Dunia Semakin Tidak Aman, Belanja Militer Global Cetak Rekor Tembus Rp50.280 Triliun
Pengeluaran militer global mencapai hampir USD2,9 triliun atau setara Rp50.280 triliun pada 2025, menandai kenaikan selama 11 tahun berturut-turut. Pengeluaran... | Halaman Lengkap
(SINDOnews Ekbis) 01/05/26 21:01 208829
JAKARTA - Pengeluaran militer global mencapai hampir USD2,9 triliun atau setara Rp50.280 triliun pada 2025, menandai kenaikan selama 11 tahun berturut-turut di tengah meningkatnya ketidakamanan geopolitik dan perlombaan penguatan pertahanan di berbagai kawasan dunia. Amerika Serikat (AS), China, dan Rusia tercatat menjadi tiga negara dengan belanja militer terbesar yang secara gabungan menyumbang lebih dari setengah total pengeluaran global."Semuanya menunjukkan dunia yang merasa kurang aman dan menghabiskan lebih banyak untuk militer guna mengimbangi lanskap global," ujar Peneliti Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) Lorenzo Scarazzato dikutip dari France24 dikutip, Jumat (1/5/2026).
Berdasarkan laporan SIPRI, total belanja militer dunia pada 2025 naik 2,9% dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut terutama didorong lonjakan pengeluaran di Eropa dan Asia, meski Amerika Serikat sebagai negara dengan anggaran pertahanan terbesar justru mencatat penurunan.
AS menghabiskan sekitar USD954 miliar untuk sektor pertahanan atau turun 7,5% dibandingkan 2024. Penurunan itu dipengaruhi tidak adanya bantuan militer baru untuk Ukraina. Namun, SIPRI menilai tren tersebut kemungkinan hanya sementara karena Kongres AS telah menyetujui anggaran pertahanan lebih dari USD1 triliun untuk 2026.
Di Eropa, belanja militer melonjak 14% menjadi USD864 miliar, terutama dipicu perang Rusia-Ukraina dan meningkatnya dorongan agar negara-negara Eropa memperkuat pertahanan secara mandiri. Jerman meningkatkan anggaran militernya 24% menjadi USD114 miliar, sementara Spanyol melonjak 50% menjadi USD40,2 miliar.
Rusia mencatat pengeluaran militer sebesar USD190 miliar atau setara 7,5% dari produk domestik bruto (PDB), naik 5,9% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara Ukraina meningkatkan pengeluaran hingga 20% menjadi USD84,1 miliar atau mencapai sekitar 40% PDB negara tersebut.
Di kawasan Timur Tengah, pengeluaran militer relatif stagnan dengan kenaikan tipis 0,1% menjadi USD218 miliar. Meski sebagian besar negara meningkatkan anggaran pertahanan, Israel dan Iran justru mencatat penurunan pengeluaran.
SIPRI mencatat pengeluaran militer Iran turun 5,6% menjadi USD7,4 miliar akibat tingginya inflasi domestik yang mencapai 42%. Sementara belanja pertahanan Israel turun 4,9% menjadi USD48,3 miliar setelah intensitas perang Gaza mereda pascagencatan senjata Januari 2025.
Kawasan Asia dan Oseania mencatat kenaikan tercepat dengan pengeluaran mencapai USD681 miliar atau naik 8,5% dibandingkan 2024. China menjadi pendorong utama dengan anggaran pertahanan diperkirakan mencapai USD336 miliar pada 2025.
Selain China, negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan juga meningkatkan pengeluaran militernya sebagai respons terhadap ancaman keamanan regional. Jepang menaikkan belanja pertahanan 9,7% menjadi USD62,2 miliar, tertinggi sejak 1958, sementara Taiwan meningkatkan anggaran militer sebesar 14% menjadi USD18,2 miliar.
Menurut SIPRI, peningkatan belanja militer global mencerminkan perubahan lanskap keamanan dunia yang semakin kompleks. Selain perang terbuka, meningkatnya rivalitas geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global dinilai mendorong banyak negara memperkuat kapasitas pertahanan mereka dalam beberapa tahun terakhir.
(nng)