Reli Harga Bitcoin (BTC) Berlanjut, Kebijakan “Tol Kripto” Iran Picu Lonjakan
Harga Bitcoin (BTC) melonjak signifikan di tengah dinamika geopolitik global yang memanas.
(Kompas.com) 15/04/26 13:57 192039
JAKARTA, KOMPAS.com — Harga Bitcoin (BTC) melonjak signifikan di tengah dinamika geopolitik global yang memanas.
Pada Senin (13/4/2026), Bitcoin tercatat naik sekitar 6 persen hingga mendekati level 75.000 dollar AS, didorong oleh fenomena short squeeze masif yang dipicu oleh blokade Selat Hormuz oleh Amerika Serikat (AS).
Ketegangan meningkat setelah Iran merespons kebijakan tersebut dengan langkah tak terduga, yakni mewajibkan pembayaran “tol Bitcoin” bagi seluruh kapal tanker yang melintasi jalur strategis tersebut.
FREEPIK/FABRIKASIMF Ilustrasi bitcoin.Kebijakan ini menjadi pemicu tambahan bagi lonjakan harga sekaligus memperkuat peran aset kripto dalam dinamika ekonomi global.
Vice President INDODAX, Antony Kusuma, mengatakan kenaikan harga Bitcoin dan aset kripto lainnya mencerminkan semakin kuatnya posisi kripto dalam merespons tekanan global.
“Kenaikan harga Bitcoin di tengah kombinasi faktor geopolitik, inflasi, dan dinamika pasar menunjukkan bahwa kripto semakin dipandang sebagai alternatif lindung nilai," ujar Antony dalam keterangannya, Rabu (15/4/2026).
Fenomena seperti penggunaan Bitcoin dalam aktivitas ekonomi lintas negara menjadi sinyal bahwa adopsi kripto terus berkembang, tidak hanya di level ritel tetapi juga dalam konteks global yang lebih luas,” imbuhnya.
Kebijakan Iran yang mengenakan tarif setara 1 dollar AS per barrel dalam bentuk Bitcoin menciptakan permintaan organik secara instan.
Penggunaan sistem pembayaran berbasis blockchain ini dinilai sebagai strategi untuk memastikan transaksi tetap berjalan sekaligus menghindari sanksi internasional dengan memanfaatkan sistem keuangan di luar jangkauan AS.
SHUTTERSTOCK/LIGHTSPRING Ilustrasi inflasi.Di sisi lain, tekanan inflasi di Amerika Serikat turut memperkuat sentimen terhadap aset kripto.
Data menunjukkan inflasi (CPI) AS naik menjadi 3,3 persen pada Jumat (10/4/2026), lebih tinggi dibandingkan tren satu hingga dua tahun terakhir yang berada di kisaran 2,4 persen hingga 3 persen.
Kenaikan harga yang dipicu konflik di Timur Tengah tersebut meningkatkan ekspektasi inflasi akan bertahan tinggi.
Kondisi ini mendorong investor melakukan diversifikasi ke aset alternatif seperti Bitcoin, sekaligus memperkuat narasi kripto sebagai safe haven di tengah tekanan terhadap mata uang konvensional.
Pada kisaran harga 74.000 dollar AS hingga 75.000 dollar AS, penguatan Bitcoin juga didukung arus masuk dana ke ETF Bitcoin spot yang mencapai sekitar 1,94 miliar dollar AS sepanjang periode Maret hingga April 2026.
Dukungan likuiditas ini dinilai memperkuat struktur harga serta menjaga momentum positif dalam jangka pendek.
Sentimen positif tersebut turut mendorong kenaikan sejumlah aset kripto lain. Berdasarkan data CoinMarketCap, Ethereum (ETH) naik 8 persen ke level 2.380 dollar AS.
Sementara itu, Solana (SOL) menguat 5,2 persen ke posisi 86,60 dollar AS dan BNB naik 3,2 persen ke level 615,50 dollar AS.
Menurut Antony, perkembangan ini menunjukkan bahwa industri kripto mulai memasuki fase baru dalam adopsinya.
“Jika sebelumnya kripto lebih banyak dipandang sebagai aset spekulatif, saat ini perannya mulai meluas ke ranah geopolitik dan perdagangan internasional. Ini adalah perkembangan yang penting, karena memperlihatkan bahwa teknologi blockchain memiliki relevansi yang semakin nyata dalam sistem ekonomi global,” kata dia.
DOK. INDODAX Vice President Indodax Antony Kusuma.Meski demikian, Antony mengingatkan bahwa volatilitas tetap menjadi karakter utama pasar kripto. Ia menekankan bahwa sejumlah faktor lain masih berpotensi memengaruhi pergerakan harga dalam jangka pendek.
Faktor tersebut antara lain kebutuhan likuiditas menjelang rilis Producer Price Index (PPI) dan periode penjualan pajak di Amerika Serikat, serta perubahan kebijakan moneter.
Oleh karena itu, investor diimbau untuk tetap mengedepankan manajemen risiko dan tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan sentimen sesaat.
Secara historis, April merupakan bulan yang cenderung positif bagi Bitcoin. Sejak 2013, rata-rata kinerja Bitcoin pada bulan ini mencatatkan kenaikan hingga 69 persen dan konsisten ditutup di zona hijau.
Namun, pada tahun ini, pergerakan pasar dinilai lebih dipengaruhi oleh faktor geopolitik dan makroekonomi, termasuk dampak lanjutan dari koreksi harga yang terjadi pada tahun sebelumnya.
Hingga kuartal II 2026, harga Bitcoin tercatat mengalami kenaikan sebesar 8,64 persen.
INDODAX menilai perkembangan ini mencerminkan adanya pergeseran peran kripto dari sekadar instrumen investasi menjadi bagian dari dinamika ekonomi global.
Dalam konteks tersebut, perusahaan menyatakan komitmennya untuk terus menyediakan platform yang aman dan transparan.
Selain itu, INDODAX juga berupaya mendukung investor Indonesia dalam memahami serta merespons peluang di industri aset digital secara lebih bijak, guna mendorong terciptanya manfaat jangka panjang bagi para member.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang