Pria Pro-Nazi Hendak Bunuh 2 Putri Kerajaan Belanda, Bawa Kapak Bertuliskan Mossad dan Sieg Heil
Dua putri Kerajaan Belanda yang jadi target termasuk Putri Mahkota Catharina-Amalia, calon ratu kerajaan. Seorang pria pro-Nazi telah ditangkap aparat keamanan... | Halaman Lengkap
(SINDOnews Ekbis) 03/05/26 06:11 209375
AMSTERDAM - Seorang pria pro-Nazi telah ditangkap aparat keamanan Belanda atas dugaan berencana membunuh dua putri Kerajaan Belanda, termasuk putri mahkota atau calon ratu. Pria tersebut membawa kapak bertuliskan salam verbal yang digunakan Nazi.Menurut jaksa penuntut, tersangka berusia 33 tahun itu menargetkan Putri Mahkota Catharina-Amalia (22), pewaris takhta, dan saudara perempuannya; Putri Alexia (20), pewaris takhta di urutan kedua.
Mengutip laporan dari The Telegraph, Minggu (3/5/2026), tersangka ditemukan membawa dua kapak yang diukir dengan tulisan “Alexia”, “Mossad” (nama badan intelijen Israel), dan Sieg Heil—salam verbal yang digunakan oleh Nazi.
Pihak berwenang juga mengungkap bahwa tersangka membawa catatan tulisan tangan dengan kata-kata “Amalia”, “Alexia” dan “pertumpahan darah” ketika ditangkap di Den Haag pada bulan Februari.
Tersangka akan menjalani sidang pendahuluan pada Senin pagi sebelum sidang pengadilan selanjutnya. Pihak berwenang belum mengungkapkan kemungkinan motifnya.
Para putri kerajaan yang dikhawatirkan menjadi target adalah dua putri tertua Raja Willem-Alexander (59) dan Ratu Máxima (54). Mereka memiliki adik perempuan, Putri Ariane, yang berusia 19 tahun.
Meskipun ada ancaman, keluarga kerajaan merayakan Koningsdag—Hari Raja—pada hari Senin lalu dengan menghadiri pesta jalanan, bertemu dengan masyarakat, dan bermain seluncur es. Hari itu adalah hari libur nasional untuk memperingati ulang tahun raja Belanda, Raja Willem-Alexander.
Ini bukan pertama kalinya ada kekhawatiran tentang keselamatan Putri Catharina-Amalia. Pada tahun 2020, dia bersembunyi setelah seorang pria mengancamnya dengan pemerkosaan dan kekerasan dalam serangkaian pesan.
Dua tahun kemudian, dia terpaksa meninggalkan akomodasi mahasiswanya di Amsterdam karena kekhawatiran akan keselamatannya. Dia kembali ke istana kerajaan yang dijaga ketat di Den Haag.
Ratu Máxima mengatakan pada saat itu: “Dia tidak bisa tinggal di Amsterdam dan dia tidak bisa benar-benar keluar [istana]. Ini memiliki konsekuensi yang sangat besar pada hidupnya.”
Putri Catharina-Amalia, yang fasih berbahasa Spanyol, melarikan diri dari negara itu untuk tinggal di Madrid selama setahun karena takut menjadi target penculikan oleh kartel narkoba.
Dia dan Mark Rutte, perdana menteri Belanda saat itu, telah disebutkan dalam komunikasi yang disadap antara anggota geng, yang menunjukkan bahwa mereka bisa menjadi target.
Ridouan Taghi, yang pernah disebut sebagai gembong narkoba paling berpengaruh di Eropa, membantah adanya rencana pembunuhan terhadap sang putri sebelum dia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup atas lima pembunuhan setelah persidangan Marengo pada tahun 2024.
Sebelum dijatuhi hukuman, Taghi diduga telah memerintahkan tiga pembunuhan yang terkait dengan persidangan tersebut, termasuk seorang pengacara, seorang jurnalis televisi, dan saudara laki-laki dari seorang saksi mahkota.
Pembunuhan-pembunuhan antar-geng tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa Taghi masih menjalankan kerajaan kriminalnya dari penjara dan bahwa Belanda telah menjadi negara narkoba, dengan geng-geng kuat yang saling berperang.
(mas)