Kementan Ungkap Biang Kerok Rendahnya Produktivitas Tebu Nasional

Kementan Ungkap Biang Kerok Rendahnya Produktivitas Tebu Nasional

Produktivitas tebu RI masih rendah karena pabrik tua & kendala lahan. Kementan dan Wamenperin paparkan penyebab serta strategi ambisius swasembada gula 2028.

(Kompas.com) 19/04/26 09:11 195766

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Pertanian mengungkapkan penyebab produktivitas tebu nasional masih rendah dengan rata-rata produksi gula sekitar 4,74 ton per hektar, hal jauh di bawah capaian historis.

Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kementerian Pertanian, Kuntoro Boga Andri, mengatakan bahwa penyebabnya beragam, mulai dari kebun tebu yang menua, keterbatasan bibit unggul, praktik budidaya yang belum optimal, hingga keterbatasan infrastruktur irigasi dan akses permodalan.

“Di sisi hilir, banyak pabrik gula berusia tua dengan rendemen rendah, sehingga meski revitalisasi pabrik terus digencarkan melalui suntikan modal negara, peningkatan kinerja belum maksimal tanpa pasokan tebu berkualitas,” kata Kuntoro dalam keterangan resmi, Minggu (19/4/2026).

Freepik/v.ivash Ilustrasi gula.

Sementara itu, Wamenperin Faisol Riza menjelaskan tiga kendala yang sebabkan produktivitas tebu nasional masih rendah.

Kendala pertama berasal dari sisi produksi.

Dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI DPR RI beberapa waktu lalu, Faisol menjelaskan bahwa pabrik gula kristal rafinasi yang berdiri sebelum regulasi baru pada dasarnya hanya dirancang untuk memurnikan gula kristal mentah menjadi gula kristal rafinasi.

“Perubahan bahan baku dari gula kristal mentah ke tebu membutuhkan investasi baru, termasuk pembangunan fasilitas pengolahan tebu serta penyesuaian lini produksi yang selama ini tidak dipersiapkan untuk operasi berbasis tebu,” jelas Faisol.

Kendala kedua terkait keterbatasan lahan.

Sebagian besar pabrik gula rafinasi berlokasi di kawasan dekat pelabuhan, terutama di Banten, sementara ketersediaan lahan tebu di wilayah tersebut sangat terbatas.

Kendala ketiga berasal dari aspek logistik.

Pixabay/WebTechExperts Ilustrasi tanaman tebu.

Faisol menjelaskan, kewajiban kepemilikan kebun tebu berpotensi membuat lokasi perkebunan jauh dari pabrik rafinasi.

Kondisi ini dinilai tidak ideal karena tebu harus segera digiling setelah panen untuk menjaga rendemen tetap optimal.

Jarak yang terlalu jauh berisiko menurunkan kualitas bahan baku dan efisiensi produksi.

“Dari aspek logistik, tebu harus segera digiling untuk menjaga rendemen tetap optimal,” pungkasnya.

Dosen Prodi Ekonomi Pembangunan FBE UAJY & Sekretaris ISEI Cabang Yogyakarta Yuvensius Sri Susilo mengatakan bahwa kualitas gula yang diproduksi oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pangan saat ini dinilai tidak optimal disebabkan oleh kondisi pabrik gula tua yang dimiliki BUMN.

Dia juga mengatakan bahwa kualitas gula ID Food yang tidak sebaik produksi pabrik gula swasta.

“Itu terjadi karena faktor pabrik gula mesinnya sudah tua, sehingga kualitas produk gula tidak optimal juga berwarna putih kusam atau kuning. Di sisi lain, gula pabrik swasta warna lebih putih,” jelasnya.

Untuk mengatasi persoalan itu, Sri Susilo menjelaskan bahwa pabrik gula BUMN perlu melakukan modernisasi pabrik (mesin giling dan infrastruktur pendukung), ikut penguatan budidaya tebu, restrukturisasi manajemen.

“Hal itu perlu dilakukan untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi produksi yang dapat mendorong swasembada gula,” ujar dia.

Sementara, pengamat pertanian IPB Purwono MS menjelaskan kerugian Sugar Co lebih disebabkan efisiensi pabrik yang beragam sehingga biaya olah gula tinggi.

Dengan sistem bagi hasil 70 persen gula milik petani.

“Untuk swasembada Gula Kristal Putih relatif lebih pasti karena areal pertanaman dan pabrik gulanya sudah ada,” jelas Purwono.

SHUTTERSTOCK/AFRICA STUDIO Ilustrasi gula pasir. Peneliti menemukan tagatose, gula alami yang rasanya hampir semanis gula meja tetapi lebih rendah kalori dan tidak memicu lonjakan insulin.

“Tapi untuk swasembada Gula Kristal Rafinasi belum ada roadmap yang jelas. Rencana pembangunan pabrik gula dan kebun belum ada yang jadi,” lanjut Purwono.

Sebagai informasi, pemerintah menyiapkan berbagai langkah strategis untuk mewujudkan swasembada gula konsumsi pada 2028.

Untuk tahun 2026, Kementerian Pertanian menargetkan produksi gula konsumsi mencapai 3 juta ton.

Dalam mendukung target tersebut, holding pangan ID Food bersama PT Sinergi Gula Nusantara melakukan konsolidasi industri gula nasional dengan mengintegrasikan 36 pabrik gula yang tersebar di berbagai wilayah, mulai dari Sumatra hingga Sulawesi.

Upaya pencapaian target juga difokuskan pada perluasan lahan dan peningkatan produktivitas.

Pemerintah mendorong program hilirisasi perkebunan, termasuk peremajaan tebu (bongkar ratoon) serta pembukaan lahan baru seluas 200.000 hektar sepanjang 2025 hingga 2026, meskipun implementasinya di lapangan masih menghadapi sejumlah tantangan.

Kebijakan ini diperkuat melalui Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2023 yang mengatur percepatan swasembada gula sekaligus pengembangan bioetanol.

Selain itu, pemerintah juga mendorong penggunaan varietas tebu unggul dengan produktivitas tinggi.

Dari sisi tata niaga, pemerintah menetapkan harga acuan sebesar Rp 14.500 per kilogram di tingkat produsen dan Rp 17.500 per kilogram di tingkat konsumen.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#gula #swasembada-gula #produktivitas-tebu #pabrik-gula-tua #harga-acuan-gula

https://money.kompas.com/read/2026/04/19/091113126/kementan-ungkap-biang-kerok-rendahnya-produktivitas-tebu-nasional