Magyar Péter jadi PM Hungaria, Kalahkan Rezim 16 Tahun Orbán yang Didukung AS
Magyar Peter terpilih sebagai PM Hungaria, mengakhiri 16 tahun rezim Orban. Dia berjanji mempererat hubungan dengan UE dan memberantas korupsi di dalam negeri.
(Bisnis.Com) 13/04/26 15:51 189736
Bisnis.com, JAKARTA — Magyar Péter dan partainya, Tisza, berhasil memenangkan pemilihan umum Hungaria berdasarkan hasil hitung suara sementara. Kemenangan Tisza pun mengakhiri kekuasaan rezim Orbán Viktor yang telah berlangsung selama 16 tahun terakhir.
Menurut laporan BBC News, seperti dilansir pada Senin (13/4/2026), berdasarkan lebih dari 98% suara yang telah dihitung, Tisza berada di jalur untuk meraih 138 kursi di parlemen Hungaria. Sementara itu, partai Fidesz milik Orbán meraih 55 kursi dan partai ultranasionalis Our Homeland meraih 6 kursi.
“Bersama-sama kita menggulingkan rezim Hungaria,” seru Magyar kepada para pendukungnya setelah adanya pengumuman kemenangan sementaranya di tepi Sungai Danube, Budapest, Hungaria, pada Minggu (12/4/2026) atau Senin (13/4/2026) pagi waktu Indonesia.
Magyar, yang berusia 45 tahun merupakan mantan orang dalam dari partai Fidesz dan pendukung Perdana Menteri Orbán, sebelum dia berubah haluan dengan menolak pemerintahan Orbán, menjadi kritikusnya, dan membentuk partai Tisza.
Dia mengatakan bahwa Orbán telah menghubunginya melalui telepon untuk mengucapkan selamat atas kemenangannya dalam pemilihan umum parlemen ini. Orbán juga telah mengumumkan kekalahannya secara langsung di gedung pusat partainya, dengan mengatakan bahwa hasil pemilu terbaru tersebut “jelas dan menyakitkan”.
Sebelumnya, kekuasaan Orbán di Hungaria dibangun dari empat kemenangan dalam pemilu secara berturut-turut dan perolehan suara mayoritas mutlak. Dalam 16 tahun pemerintahan Orbán, Hungaria dilaporkan telah mengalami kemunduran dalam kebebasan demokrasi sehingga sistem pemerintahannya itu pun dikecam sebagai suatu “otokrasi elektoral”.
Kemenangan Magyar dan partainya juga akan menjadi kelegaan yang besar bagi negara-negara Eropa lain, seperti dilaporkan oleh CNN. Selama ini, Orbán menjadi sosok yang yang kontroversial di Eropa dan di dalam Uni Eropa (UE), semenjak Hungaria bergabung ke organisasi regional tersebut pada 2004.
Pada kebanyakan waktunya ketika memimpin Hungaria, Orbán telah berseteru dengan pimpinan UE dalam banyak hal, mulai dari hukum migrasi hingga dukungan UE terhadap Ukraina dalam invasi wilayahnya yang dilakukan oleh Rusia. Orbán berkali-kali telah menggunakan penundaan-penundaan prosedural dan hak vetonya untuk menggagalkan kesepakatan-kesepakatan penting.
Kekalahan Orbán juga menjadi kerugian bagi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Dia dan timnya telah berupaya keras untuk mendukung pemimpin nasionalis tersebut pada tahap akhir kampanye pemilu ini.
Bahkan, Wakil Presiden JD Vance telah melakukan upaya terbuka untuk mendukung Orbán selama kunjungannya ke Budapest pekan lalu. Trump sendiri telah menjanjikan dukungan ekonomi bagi perekonomian Hungaria yang sedang terpuruk, jika Orbán memang memintanya.
Orbán juga merupakan sekutu dari diktator Rusia, Vladimir Putin, yang mengandalkan pembelian minyak murah dari Rusia, meskipun UE telah berusaha untuk menjauhkan diri mereka dari Rusia.
Berlawanan dengan sang pendahulu, Magyar menjanjikan hubungan yang lebih baik antara negaranya dengan UE. Dia pun ingin membujuk Komisi Eropa, badan eksekutif UE, untuk mencairkan dana sebesar belasan miliar euro yang dibekukan atas kegagalan dalam menangani korupsi dan menjaga independensi peradilan di Hungaria.
Di dalam negeri, Magyar selama ini membawa gerakannya yang terus berkembang untuk melawan kronisme dan korupsi yang telah mewabah selama bertahun-tahun dalam rezim Orbán.
“Belum pernah dalam sejarah demokrasi Hungaria ada begitu banyak orang yang memberikan suara, dan belum pernah ada satu partai pun yang menerima mandat sekuat ini,” ungkapnya setelah rekor 79,5% pemilih memberikan suaranya di kotak suara.
Magyar telah berjanji untuk membatalkan perubahan era Orbán pada bidang pendidikan dan kesehatan, memberantas korupsi, memulihkan independensi peradilan, dan menghapuskan sistem perlindungan yang membantu memperkaya loyalis partai dan menyia-nyiakan sumber daya negara. Dia juga ingin merombak media pemerintah yang merupakan pendukung Orbán dan Fidesz. (Laurensius Katon Kandela)
#magyar-pm-hungaria #magyar-peter #tisza-partai #orban-viktor #pemilu-hungaria #rezim-orban #kemenangan-tisza #parlemen-hungaria #hubungan-ue #demokrasi-hungaria #korupsi-hungaria #kebijakan-orban #hub