Krakatau Steel (KRAS) Redam Gelombang PHK saat Gejolak Geopolitik
PT Krakatau Steel mengutamakan redistribusi tenaga kerja antarunit bisnis untuk menghindari PHK di tengah ketidakpastian ekonomi global.
(Bisnis.Com) 02/05/26 10:12 209002
Bisnis.com, JAKARTA — PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. (KRAS) mengatur strategi guna menjaga keberlangsungan tenaga kerja di tengah tekanan ekonomi global, termasuk dampak konflik di Timur Tengah terhadap industri baja.
Corporate Secretary Krakatau Steel Fedaus memastikan pemutusan hubungan kerja (PHK) menjadi opsi terakhir yang akan diambil perseroan di tengah ketidakpastian ekonomi global saat ini. Perusahaan lebih mengedepankan langkah efisiensi berbasis redistribusi tenaga kerja antarunit bisnis.
Menurutnya, pekerja dari unit yang tidak lagi optimal bisa dialihkan ke lini usaha lain yang masih membutuhkan tenaga kerja. Strategi ini dinilai lebih berkelanjutan dibandingkan pengurangan karyawan secara langsung.
“[PHK] itu adalah opsi yang sangat terakhir yang kita lakukan. Kalau kita bisa efisiensikan, bisa kita transport ke departemen lain,” katanya, belum lama ini.
Fedaus menambahkan, apabila langkah efisiensi tetap harus dilakukan, perusahaan akan menjalankannya secara hati-hati dan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan ketenagakerjaan yang berlaku.
Adapun saat ini, KRAS berupaya memperbaiki kinerja dan stabilisasi dengan sokongan dana dari Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara). Bahkan, perseroan baru saja ikut melakukan simbolisasi peletakan batu pertama (groundbreaking) untuk proyek hilirisasi baja terintegrasi pada 29 April 2026 di Cilacap, Jawa Tengah.
Adapun KRAS mengharmonisasi dua proyek investasi yang berlokasi di Cilegon untuk carbon steel dan Morowali untuk stainless steel bersama mitra strategis. Proyek pertama adalah pembangunan fasilitas produksi slab baja karbon berkapasitas 1,5 juta ton per tahun dengan investasi sebesar US$200 juta.
Proyek kedua, di bawah koordinasi Danantara, adalah fasilitas produksi slab stainless steel berkapasitas 1,2 juta ton per tahun dengan investasi US$320 juta.
Fedaus menjelaskan, setiap pembangunan pabrik baru pasti membuka lapangan kerja baru. Umumnya, membutuhkan sekitar 900 hingga 1.100 tenaga kerja, baik dari tenaga kerja internal maupun eksternal. Semua bergantung pada kebutuhan dan mempertimbangkan peralatan yang ada.
Selain menjaga serapan tenaga kerja, Krakatau Steel juga fokus pada peningkatan kompetensi karyawan. Perusahaan menyiapkan program pelatihan untuk mendukung modernisasi peralatan dan kesiapan menghadapi potensi masuknya investor baru. “Kita akan upgrade skill,” imbuhnya.
Ke depan, perseroan menilai tenaga kerja industri baja harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, termasuk digitalisasi, kecerdasan buatan, serta sistem otomasi.
#krakatau-steel #strategi-krakatau-steel #tekan-phk #industri-baja #efisiensi-tenaga-kerja #redistribusi-tenaga-kerja #proyek-hilirisasi-baja #investasi-baja #carbon-steel-cilegon #stainless-steel-moro