Bisnis Emas dan Tabungan Haji Dongkrak Laba BSI (BRIS) di Kuartal I 2026
Emiten pelat merah PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) atau BSI membukukan laba laba bersih Rp 2,2 triliun pada kuartal I 2026, tumbuh 17,1% YoY.
(Katadata) 12/05/26 18:43 219327
Emiten pelat merah PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) membukukan laba laba bersih Rp 2,2 triliun pada kuartal I 2026. Angka itu tumbuh 17,1% YoY dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo mengatakan, pertumbuhan laba tersebut ditopang implementasi strategi penurunan biaya dana, kualitas pembiayaan yang terjaga, serta peningkatan pendapatan berbasis fee, khususnya dari bisnis emas.
Dari sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) BSI tumbuh 18% YoY menjadi Rp 376,8 triliun pada Maret 2026. Pertumbuhan tersebut ditopang kenaikan dana murah atau CASA, di mana giro meningkat 24,17% YoY menjadi Rp 71,7 triliun dan tabungan tumbuh 20,18% YoY menjadi Rp 164,5 triliun.
Alhasil, total CASA perseroan tercatat naik 21,36% YoY menjadi Rp 236,2 triliun. Peningkatan DPK tersebut turut mendorong total aset BSI naik menjadi Rp 460,1 triliun per akhir Maret 2026.
"Tabungan saat ini menjadi engine growth BSI termasuk dari Tabungan Haji,’’ kata Anggoro pada paparan kinerja BRIS secara virtual, Selasa (12/5).
Dia menuturkan, perseroan terus fokus mendorong pertumbuhan Tabungan Haji, payroll, dan Tabungan Bisnis. Berdasarkan data perseroan, jumlah pendaftar haji nasional meningkat dari 286,4 ribu pada 2023 menjadi 422,3 ribu pada 2025.
Menurut Anggoro, pertumbuhan Tabungan Haji turut menopang kinerja solid perseroan sejak merger. Ini sekaligus menunjukkan strategi dual licence sebagai bank syariah dan bank emas berhasil memperluas basis nasabah secara signifikan.
Sejak merger pada 1 Februari 2021, jumlah nasabah BSI tercatat bertambah 9,26 juta. Sementara hanya dalam tiga bulan pertama 2026, jumlah nasabah meningkat sekitar 500 ribu menjadi 23,7 juta.
BSI juga mencatat kenaikan pangsa pasar dalam pendaftaran tabungan haji nasional, dari 49,5% pada 2023 menjadi 53,6% pada 2025. Dari total 422,3 ribu pendaftar haji nasional, sebanyak 226,4 ribu di antaranya tercatat mendaftar melalui BSI.
“Untuk fase keberangkatan pun, BSI mendominasi di mana pada Tahun 2026 sebesar 83,5% dari total kuota keberangkatan adalah jemaah yang mendaftar lewat BSI,” ungkap Anggoro.
Direktur Finance and Strategy BSI, Ade Cahyo Nugroho mengungkapkan, strategi dual licence turut mendorong pertumbuhan fee based income (FBI) perseroan pada triwulan I 2026 menjadi Rp 2 ,09 triliun atau naik 22,98% secara tahunan (YoY).
Kontribusi FBI terhadap total pendapatan BSI juga meningkat menjadi 22,98%. Bisnis emas menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi 33,69% atau senilai Rp 705 miliar, melonjak 125% YoY. Selanjutnya disusul bisnis treasury dengan kontribusi 21,67% dan layanan e-channel sebesar 17,46%.
Dari bisnis emas, BSI mencatat pertumbuhan pembiayaan gadai emas sebesar 58,3% YoY, sementara layanan E-mas melonjak lebih dari 2.700%.
Dari sisi pembiayaan, BSI membukukan pertumbuhan pembiayaan sebesar 14,39% YoY menjadi Rp 329 triliun dengan fokus utama pada segmen konsumer. Meski tumbuh signifikan, kualitas pembiayaan tetap terjaga dengan rasio non-performing financing (NPF) gross membaik menjadi 1,8% dari sebelumnya 1,88%, sedangkan NPF nett berada di level 0,38%.
Mayoritas pembiayaan atau sekitar 72,37% disalurkan ke segmen konsumer dan ritel, sementara sisanya 27,63% dialokasikan untuk segmen wholesale.
Ade menambahkan, peningkatan dana murah turut berkontribusi terhadap penurunan biaya dana menjadi 2,12%, sedangkan kualitas pembiayaan yang terjaga membuat biaya pencadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) tetap rendah di level 0,73%. Kondisi tersebut dinilai mendukung profitabilitas perseroan dengan rasio RoA sebesar 2,53% dan RoE 19,36% pada triwulan I 2026.
Sementara itu, Direktur Sales and Distribution BSI Anton Sukarna mengatakan, BSI turut mendukung program Astacita pemerintah melalui penyaluran pembiayaan Makan Bergizi Gratis (MBG) sebesar Rp 198 miliar kepada 211 dapur MBG.
Selain itu, perseroan juga menyalurkan pembiayaan kepada program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) serta Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang masing-masing menjangkau lebih dari 80 ribu koperasi dan 17.732 nasabah penerima KUR.
“Dari sisi penyediaan rumah bersubsidi, BSI menyalurkan FLPP kuartal I sebanyak 894 nasabah. Adapun total pembiayaan rumah bersubsidi mencapai Rp 5,7 triliun,” ucap Anton.