Kisah Stanley Evander, Lulusan Doktor Tercepat UGM 2026 dengan Riset Kit Ekstraksi DNA

Kisah Stanley Evander, Lulusan Doktor Tercepat UGM 2026 dengan Riset Kit Ekstraksi DNA

Wisudawan Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, Stanley Evander Emeltan Tjoa, menjadi lulusan tercepat Program Doktor pada wisuda 22-23 April 2026 lalu.... | Halaman Lengkap

(SINDOnews Ekbis) 29/04/26 15:32 206542

JAKARTA - Wisudawan Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada ( UGM ) Stanley Evander Emeltan Tjoa, menjadi lulusan tercepat Program Doktor pada wisuda 22-23 April 2026 lalu. Lulusan Program Studi Doktor Biologi tersebut berhasil menyelesaikan studinya hanya dalam waktu 2 tahun 5 bulan 14 hari.

Kelulusan Stanley jauh lebih cepat dibanding rata-rata masa studi doktor yang mencapai 4 tahun 10 bulan.

Keberhasilan Stanley menyelesaikan studi doktor dalam waktu singkat tidak lepas dari riset inovatif yang ia kembangkan mengenai kit ekstraksi DNA berbasis nanopartikel magnetik. Penelitian tersebut lahir dari kolaborasi antara dunia industri dan akademisi.

Stanley mengungkapkan ketertarikannya pada bidang molekuler semakin berkembang saat bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang terkait. Diskusi antara pihak perusahaan dan akademisi menjadi awal mula perjalanan risetnya.

“Ketertarikan saya pada dunia molekuler semakin dalam saat bekerja. Waktu itu, Prof. Budi mendiskusikan pengembangan kit ekstraksi miliknya dengan perusahaan kami. Perusahaan pun tertarik untuk mengembangkan lebih lanjut,” jelas Stanley, dikutip dari laman UGM, Rabu (29/4/2026).

Ia menjelaskan bahwa kit DNA yang dikembangkannya berfungsi untuk mempersiapkan sampel sebelum dilakukan proses PCR (Polymerase Chain Reaction). Berbeda dengan metode konvensional, Stanley memanfaatkan teknologi nanopartikel magnetik untuk meningkatkan efisiensi di bidang kesehatan.

“Disertasi saya fokus pada pengembangan kit ekstraksi DNA. Didukung oleh tim promotor dari lintas disiplin, yaitu Biologi, Kimia, dan Fisika, agar produk ini dapat menjadi satu kit yang utuh,” paparnya.

Menurut Stanley, inovasi tersebut menjadi bukti bahwa Indonesia mampu memproduksi kit ekstraksi DNA secara mandiri tanpa harus bergantung pada produk impor. Selama ini, kebutuhan kit ekstraksi DNA di Indonesia masih didominasi produk luar negeri dengan harga relatif mahal dan waktu distribusi yang cukup lama.

“Saat ini, kit ekstraksi DNA di Indonesia dibanjiri oleh produk impor. Di samping harga yang tinggi akibat bea masuk, waktu distribusi juga memakan waktu lama. Melalui disertasi ini, saya mencoba mengatasi tantangan tersebut dengan menyesuaikannya dengan Rencana Induk Pengembangan Industri Nasional (RIPIN) hingga 2035,” ungkapnya.

Menariknya, perjalanan Stanley hingga menjadi doktor biologi berawal dari rasa penasaran saat duduk di bangku SMA. Ia mengaku awalnya tidak terlalu menyukai mata pelajaran IPA. Namun, keberhasilannya masuk kelas sains khusus justru membuka minatnya terhadap dunia biologi dan riset.

“Dulu iseng-iseng coba masuk program science class, ternyata lolos. Dari sana, saya mulai penasaran dengan Biologi,” kenangnya.

Pria asal Surabaya tersebut juga menyebut statusnya sebagai mahasiswa by research yang dibiayai perusahaan tempatnya bekerja menjadi salah satu faktor utama yang mempercepat masa studinya.

“Karena saya melalui jalur by research, Prodi Biologi mengakomodasi agar prosesnya bisa lebih cepat. Sejak semester satu, saya sudah mulai menyusun proposal, lalu awal semester dua sudah ujian komprehensif. Jadi, untuk penelitian bisa lebih panjang dan terfokus,” tuturnya.
(nnz)

#lulusan-tercepat #ugm #mahasiswa-ugm #gelar-doktor #tes-dna

https://edukasi.sindonews.com/read/1701497/211/kisah-stanley-evander-lulusan-doktor-tercepat-ugm-2026-dengan-riset-kit-ekstraksi-dna-1777449852