Gubernur BI Perry Warjiyo sebut Rupiah undervalued dan yakini akan menguat karena fundamental ekonomi nasional tetap kokoh.
(WE Finance) 06/05/26 02:00 212477
Warta Ekonomi, Jakarta -Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyatakan bahwa nilai tukar Rupiah saat ini berada dalam kondisi undervalued atau terlalu lemah. Penilaian ini didasarkan pada perbandingan nilai tukar dengan fundamental ekonomi nasional yang sebenarnya tetap kokoh.
Pernyataan tersebut disampaikan Perry usai mengikuti rapat Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK) bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan. "Fundamental kita itu kuat, pertumbuhan sangat tinggi 5,11 persen, inflasi rendah, kredit juga tumbuh tinggi," ujar Perry, Selasa (5/5/2026).
Perry menjelaskan adanya anomali yang dipicu oleh faktor eksternal serta tren musiman dalam negeri. Kondisi global seperti tingginya harga minyak dunia dan suku bunga bank sentral AS menjadi penyebab utama tekanan terhadap mata uang Garuda.
Kenaikan imbal hasil (yield) surat utang AS atau US Treasury turut memicu terjadinya penguatan dolar secara masif. Hal ini berdampak pada fenomena pelarian modal dari pasar negara berkembang (emerging market), termasuk Indonesia.
Dari sisi domestik, permintaan terhadap dolar AS biasanya meningkat secara musiman pada periode April hingga Juni. Kebutuhan valuta asing ini melonjak untuk keperluan repatriasi dividen, pembayaran utang luar negeri, serta pembiayaan jemaah haji.
Meski menghadapi berbagai tekanan tersebut, Bank Indonesia optimistis nilai tukar akan kembali stabil dalam waktu dekat. Fundamental ekonomi yang positif menjadi pondasi utama bagi Rupiah untuk bergerak menguat sesuai nilai wajarnya.
Pemerintah dan otoritas moneter terus bersinergi guna menjaga stabilitas sektor keuangan nasional di tengah volatilitas pasar global. Strategi intervensi tetap dilakukan secara terukur untuk meminimalkan dampak depresiasi mata uang terhadap perekonomian riil.