Surplus Neraca Perdagangan RI 71 Bulan Beruntun, Ditopang Sawit dan Baja

Surplus Neraca Perdagangan RI 71 Bulan Beruntun, Ditopang Sawit dan Baja

Surplus neraca perdagangan Indonesia pada Maret 2026 mencapai US$3,32 miliar, melanjutkan tren surplus 71 bulan beruntunsejak Mei 2020.

(Bisnis.Com) 04/05/26 13:47 210349

Bisnis.com, JAKARTA — Surplus neraca perdagangan Indonesia berlanjut selama 71 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Namun, daya tahan surplus semakin bertumpu pada komoditas nonmigas di tengah defisit migas yang terus melebar serta lonjakan impor domestik.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono mengatakan neraca perdagangan barang pada Maret 2026 mencatat surplus sebesar US$3,32 miliar.

Capaian tersebut memperpanjang tren surplus perdagangan Indonesia yang berlangsung tanpa jeda selama 71 bulan sejak Mei 2020.

“Surplus pada Maret 2026 lebih ditopang oleh surplus pada komoditas nonmigas,” ujarnya dalam rilis data BPS Mei 2026, Senin (4/5/2026).

Pada Maret 2026, neraca perdagangan nonmigas mencatat surplus sebesar US$5,21 miliar. Kontributor utama berasal dari komoditas lemak dan minyak hewan nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja.

Kelompok komoditas tersebut selama ini menjadi mesin utama penghasil devisa ekspor nasional, terutama sawit, produk tambang, dan logam olahan.

Di sisi lain, neraca perdagangan migas kembali mengalami defisit sebesar US$1,89 miliar. Defisit tersebut terutama dipicu impor minyak mentah, hasil minyak, dan gas, mencerminkan tingginya ketergantungan Indonesia terhadap kebutuhan energi dari luar negeri.

Secara kumulatif, neraca perdagangan Januari–Maret 2026 mencatat surplus sebesar US$5,55 miliar. Surplus kuartal I/2026 tersebut ditopang oleh surplus nonmigas sebesar US$10,63 miliar, sementara neraca migas mengalami defisit US$5,68 miliar.

Secara lebih rinci, komoditas penyumbang surplus terbesar sepanjang tiga bulan pertama 2026 berasal dari lemak dan minyak hewan nabati (HS15) sebesar US$8,68 miliar.

Selanjutnya, bahan bakar mineral dan sulfur menyumbang surplus US$6,22 miliar, disusul besi dan baja sebesar US$4,29 miliar.

Kondisi tersebut menunjukkan surplus perdagangan masih terjaga, tetapi mulai menyempit secara struktural karena laju impor jauh lebih cepat dibandingkan ekspor.

Jika tren ini berlanjut, ketahanan surplus ke depan akan sangat ditentukan oleh harga komoditas ekspor serta kemampuan menekan defisit sektor energi.

#surplus-perdagangan #neraca-perdagangan #surplus-nonmigas #defisit-migas #impor-domestik #komoditas-ekspor #sawit-dan-baja #lemak-dan-minyak #bahan-bakar-mineral #besi-dan-baja #devisa-ekspor #impor-m

https://ekonomi.bisnis.com/read/20260504/9/1971143/surplus-neraca-perdagangan-ri-71-bulan-beruntun-ditopang-sawit-dan-baja