Pabrik Alkali Raksasa TPIA Rampung 66%, Siap Kuasai Industri Kimia Tanah Air?
Proyek CA-EDC yang digarap lewat anak usaha TPIA, PT Chandra Asri Alkali, kini memasuki tahap pengembangan infrastruktur logistik utama sebagai persiapan menuju operasional penuh.
(Katadata) 07/05/26 18:45 214688
Pembangunan pabrik chlor alkali dan ethylenedichloride (CA-EDC) raksasa milik emiten petrokimia grup Prajogo Pangestu, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), telah mencapai 66%. Proyek yang digarap lewat anak usahanya PT Chandra Asri Alkali itu kini memasuki tahap pengembangan infrastruktur logistik utama sebagai persiapan menuju operasional penuh.
Saat ini, pembangunan pabrik yang berlokasi di kawasn industri Cilegon, Banten, itu menuju pengembangan infrastruktur logistik utama sebagai bagian dari persiapan operasional pabrik.
Direktur Sumber Daya Manusia dan Urusan Korporasi Chandra Asri Group, Suryandi menjelaskan, infrastruktur tersebut tidak hanya untuk mendukung distribusi, penyimpanan, dan pengelolaan logistik produk CA-EDC. Tetapi sekaligus memperkuat konektivitas rantai pasok industri kimia nasional maupun regional.
Dia mengatakan, fase pembangunan saat ini menjadi bagian krusial dalam mendukung kelancaran distribusi dan pengelolaan rantai pasok bahan kimia strategis. Menurutnya, pengembangan infrastruktur terintegrasi merupakan elemen penting dalam membangun ekosistem industri kimia nasional yang lebih efisien dan kompetitif.
“Kami harapkan dalam jangka panjang, fasilitas ini dapat meningkatkan daya saing Indonesia sebagai basis industri kimia di kawasan Asia Tenggara,” kata Suryandi dalam keterangan resmi, dikutip pada Kamis (7/5).
Pabrik CA-EDC dirancang untuk memenuhi kebutuhan industri domestik terhadap bahan kimia dasar strategis yang terus meningkat. Pada tahap awal operasional, fasilitas ini ditargetkan memiliki kapasitas produksi 827 ribu ton soda kaustik dan 500 ribu ton EDC per tahun.
Produksi soda kaustik dari fasilitas tersebut diproyeksikan dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor, sekaligus memperkuat pasokan bahan baku bagi berbagai sektor industri nasional. Dalam jangka panjang, kapasitas produksi itu diperkirakan mampu menggantikan impor hingga 827 ribu ton per tahun, dengan nilai mencapai US$ 293 juta atau sekitar Rp 4,9 triliun.
Sementara itu, produksi EDC akan difokuskan untuk pasar ekspor. Langkah ini berpotensi mendatangkan devisa hingga US$ 300 juta atau sekitar Rp 5 triliun per tahun, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok industri kimia regional.
Selain kontribusi terhadap penguatan industri nasional, proyek ini juga memberi dampak ekonomi melalui penyerapan tenaga kerja dan keterlibatan pelaku usaha lokal. Hingga saat ini, pembangunan pabrik telah melibatkan sekitar 3.000 tenaga kerja selama masa konstruksi.
Saat mulai beroperasi penuh pada kuartal pertama 2027, fasilitas tersebut diperkirakan membuka sekitar 250 lapangan kerja baru.
Di pasar modal, saham TPIA ditutup anjlok 10,20% ke level Rp 5.725 pada perdagangan Kamis (7/5). Sepanjang tahun berjalan, saham emiten milik Prajogo itu telah terkoreksi 18,21%.