur dan kurs dolar Amerika Serikat terhadap rupiah.

Terpisah, Ketua Umum INACA Denon Prawiraatmadja mengapresiasi langkah cepat pemerintah, sebagaimana di Vietnam, Thailand, dan Filipina, sehingga dampaknya terhadap perekonomian nasional dapat ditekan.

Dia menilai skema fuel surcharge yang lebih fleksibel akan memudahkan maskapai menyesuaikan harga tiket mengikuti pergerakan harga avtur. Di sisi lain, masyarakat juga dinilai dapat memperoleh harga tiket yang lebih adaptif terhadap kondisi pasar.

“Hal tersebut juga akan membuat masyarakat mendapatkan harga tiket yang lebih fleksibel sehingga industri penerbangan dapat lebih berkembang dan mendukung pertumbuhan perekonomian nasional,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (14/5/2026). (Rio Sandy Pradana)

#harga-avtur #maskapai-penerbangan #pelita-air #garuda-indonesia #lonjakan-harga-avtur #efisiensi-maskapai #pengurangan-frekuensi-penerbangan #pengalihan-rute-penerbangan #fuel-surcharge #kenaikan-biay

https://ekonomi.bisnis.com/read/20260518/98/1974382/jurus-garuda-hingga-pelita-air-hadapi-lonjakan-harga-avtur