Selat Hormuz Ditutup, Saudi Aramco Raih Penjualan Rp2.000 Triliun di Kuartal I-2026
Saudi Aramco mengumumkan kinerja impresif pada tiga bulan pertama tahun ini meski kondisi geopolitik di Timur Tengah tengah memanas.
(IDX-Channel) 10/05/26 22:00 217192
IDXChannel - Saudi Aramco mengumumkan kinerja impresif pada tiga bulan pertama tahun ini meski kondisi geopolitik di Timur Tengah tengah memanas. Angka penjualan Aramco menembus Rp2.000 triliun sepanjang Januari-Maret 2026.
Perusahaan raksasa migas milik Kerajaan Arab Saudi itu mencatat lonjakan laba bersih hingga 25 persen menjadi USD32,5 miliar atau ekuivalen dengan Rp565 triliun (asumsi kurs Rp17.400 per dolar AS) pada kuartal I-2026. Angka tersebut lebih tinggi dari konsensus sebesar USD30,95 miliar.
Laba tersebut ditopang oleh penjualan minyak yang naik 11,4 persen dari kuartal sebelumnya menjadi USD115,49 miliar atau Rp2.010 triliun. Di tengah blokade Selat Hormuz, Aramco terus memaksimalkan jalur pipa dari Timur ke Barat yang saat ini tengah dalam kondisi penuh.
Chief Executive Officer (CEO) Saudi Aramco, Amin Nasser yang sebelumnya memperingatkan konsekuensi serius atas penutupan Selat Hormuz mengatakan, kinerja perusahaan di kuartal I-2026 mencerminkan ketahanan yang kuat sekaligus operasional yang agile di tengah lingkungan geopolitik yang kompleks.
Langkah Iran yang memblokade Selat Hormuz dalam perang dengan Israel dan AS membuat Aramco meningkatkan aliran minyak dari pusat produksi di wilayah timur menuju Pelabuhan Yanbu di Laut Merah.
"Pipa Timur-Barat kami yang mencapai kapasitas maksimal 7 juta barel minyak per hari, telah membuktikan diri sebagai jalur pasokan yang krusial, membantu meredam guncangan energi global, dan memberikan bantuan kepada pelanggan yang terdampak kendala pengiriman di Selat Hormuz," katanya dilansir Reuters, Minggu (10/5/2026).
Sepanjang kuartal I-2026, Aramco juga merealisasikan belanja modal (capital expenditure atau capex) sebesar USD12,1 miliar. Perusahaan memberikan panduan bahwa belanja modal pada tahun ini berada di kisaran USD50-USD55 miliar.
(Rahmat Fiansyah)