Prediksi Rupiah ke Rp 17.400: Dampak Krisis Energi dan Konflik Iran
Rupiah melemah signifikan akibat kenaikan harga minyak, tekanan neraca pembayaran, serta gejolak geopolitik terkait kebijakan Trump terhadap Iran. BI berupaya intervensi.
(Kompas.com) 30/04/26 16:10 207742
JAKARTA, KOMPAS.com - Nilai tukar rupiah di pasar spot melemah saat penutupan perdagangan Kamis (30/4/2026). Mata uang Garuda terdepresiasi 0,12 persen ke level Rp 17.346 per dollar AS.
Bahkan, diperkirakan rupiah masih akan melemah saat perdagangan Senin pekan depan, di mana nilai rupiah bergerak fluktuatif namun diperkirakan ditutup di rentang Rp 17.350- Rp 17.400 dollar AS.
Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyebut pelemahan mata uang Indonesia didorong oleh kenaikan harga minyak mentah dunia.
SHUTTERSTOCK/GAS-PHOTO Ilustrasi harga minyak mentah.Harga minyak mentah Brentmenembus level 122 dollar AS per barrel dan WTI Crude Oil mencapai 108 dollar AS per barrel.
Lonjakan itu berdampak langsung pada meningkatnya kebutuhan devisa untuk impor minyak mentah Indonesia yang mencapai sekitar 1,5 juta barrel per hari.
Kondisi tersebut diproyeksikan menambah tekanan terhadap neraca transaksi berjalan serta menggerus ketahanan fiskal.
Beban subsidi energi juga berpotensi meningkat dan menekan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.
“Kenaikan ini membuat kebutuhan dollar AS untuk pembelian minyak mentah sebesar 1,5 juta barrel per hari semakin tinggi. Tingginya harga minyak diproyeksikan dapat menambah tekanan neraca transaksi berjalan dan menggerus ketahanan fiskal,” ujar Ibrahim kepada wartawan Kamis sore ini.
Adapun, asumsi dasar APBN menetapkan harga minyak di level 70 dollar AS per barrel, sementara harga saat ini telah jauh melampaui 100 dollar AS per barrel, bahkan menembus 120 dollar AS.
Setiap kenaikan harga minyak sebesar 1 dollar AS per barrel diperkirakan dapat menambah beban subsidi dan kompensasi energi sebesar Rp 10 triliun hingga Rp 13 triliun per tahun.
Di sisi lain, kebijakan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menahan aliran dana asing turut memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah.
PIXABAY/MOHAMAD TRILAKSONO Ilustrasi rupiah.Ia memperkirakan kombinasi dari sentimen global, tekanan makroekonomi, serta dinamika domestik membuka potensi arus keluar dana asing (outflow) hingga Rp 15 triliun.
Menghadapi kondisi tersebut, Bank Indonesia terus melakukan langkah intervensi secara komprehensif.
Intervensi dilakukan di pasar luar negeri melalui instrumen Non-Deliverable Forward (NDF), di pasar domestik melalui pasar spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder secara terukur.
Selain itu, BI juga menjaga daya tarik instrumen rupiah seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
BI juga diharapkan menjaga komunikasi kebijakan agar pelaku pasar tetap yakin bahwa pelemahan rupiah tidak akan berlangsung tidak terkendali.
Kenaikan suku bunga acuan dipandang sebagai opsi terakhir, yang hanya akan ditempuh apabila pelemahan rupiah semakin tajam, inflasi impor meningkat, arus modal keluar membesar, serta instrumen pasar tidak lagi efektif menahan tekanan.
Dari sisi global, ketegangan geopolitik meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan tengah mempertimbangkan blokade angkatan laut berkepanjangan terhadap Iran.
Kekhawatiran pasar bertambah setelah muncul laporan bahwa sejumlah eksekutif perusahaan minyak AS bertemu dengan Trump di Gedung Putih untuk membahas upaya membatasi dampak konflik terhadap ekonomi domestik.
Skenario blokade tersebut berpotensi memicu respons Iran dengan terus memblokir Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi terpenting dunia.
Gangguan di jalur ini berisiko besar terhadap pasokan minyak global.
Sejak akhir Februari, lalu lintas kapal di Selat Hormuz telah melambat setelah Iran melakukan pemblokiran, yang berdampak pada sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
NASA EARTH OBSERVATORY via AFP Selat Hormuz saat dilihat dari Satelit Terra milik NASA pada 5 Februari 2025.Dalam perkembangan terbaru, Trump dilaporkan berupaya membentuk koalisi internasional guna membuka kembali jalur tersebut, meskipun sejumlah sekutu utama Amerika Serikat belum menunjukkan dukungan penuh.
Sementara itu, perundingan antara Amerika Serikat dan Iran masih menemui jalan buntu, terutama terkait isu aktivitas nuklir Iran.
Meski Trump memperpanjang gencatan senjata tanpa batas waktu, kedua pihak belum menunjukkan kemajuan berarti dalam proses diplomasi.
Di tengah situasi tersebut, Ketua Federal Reserve Jerome Powell juga menyoroti dinamika internal bank sentral AS.
Ia menyampaikan bahwa independensi The Fed saat ini menghadapi risiko, di tengah tekanan politik yang meningkat, serta menyebutkan perkembangan terkait kandidat potensial penggantinya di masa mendatang.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang#harga-minyak-dunia #rupiah-melemah #intervensi-bi #geopolitik-trump