Efek Rebalancing MSCI, Waspada Tekanan Jual pada IHSG

Efek Rebalancing MSCI, Waspada Tekanan Jual pada IHSG

Pengumuman indeks MSCI berpotensi mengeluarkan saham Indonesia seperti BREN, DSSA, AMMN dan CUAN. Investor asing bisa angkat kaki, harga saham pun anjlok.

(Kompas.com) 12/05/26 17:08 219209

JAKARTA, KOMPAS.com - Pengumuman hasil peninjauan indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) untuk Indonesia diadakan pada Selasa, (12/5/2026) waktu Amerika Serikat.

Dengan kata lain, perbedaan zona waktu membuat pengumuman resmi tersebut baru dapat diakses pada Rabu dini hari, (13/5/2026).

Salah satu hal yang paling ditunggu dari pengumuman tersebut adalah perubahan saham yang masuk dan keluar dari indeks internasional tersebut.

Nantinya pengumuman tersebut akan berlaku efektif setelah penutupan perdagangan, Jumat (29/5/2026).

Selain itu, MSCI sebelumnya telah menginformasikan kebijakan untuk membekukan (freeze) penambahan saham baru dari Indonesia ke dalam indeks global mereka sementara waktu.

Artinya, kecil kemungkinan ada emiten baru yang masuk dalam ulasan Mei ini.

Sementara itu, fokus pasar saat ini adalah adanya potensi keluarnya beberapa saham (deletion) dari indeks.

Hal tersebut terutama emiten yang memiliki konsentrasi kepemilikan tinggi (High Shareholding Concentration atau HSC).

Kerugian saham yang keluar dari MSCI

Emiten yang terdepak dari indeks global seperti MSCI memang akan menelan pil pahit.

Pasalnya, emiten tersebut berpotensi akan ditinggalkan investor asing.

Arus keluar dana asing adalah dampak paling utama dari emiten yang keluar dari indeks MSCI.

Hal tersebut disebabkan karena indeks MSCI menjadi acuan bagi manajer investasi global.

Saham yang dicoret akan memicu aksi penjualan otomatis oleh dana pasif (dana pasif) atau Exchange-Traded Fund (ETF) yang mereplikasi indeks tersebut.

Potensi arus keluar dana asing ini diperkirakan bisa mencapai angka yang sangat signifikan.

Penyesuaian harga saham

Penjualan saham besar-besaran oleh investor institusi dalam waktu yang singkat tentu akan sangat memengaruhi harga saham.

Harga saham emiten yang keluar dari indeks MSCI dapat turun secara tajam.

Kondisi ini juga kerap dikenal dengan dislokasi harga, atau kondisi ketika harga saham jatuh di bawah nilai fundamentalnya.

Peristiwa tersebut dapat terjadi akibat tekanan penjualan teknikal dari penyesuaian portofolio global.

ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTA Ilustrasi IHSG

Saham dihantui risiko likuiditas

Di samping itu, saham-saham yang masuk dalam kategori High Shareholding Concentration (HSC) atau saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi, risiko likuiditas menjadi lebih besar saat dikeluarkan dari indeks.

Saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi merupakan saham dengan free float kecil atau jumlah persentase saham perusahaan yang dimiliki publik dan tersedia untuk diperdagangkan di pasar reguler secara bebas sedikit.

Hal ini membuat saham tersebut kurang menarik bagi investor yang mengutamakan kenyamanan dalam jual-beli aset.

Pada akhirnya, karena saham-saham yang masuk indeks MSCI biasanya memiliki kapitalisasi pasar (market cap) yang besar, penurunan harga pada saham-saham tersebut dapat memberikan tekanan negatif terhadap pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Saham konglomerasi diproyeksikan keluar MSCI

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, memperkirakan beberapa saham emiten domestik berpotensi dikeluarkan dari indeks MSCI.

Dua saham yang diproyeksikan keluar dari indeks adalah PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA).

Menurut dia, DSSA dan BREN berpotensi terdepak dari indeks MSCI karena keduanya masuk dalam kategori kepemilikan saham terkonsentrasi tinggi atau high shareholding concentration.

Kondisi itu memang kini menjadi isu utama dalam evaluasi indeks global tersebut.

“Saham BREN dan DSSA berpotensi dikeluarkan dari indeks MSCI paling cepat pada rebalancing Mei 2026,” ujar Nafan saat dihubungi Kompas.com, Selasa pagi.

Tak hanya itu, sejumlah saham lain yang juga berpotensi terdepak dari indeks akibat penurunan free float Foreign Inclusion Factor (FIF) berdasarkan keterbukaan kepemilikan saham di atas 1 persen versi PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).

Saham-saham tersebut antara lain PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN).

Untuk diketahui, FIF merupakan angka koefisien yang mewakili proporsi saham beredar suatu emiten atau free float dan terbuka bagi investor internasional.

Sementara itu, Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI) Azharys Hardian menilai, sentimen rebalancing MSCI memang menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa waktu terakhir.

Menurut dia, keluarnya saham BREN dan DSSA akibat status HSC berpotensi memicu arus keluar dana pasif dari pasar saham Indonesia.

Selain itu, pasar juga mengantisipasi potensi keluarnya saham AMMN dan CUAN dari indeks MSCI akibat penurunan kapitalisasi pasar yang cukup dalam sejak awal tahun atau year to date (Ytd).

Investor jangan panik

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sendiri menunjukkan sinyal adanya saham Indonesia yang berpotensi keluar dari indeks MSCI dalam rebalancing global yang akan digelar Selasa (12/5/2026).

Meski demikian, OJK meminta pelaku pasar tidak panik dan menilai langkah MSCI itu bagian dari reformasi pasar modal domestik yang sudah dijalankan sejak beberapa waktu lalu.

Dalam rebalancing, MSCI akan menerapkan perlakuan khusus terhadap saham tertentu, terutama saham yang dinilai memiliki konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC).

Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi mengatakan, dalam proses rebalancing indeks MSCI kemungkinan ada saham asal Indonesia mengalami penyesuaian.

Proses itu dipandang normal karena mekanisme rebalancing indeks dilakukan secara berkala oleh MSCI untuk menyesuaikan komposisi saham berdasarkan kriteria tertentu.

Kendati demikian, saham-saham lama yang sebelumnya sudah berada di dalam indeks tetap berpotensi keluar apabila tidak lagi memenuhi persyaratan yang ditetapkan MSCI.

Kan kemungkinan ada saham yang akan disesuaikan ya. Ini namanya rebalancing indexkan. Jadi ya kalaupun besok pengumumannya kita tunggu, kan mereka sudah bilang freezekan, jadi enggak ada yang baru yang masuk, tapi yang lama mungkin akan keluar,” ujar Friderica saat ditemui di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (11/5/2026).

Rebalancing indeks merupakan proses penyesuaian komposisi saham dalam suatu indeks.

Langkah ini dilakukan secara berkala agar indeks tetap mencerminkan kondisi pasar terkini berdasarkan sejumlah kriteria yang telah ditentukan, seperti kapitalisasi pasar, tingkat likuiditas saham, hingga sektor industri emiten.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#saham-indonesia #indeks-msci #arus-dana-asing #rebalancing-indeks

https://money.kompas.com/read/2026/05/12/170800926/efek-rebalancing-msci-waspada-tekanan-jual-pada-ihsg