Apa Itu Hantavirus? Simak Gejala dan Efeknya ke Tubuh Manusia
Simak penjelasan tentang Hantavirus yang membuat tiga orang penumpang Kapal Pesiar MV Hondius di Samudra Atlantik meninggal dunia.
(Bisnis.Com) 07/05/26 18:38 214675
Bisnis.com, JAKARTA - Hantavirus belakangan menjadi perhatian dunia setelah World Health Organization (WHO) memantau ketat dugaan kasus yang terjadi di kapal pesiar MV Hondius di Samudra Atlantik.
Dalam insiden tersebut, tiga orang dilaporkan meninggal dunia, dengan satu kasus telah terkonfirmasi positif sementara lima kasus lainnya masih dalam proses penyelidikan.
Lantas, apa sebenarnya Hantavirus
Epidemiolog dari Griffith University Dicky Budiman menjelaskan bahwa Hantavirus Pulmonary Syndrome merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan oleh kelompok virus hantavirus.
Virus ini memiliki reservoir utama berupa hewan pengerat, terutama tikus liar. Hantavirus sendiri pertama kali ditemukan di Korea Selatan pada 1976 dan namanya diambil dari Sungai Hantaan, lokasi ditemukannya virus tersebut pada tikus sawah.
Dalam catatan sejarah, wabah hantavirus yang sempat menggemparkan dunia pertama kali terjadi pada 1993 di wilayah Four Corners, United States. Saat itu, strain virus yang menyerang paru-paru menyebabkan tingkat kematian yang sangat tinggi, bahkan mendekati 50 persen.
"Reservoir utama dari hantavirus itu adalah hewan pengerat seperti tikus liar. Kalau di Indonesia juga ditemukan pada tikus kota atau tikus rumah di beberapa lokasi, terutama yang sangat rawan di daerah pelabuhan," katanya.
Sejauh ini, katanya, penularan hantavirus ke manusia paling sering terjadi melalui aerosol, yakni partikel halus yang berasal dari urin, feses, atau air liur tikus terinfeksi yang telah mengering lalu terbawa udara. Selain itu, infeksi juga dapat terjadi ketika seseorang menyentuh permukaan yang telah terkontaminasi virus tersebut.
Dalam kasus yang lebih jarang, penularan juga bisa terjadi akibat gigitan hewan pengerat atau tikus pembawa virus. Dicky menyebut hantavirus pada dasarnya bukan penyakit yang mudah menular antarmanusia, melainkan lebih banyak menyebar melalui lingkungan yang tercemar oleh tikus yang terinfeksi hantavirus.
"Pada kasus kapal pesiar yang sedang disorot dunia, investigasi masih berlangsung untuk melihat apakah ada keterlibatan strain Andes virus, yaitu jenis hantavirus langka yang pernah terbukti bisa menular antarmausia dalam kontak sangat dekat dan terbatas," imbuhnya.
Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tetap tenang mengingat proses penyelidikan terkait kasus hantavirus masih terus berlangsung. Meski demikian, penyakit ini tetap perlu diwaspadai karena tergolong mematikan dan dapat menimbulkan komplikasi serius pada sistem pernapasan.
Gejala dan Efek Hantavirus
Hantavirus diketahui dapat menyebabkan kerusakan pada pembuluh udara, kebocoran cairan, hingga gagal napas akut. Gejala awal biasanya berupa demam, nyeri otot, dan tubuh terasa lemas.
Namun, dalam beberapa hari kondisi pasien bisa memburuk dengan cepat menjadi sesak napas berat, paru-paru dipenuhi cairan, penurunan kadar oksigen secara drastis, hingga syok. Dalam dunia medis, kondisi ini menyerupai Acute Respiratory Distress Syndrome atau gangguan pernapasan akut berat
Tingkat fatalitas atau kematian pada kasus hantavirus yang berat dapat mencapai 40 persen, terutama apabila diagnosis terlambat ditegakkan atau fasilitas ICU yang tersedia terbatas. Kondisi inilah yang membuat hantavirus menjadi penyakit yang sangat berbahaya dan perlu diwaspadai.
Menurut Dicky, faktor yang mematikan tidak hanya berasal dari virus itu sendiri, tetapi juga akibat respons inflamasi berat yang dipicu tubuh serta kerusakan paru-paru yang berlangsung sangat cepat. Akibatnya, kondisi pasien dapat memburuk dalam waktu singkat dan berujung pada kegagalan pernapasan.
#hantavirus #apa-itu-hantavirus #bahaya-hantavirus #gejala-hantavirus #efek-hantavirus #hantavirus-pulmonary-syndrome #virus-zoonosis #tikus-liar #penularan-hantavirus #aerosol-hantavirus #infeksi-hant