Okupansi Mal Kelas Atas Moncer, Kelas Bawah Masih Lesu
Mal segmen kelas atas di Indonesia mencatat okupansi 90% di kuartal I/2026, sementara okupansi mal kelas bawah stagnan di 58%.
(Bisnis.Com) 16/04/26 14:45 193383
Bisnis.com, JAKARTA — Konsultan properti Colliers Indonesia mengungkapkan bisnis pusat ritel atau mal kelas atas mencatatkan kinerja moncer sepanjang kuartal I/2026. Hal itu tecermin dari tingginya tingkat keterisian suplai yang ada.
Meski demikian, terdapat kesenjangan performa yang kian lebar. Tren positif mal kelas atas tercatat tidak diikuti dengan peningkatan okupansi mal di segmen kelas menengah bawah.
Head of Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto, mengemukakan okupansi mal kelas atas pada Kuartal I/2026 telah menyentuh level 90%. Sebaliknya, mal segmen menengah bawah masih tertahan pada angka okupansi sekitar 58%.
"Kami lihat memang kelas atas itu waiting list-nya panjang, okupansinya sekitar 90%. Sementara mal kelas menengah bawah sekitar 58%, jadi memang belum terlalu pulih," ujar Ferry dalam paparan risetnya dikutip Kamis (16/4/2026).
Ferry menyebut kuatnya permintaan di segmen premium didorong oleh ekspansi agresif tenan sektor food & beverage (F&B) dan lifestyle. Kondisi ini membuat pemilik mal premium memiliki posisi tawar tinggi untuk mempertahankan tarif sewa di level maksimal.
Ferry berpandangan masalah utama lesunya mal kelas menengah berada di kondisi trafik pengunjung yang meningkat secara umum, tetapi belum sepenuhnya terkonversi menjadi nilai transaksi.
Tak hanya itu, terdapat pergeseran perilaku konsumen, terutama Gen Z yang saat ini membuat sektor fashion tertekan akibat persaingan ketat dengan platform daring.
Mengacu pada paparan yang disampaikan, total pasokan mal baru mencapai 63.000 meter persegi (m2) hingga 2029. Sementara itu, area Bodetabek diproyeksi bakal kebanjiran pasokan baru mencapai 91.000 m2.
Di tengah pertumbuhan pasokan, pengelola menghadapi tantangan berupa kenaikan biaya operasional yang signifikan. Kondisi ini terjadi meski harga sewa masih bergerak naik pada level yang moderat.
Ke depan, pasar ritel diprediksi memasuki fase penyesuaian yang lebih realistis dan efisien. Fokus pengelola kini bergeser pada penciptaan ekosistem belanja yang berkelanjutan guna menghadapi selektivitas daya beli masyarakat.
"Kami lihat di beberapa mal memang sudah memulai merenovasi, hal ini diharapkan mendorong kinerja mal ke depannya," pungkasnya.
#mal-kelas-atas #okupansi-mal #mal-kelas-bawah #pusat-ritel #properti-colliers #tingkat-keterisian #okupansi-menengah-bawah #permintaan-premium #ekspansi-f-amp-b #perilaku-konsumen #pasokan-mal-baru #k