Gandeng 8 Rumah Sakit, Surabaya Luncurkan Program Medical Tourism
Surabaya luncurkan Medical Tourism, targetkan 1.000 pasien domestik dan mancanegara dengan layanan medis terintegrasi wisata, kolaborasi 8 RS bersertifikasi.
(Bisnis.Com) 23/04/26 17:40 200845
Bisnis.com, SURABAYA — Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya resmi meluncurkan program Medical Tourism bekerja sama dengan delapan rumah sakit yang telah mengantongi sertifikasi Medical Tourism dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI.
Delapan rumah sakit tersebut yakni RSUD Dr. Soetomo, RSUD Dr. Soewandhi, RS Unair, RS Husada Utama, RS Premier Surabaya, RS Siloam, RS Ubaya, dan RS Katolik St. Vincentius a Paulo (RS RKZ). Masing-masing rumah sakit menyediakan layanan unggulan mulai dari penanganan jantung, terapi khusus, hingga layanan kesehatan perempuan dan anak.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menyatakan peluncuran program ini merupakan inisiatif pemerintah kota untuk menjadikan Surabaya sebagai destinasi utama layanan kesehatan bagi masyarakat di wilayah Indonesia Timur hingga mancanegara.
Lebih lanjut, Eri menegaskan bahwa program Medical Tourism bukan sekadar menawarkan fasilitas medis, tetapi juga menghadirkan ekosistem layanan yang terintegrasi dengan biro perjalanan wisata.
"Kami berkolaborasi dengan biro perjalanan. Jadi, pasien dari luar kota atau luar negeri tinggal memilih paket. Mulai dari penjemputan di bandara dengan jalur khusus ambulans, proses di rumah sakit, hingga akomodasi hotel untuk keluarga, semuanya sudah dalam satu paket perjalanan,” ungkap Eri, Kamis (23/4/2026).
Menurutnya, strategi tersebut ditempuh untuk meyakinkan masyarakat agar tidak perlu lagi berobat ke luar negeri. Ia menilai layanan kesehatan di dalam negeri sebenarnya telah mampu memberikan pelayanan setara dengan rumah sakit di negara lain.
“Ditambah dengan dokter spesialis yang mumpuni dan teknologi medis yang komprehensif. Saya optimis layanan kesehatan atau rumah sakit di Kota Surabaya mampu menangani pengobatan yang selama ini dicari pasien di luar negeri,” tegasnya.
Terkait target awal, Eri menargetkan sekitar 500 hingga 1.000 pasien yang berobat atau melakukan medical check-up di Surabaya dalam beberapa bulan ke depan.
Untuk mencapai target tersebut, Pemkot Surabaya akan menggencarkan promosi di berbagai moda transportasi umum. Selain itu, Eri juga berharap rumah sakit lain di Surabaya dapat segera memperoleh sertifikasi dari Kemenkes agar pilihan layanan dalam program Medical Tourism semakin beragam.
“Kita akan masifkan promosi di berbagai layanan publik, termasuk transportasi umum, seperti di maskapai penerbangan jalur internasional, iklan di kereta api, dan kapal laut. Saya juga meminta rumah sakit dan biro perjalanan menyertakan informasi detail mengenai tarif dan layanan unggulan di situs resmi mereka,” katanya.
Selain itu, Eri juga mendorong integrasi data rekam medis untuk pelayanan kesehatan warga Surabaya. Ia mengaku telah menginstruksikan Dinas Kesehatan (Dinkes) serta seluruh direktur rumah sakit untuk membentuk komunitas yang memetakan sebaran penyakit di wilayah tersebut.
"Saya butuh data by name, by address. Jika ada warga yang terjadwal kontrol tetapi tidak hadir, pemerintah yang harus turun ke rumahnya untuk memberikan obat atau tindakan. Kita tidak ingin warga yang sakit, apalagi yang tidak mampu, kesulitan transportasi untuk sekadar kontrol ke rumah sakit," jelasnya.
Skema Layanan Medis Terpadu
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya dr Billy Daniel Messakh menjelaskan keunggulan utama program ini terletak pada paket layanan satu harga yang telah mencakup kebutuhan pasien sekaligus program wisata bagi keluarga yang mendampingi.
“Jadi dalam program ini, garis besarnya adalah orang yang sakit kita rawat, sementara keluarga yang menemani bisa kita layani untuk berwisata. Semua sudah terkandung dalam satu paket harga," tutur Billy.
Secara teknis, pasien cukup menghubungi pihak rumah sakit atau biro perjalanan yang bekerja sama untuk menentukan layanan yang diinginkan. Billy menyebut pihaknya optimistis program tersebut akan berjalan baik karena Surabaya telah berpengalaman menangani pasien dari wilayah Indonesia timur seperti NTT dan Papua.
“Misalnya, pasien dijemput langsung di Bandara Juanda menggunakan ambulans sesuai protokol, langsung menuju rumah sakit hingga dinyatakan sembuh. Setelah masa pemulihan, pasien maupun keluarga diberikan fasilitas untuk menikmati destinasi wisata di Surabaya sebelum kembali ke daerah asal,” ungkap Billy.
Terkait persaingan harga dengan destinasi medis di negara tetangga, Billy menilai Surabaya memiliki keunggulan kompetitif yang signifikan. Selain memangkas biaya transportasi internasional dan akomodasi, tarif layanan medis di Surabaya juga mengacu pada standar yang ditetapkan dalam peraturan daerah.
"Kalau dibandingkan dengan Malaysia atau Singapura, kita jauh lebih murah. Perbandingannya, jika di sana 100%, di sini mungkin hanya 75% nya. Jadi bisa hemat sekitar 25% dengan kualitas dokter yang tidak kalah hebat," paparnya.
#surabaya-medical-tourism #medical-tourism-surabaya #rumah-sakit-surabaya #layanan-kesehatan-surabaya #wisata-medis-surabaya #pasien-domestik-surabaya #pasien-mancanegara-surabaya #program-medical-tour