Widodo Makmur (WMUU) Bidik Dana Rp600 Miliar Lewat Rights Issue
PT Widodo Makmur Unggas Tbk. (WMUU) berencana mengumpulkan Rp600 miliar melalui rights issue untuk memperkuat likuiditas di tengah tekanan utang tinggi.
(Bisnis.Com) 17/04/26 11:47 194346
Bisnis.com, JAKARTA — PT Widodo Makmur Unggas Tbk. (WMUU), emiten peternakan ayam, berencana menghimpun dana hingga Rp600,47 miliar melalui aksi rights issue di tengah tekanan kinerja dan beban utang yang masih tinggi.
Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (17/4/2026), langkah penambahan modal melalui skema hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) ini menjadi bagian dari upaya perseroan memperkuat likuiditas.
Manajemen menjelaskan dana yang dihimpun akan difokuskan untuk modal kerja operasional, di tengah kondisi keuangan yang masih mencatatkan rugi bersih.
Dalam aksi korporasi tersebut, WMUU akan menerbitkan sebanyak-banyaknya 6 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp100 per saham. Setiap pemegang 125 saham lama berhak atas 58 HMETD.
Pemegang saham utama, PT Widodo Makmur Perkasa Tbk. (WMP), yang menguasai 40,94% saham, menyatakan akan mengeksekusi seluruh haknya. WMP juga bertindak sebagai pembeli siaga dengan mekanisme konversi piutang menjadi saham.
Skema ini membuat posisi WMP berpotensi semakin dominan. Dalam skenario seluruh pemegang saham lain tidak mengeksekusi haknya, porsi kepemilikan WMP dapat meningkat menjadi sekitar 55,04%.
Di sisi lain, pemegang saham publik menghadapi risiko dilusi signifikan jika tidak berpartisipasi dalam rights issue. Perseroan secara eksplisit menyebutkan risiko dilusi maksimum mencapai 31,69% setelah aksi korporasi tersebut.
Tekanan fundamental masih membayangi. Sepanjang 2025, WMUU membukukan rugi sebelum pajak Rp83,59 miliar, meskipun lebih rendah 45,75% dibandingkan rugi Rp154,1 miliar pada 2024.
Di saat yang sama, penjualan melonjak 95,95% menjadi Rp740,93 miliar. Namun, lonjakan tersebut belum mampu menutup beban pokok penjualan yang lebih tinggi mencapai Rp753,78 miliar, sehingga perseroan masih mencatat rugi kotor Rp12,84 miliar.
Struktur permodalan juga menunjukkan tekanan leverage yang tinggi. Total liabilitas mencapai Rp1,55 triliun atau setara 67% dari total aset, dengan rasio utang terhadap ekuitas mencapai 2 kali.
Kondisi tersebut tercermin dari rasio kemampuan bayar yang masih lemah. Debt service coverage ratio (DSCR) berada di level negatif 0,61, menandakan arus kas operasional belum memadai untuk memenuhi kewajiban utang.
Langkah ini berpotensi menekan beban liabilitas, tetapi di sisi lain meningkatkan konsentrasi kepemilikan. Periode perdagangan HMETD dijadwalkan berlangsung pada 3—9 Juli 2026, dengan tanggal terakhir pelaksanaan pada 6 Juli 2026.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
#widodo-makmur #wmu-rights-issue #dana-rights-issue #saham-wmu #emiten-peternakan-ayam #modal-kerja-wmu #pemegang-saham-wmu #risiko-dilusi-saham #leverage-wmu #penjualan-wmu-2025 #rugi-bersih-wmu #stru