Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Terjaga, OJK Pantau Intensif dan Lakukan Stress Test

Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Terjaga, OJK Pantau Intensif dan Lakukan Stress Test

OJK melakukan pemantauan intensif untuk memastikan ketahanan sektor jasa keuangan termasuk melakukan stress test dengan berbagai skenario.

(WE Finance) 06/05/26 01:14 212476

Warta Ekonomi, Jakarta -

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan stabilitas sektor jasa keuangan tetap terjaga di tengah gejolak ekonomi global melalui pemantauan intensif, penguatan pengawasan, dan stress test terhadap industri jasa keuangan.

“OJK melakukan pemantauan intensif untuk memastikan ketahanan sektor jasa keuangan termasuk melakukan stress test dengan berbagai skenario terhadap industri jasa keuangan serta memperkuat pengawasan lembaga jasa keuangan,” kata Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa.

OJK juga mendorong lembaga jasa keuangan memperkuat manajemen risiko, termasuk stress testing berkala dan asesmen risiko pasar serta risiko kredit. Bersama Self-Regulatory Organizations (SRO), OJK terus mencermati dinamika pasar dan menyiapkan respons kebijakan yang diperlukan guna menjaga stabilitas pasar keuangan.

Di pasar modal, IHSG ditutup pada level 6.956,80 pada akhir April 2026, terkoreksi 1,30 persen secara bulanan dan 19,55 persen sejak awal tahun. Meski demikian, likuiditas pasar saham dinilai tetap terjaga dengan rata-rata bid-ask spread rendah di level 1,33 kali. Investor asing tercatat melakukan net sell saham sebesar Rp17,02 triliun.

Sementara itu, pasar obligasi menunjukkan penguatan. Indonesia Composite Bond Index (ICBI) naik 0,74 persen secara bulanan ke level 436,38 pada akhir April 2026, ditopang penurunan yield SBN rata-rata sebesar 3,90 basis poin. Investor nonresiden juga mencatat net buy di pasar SBN sebesar Rp8,80 triliun hingga 29 April 2026.

Dari sisi pembiayaan, pasar modal tetap berperan sebagai sumber pendanaan jangka panjang. Hingga April 2026, nilai penghimpunan dana korporasi di pasar modal mencapai Rp56,35 triliun, dengan 71 rencana penawaran umum masih dalam pipeline.

Kinerja perbankan juga tetap solid. Kredit per Maret 2026 tumbuh 9,49 persen secara tahunan menjadi Rp8.659 triliun, didorong terutama oleh Kredit Investasi yang tumbuh 20,85 persen. Kredit korporasi tumbuh 14,88 persen, sementara kredit UMKM mulai membaik dengan tumbuh 0,12 persen.

Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 13,55 persen menjadi Rp10.231 triliun, sementara likuiditas perbankan tetap memadai dan jauh di atas ambang batas ketentuan. Kualitas kredit juga terjaga dengan rasio NPL gross 2,14 persen dan NPL net 0,83 persen. Profitabilitas bank tercermin dari ROA yang naik menjadi 2,47 persen, sedangkan rasio kecukupan modal (CAR) tetap kuat di level 25,09 persen.

Di sektor perasuransian dan dana pensiun, OJK mencatat kinerja tetap stabil. Aset industri asuransi per Maret 2026 tumbuh 4,38 persen menjadi Rp1.195,75 triliun, sementara total aset dana pensiun naik 10,49 persen menjadi Rp1.684,89 triliun. Tingkat permodalan industri asuransi juga tetap kuat, tercermin dari Risk Based Capital (RBC) yang jauh di atas ambang minimum.

Pada sektor pembiayaan, piutang perusahaan pembiayaan tumbuh 0,61 persen menjadi Rp514,09 triliun dengan rasio pembiayaan bermasalah tetap terkendali. Sementara itu, outstanding pinjaman daring tumbuh 26,25 persen menjadi Rp101,03 triliun, dengan tingkat risiko kredit macet (TWP90) terjaga di level 4,52 persen.

Di sektor aset digital, jumlah konsumen aset kripto di Indonesia per Maret 2026 mencapai 21,37 juta, dengan nilai transaksi Rp22,24 triliun. OJK menilai kepercayaan konsumen terhadap ekosistem aset keuangan digital, termasuk aset kripto, masih terjaga di tengah fluktuasi pasar.

#ojk

https://wartaekonomi.co.id/read610478/stabilitas-sektor-jasa-keuangan-terjaga-ojk-pantau-intensif-dan-lakukan-stress-test