Indeks Harga Pangan FAO Naik Tiga Bulan Berturut, Konflik TImur Tengah jadi Pemicu
Indeks Harga Pangan FAO naik untuk tiga bulan berturut-turut pada April 2026, dipicu konflik Timur Tengah, kenaikan harga energi, dan gangguan rantai pasok.
(Bisnis.Com) 10/05/26 17:35 217092
Bisnis.com, JAKARTA — Harga komoditas pangan dunia kembali meningkat pada April 2026 dan mencatat kenaikan selama tiga bulan berturut-turut, seiring tingginya biaya energi serta gangguan rantai pasok global akibat konflik di kawasan Timur Tengah.
Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) melaporkan Indeks Harga Pangan FAO berada di level 130,7 poin pada April, naik 1,6% dibanding Maret dan lebih tinggi 2,0% dibanding periode yang sama tahun lalu.
Kenaikan tersebut didorong penguatan harga pada sejumlah komoditas utama, terutama minyak nabati, beras, daging, dan sereal. FAO menilai sistem pangan global sejauh ini masih cukup tangguh menghadapi tekanan geopolitik, meski risiko biaya produksi dan distribusi terus meningkat.
“Meskipun terjadi gangguan yang terkait dengan krisis di Selat Hormuz, sistem agrifood global terus menunjukkan ketahanan. Harga sereal hanya meningkat sedikit sejauh ini, didukung oleh stok yang relatif kuat dan pasokan yang memadai dari musim sebelumnya,” kata Kepala Ekonom FAO Máximo Torero dalam keterangan resmi, dikutip Minggu (10/5/2026).
Dia menambahkan, tekanan lebih besar justru datang dari pasar minyak nabati.
“Namun, minyak nabati mengalami peningkatan harga yang lebih kuat, sebagian besar didorong oleh harga minyak yang lebih tinggi, yang meningkatkan permintaan biofuel dan memberikan tekanan tambahan pada pasar minyak nabati,” ujar Torero.
Harga sereal dunia tercatat naik 0,8% dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Penguatan terjadi pada hampir seluruh komoditas utama kecuali sorgum dan jelai. Harga gandum meningkat 0,8% akibat kekhawatiran kekeringan di sejumlah wilayah Amerika Serikat serta potensi curah hujan di bawah normal di Australia.
Selain faktor cuaca, kenaikan gandum juga dipicu proyeksi penurunan luas tanam pada 2026 karena petani beralih ke tanaman yang membutuhkan pupuk lebih sedikit di tengah mahalnya pupuk akibat lonjakan energi.
Selain itu, harga jagung dunia turut naik 0,7% didorong pasokan musiman yang lebih ketat, cuaca kurang mendukung di Brasil, dan kondisi kering di sebagian wilayah Amerika Serikat. Sebaliknya, harga sorgum turun 4,0% karena lemahnya permintaan impor global dan membaiknya prospek pasokan.
Di kelompok beras, indeks harga naik 1,9% pada April. Kenaikan terutama terjadi pada beras Indica dan beras aromatik. Kondisi ini mencerminkan naiknya biaya produksi dan pemasaran di banyak negara eksportir setelah harga minyak mentah melonjak.
Sementara itu, indeks harga minyak nabati melonjak 5,9% dibanding Maret dan mencapai level tertinggi sejak Juli 2022. Kenaikan ditopang harga minyak sawit, kedelai, bunga matahari, dan rapeseed yang sama-sama menguat.
Harga minyak sawit internasional tercatat naik untuk bulan kelima berturut-turut. Penguatan didorong prospek peningkatan permintaan biofuel, insentif kebijakan di sejumlah negara produsen, serta tingginya harga minyak mentah global. Kekhawatiran terhadap potensi penurunan produksi di Asia Tenggara juga menambah tekanan harga.
Pada kelompok protein hewani, indeks harga daging FAO naik 1,2% dibanding bulan sebelumnya dan 6,4% secara tahunan, sekaligus mencetak rekor tertinggi baru. Harga daging sapi naik ke level tertinggi akibat terbatasnya pasokan ternak siap potong di Brasil, sementara harga daging babi meningkat karena permintaan musiman di Uni Eropa.
Di sisi lain, kelompok susu justru mencatat penurunan 1,1% karena turunnya harga mentega dan keju seiring pasokan susu yang melimpah di Uni Eropa dan produksi lebih baik dari perkiraan di Oseania.
Harga gula juga turun cukup dalam, yakni 4,7% dibanding Maret dan 21,2% dibanding tahun lalu. Penurunan dipicu ekspektasi pasokan global yang melimpah, terutama dari China, Thailand, dan dimulainya panen baru di Brasil sebagai produsen utama dunia.
FAO juga menaikkan proyeksi produksi sereal global 2025 menjadi 3,04 miliar ton atau tumbuh 6,0% dibanding tahun sebelumnya. Meski demikian, produksi gandum dunia 2026 diperkirakan turun menjadi 817 juta ton atau sekitar 2% lebih rendah dibanding tahun lalu.
Prospek pangan global ke depan masih dibayangi ketidakpastian akibat mahalnya energi, tingginya harga pupuk, dan gangguan perdagangan di jalur strategis seperti Selat Hormuz. Kondisi tersebut membuat tekanan harga pangan berisiko bertahan dalam beberapa bulan mendatang.
#harga-pangan #indeks-harga-pangan #fao #konflik-timur-tengah #harga-komoditas #minyak-nabati #harga-sereal #harga-gandum #harga-jagung #harga-beras #harga-minyak-sawit #harga-daging #harga-susu #harga